Santai gadis itu kemudian melipat kedua tangannya di d.a.da. Satu kakinya menyilang, menopang kaki yang lain, sementara tubuhnya bersandar santai di dinding lift—sikap yang semakin menantang amarah Biantara. “Shut up!” Makin dikekang, makin keras pula hati Kania. Ia tetap mendebat pamannya yang sudah mulai tersulut emosi. “Entah dosa apa yang dilakukan Tuan Hanggara yang terhormat di masa lalu, sampai-sampai melahirkan dua putra j*****m seperti Om dan Papa.” Sindiran tajam itu keluar ringan dari mulut Kania. Ia tidak peduli bagaimana Biantara nanti mengeluarkan amarah padanya. Satu tangan lelaki itu lantas mengepal, bersiap memukul. Tiap gerakannya disadari oleh Kania. Ia melirik ke bawah, melihat jelas bagaimana otot punggung tangan pamannya menonjol. Detik berikutnya .... Bugh!

