Bab 73-2

709 Kata

“Masuk.” Perintah Biantara terdengar otoriter. Kania menggeleng pelan. Ia tak ingin merusak kehangatan yang ada di dalam. Gadis itu tahu—kehadirannya hanya akan memantik kemarahan Papa. “Aku pulang aja, Om.” “Nggak ada kata pulang sebelum acara selesai.” Kalimat itu terdengar mutlak, seperti keputusan yang tak memberi ruang untuk ditawar. Tubuh Kania seketika menciut. Dadanya terasa sesak, penuh oleh perasaan yang tak mampu ia rangkai dengan kata-kata. “Om masuk duluan,” ucapnya lirih. “Aku mau ke belakang.” Kania langsung berlalu begitu saja. Ia berlari kecil. Bahkan, ketika bahunya menubruk d.a.da Biantara, gadis tersebut memegangi dan mengabaikannya begitu saja. Biantara masuk, kemudian menyapa kakaknya, lalu satu per satu keponakannya. Ia merangkul Elang dan duduk di sampingnya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN