“Mama nggak akan bisa didik anak Mba.” Suara itu terdengar dari Biantara. Pria tersebut berbicara tegas dan lantang. Ia melirik ke arah Ranti yang duduk di sampingnya. “Maksud kamu gimana, Bian?” Yasmin bertanya tak paham. “Anak Mba itu keras kepala, pembangkang. Dia nggak akan bisa diasuh oleh sembarang orang.” Kania tersenyum sinis. Perkataan Biantara membuatnya sadar—pria tersebut sedang berusaha mengendalikan Yasmin. “Lalu bagaimana? Tinggal sendiri di rumah ini nggak aman bagi anak gadis seperti Kania. Mba juga butuh orang dewasa buat mendampingi dan mendidik dia.” Kania tidak menimpali. Ia biarkan semua keputusan diambil oleh pihak orang tua dan keluarga papanya. Gadis tersebut sudah terlanjur hancur. Sekali pun ia menolak atau membela diri, tidak akan mengubah keputusan

