Melati langsung mendekati Yasmin, lalu menggenggam kedua tangan wanita itu tanpa ragu. Dingin. Sentuhan itu terasa asing, tidak seperti biasanya. Bahkan wajah Yasmin pun tampak pucat, seolah seluruh tenaganya habis terkuras oleh luka yang belum reda. Melati menatap dalam mata abu-abu itu, mencoba bertahan di sana, meski sorot kesedihan yang terpancar justru membuat dadanya semakin sesak. “Mba…” suaranya tertahan, napasnya tidak stabil. Jemarinya tanpa sadar mengerat, seakan takut kehilangan satu-satunya harapan yang tersisa. “Aku mohon, tolong jangan hukum Mas Bian seberat ini.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah, sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih lirih. “Aku butuh Mas Bian, Mba … aku lagi hamil muda.” Pelan, tapi pasti, Yasmin melepaskan genggaman itu. Jari-jarinya terurai sa

