Gadis keras kepala, nakal, dan liar itu kini terlihat rapuh. Begitu jauh dari sosok yang setiap hari ia hadapi. Bukan pembangkang, bukan pemantik amarah. Hanya seorang anak yang kelelahan menahan luka. Biantara tidak bergerak. Ia membiarkan dirinya berdiri di sana, mengamati tanpa ikut campur. Namun satu kesimpulan terbentuk jelas di benaknya: titik terlemah Kania bukan hukuman, bukan ancaman—melainkan mamanya, Yasmin. Ibunya. Keheningan kembali menguasai ruang di antara mereka. Sampai akhirnya, sebuah sentuhan ringan mendarat di bahunya. Biantara menoleh. Elang telah berdiri di sana, menatapnya dengan raut yang lebih tenang, namun penuh permohonan. “Elang mau bicara sama Kak Kania. Sebentar.” “Boleh.” Biantara akhirnya mundur. Ia berikan waktu pada Elang untuk bicara empat mata deng

