Kalimat itu rendah, menekan. Embusan napas gadis tersebut memburu. Panas. Tatapannya seperti busur panah yang tajam, menusuk. “Jangan lupa diri, Kania,” ujar Biantara, berusaha memperingati. “Kamu nggak akan bisa hidup sampai sekarang kalau bukan karena Bia kamu.” Kania sadar. Kata-kata Biantara sepenuhnya benar. Ia tidak mungkin bisa hidup sampai sekarang andai bukan belas kasihan dari Yasmin. Wanita itu yang selalu menghalau Hans untuk menghukumnya dengan cara keji. Bahkan, terakhir kali Yasmin sampai drop karena memikirkan tentang kondisinya. “Jangan lupa, Kania. Kamu bukan siapa-siapa di mata kami. Kamu hanya spesial di mata Yasmin, Bia kamu.” Kenyataan itu menikam jantung Kania. Sakit. Terlalu sakit. Kalimat yang dilontarkan Biantara sedari tadi cukup untuk mengunci bibirnya y

