Tubuh Ica terasa melayang di udara. Pundak dan lipatan kakinya di pegang dengan erat agar tidak terjatuh. Wajahnya yang tepat berada di d**a bidang yang lebar membuat paduan aroma woodsy dan earthy menerobos indera pencium Ica dengan bebas. Menghantarkan rasa nyaman dan mengaktifkan feromon dalam waktu bersamaan.
"Apa ini Daniel?" batin Ica.
"Semoga saja Daniel."
Ica otomatis tersenyum membayangkan tubuhnya sedang di peluk cowok ganteng the most wanted and popular boy di SMA Taruna Jaya. Berarti misinya tidak sia-sia.
"Aktingnya yang natural dikit napa!" bisik orang yang menggendong di telinga Ica. Nafas hangat orang itu membuat Ica meremang tersengat aliran listrik yang menjadikan bulu kuduknya berdiri. Tapi tunggu!
Itu seperti suara yang sangat sangat sangat Ica kenal! Dan... sejujurnya aroma yang Ica hirup juga seperti tidak asing di inderanya.
Ica mengintip dari sebelah sudut mata yang memicing.
Ketika cahaya melewati lensa mata, kelopak mata yang mengerut membatasi jumlah cahaya yang masuk, sehingga penglihatan menjadi lebih fokus. Nampak sempurna senyum dari bibir tebal makhluk astral yang tadi melemparinya kodok, Rakha. Astaga!
'Kodok?'
Sontak Ica terlonjak, tubuhnya menggelinjang kaya belut kena tangkap.
"Ssstt jadi pura-pura pingsan nggak sih lo?"
Ica diam lagi. Benar juga, dia harus akting sampai ada tulisan the end di balik layar merah. Seluruh siswa kelas XII yang masih berkumpul di lapangan juga fokus melihat aksi heroik sang pembuat onar, Rakha. Dia tidak punya pilihan lain selain... pingsan.
"Cepat bawa ke UKS Rakha, kejang-kejang itu si Marisa!"
Pak Hendra sepertinya khawatir dan mengikuti langkah Rakha di samping kanan. Sementara di samping kiri terdengar suara serak Karin yang setia menemani sahabatnya sambil menahan tangis.
"Sabar ya Ca, yang kuat! Lo jangan tinggalin gue, lo masih ada utang sama gue. Lo juga belum ngasih voucher belanja waktu lo kalah taruhan. Lo nggak boleh mati pokoknya!"
Ica mendengus tertahan.
'Si Karin sebenarnya sedih apa seneng sih! Pake buka aib utang piutang sekalian nyumpahin cepat mati segala.'
Rakha menahan tawa melihat akting buruk Ica dan sahabatnya yang nggak tau tempat.
Setibanya di UKS, Bu Henny yang berjaga menghampiri dengan raut wajah khawatir melihat mata terpejam, tubuh nampak tak berdaya dan baju setengah basah siswinya.
"Ya ampun Marisa, kenapa bisa pingsan?"
"Kepeleset trus kecebur di parit."
Pak Hendra yang menyahut. Raut khawatir Bu Henny kini berubah jadi senyum malu-malu ketika bersitatap dengan 'gebetan' yang baru saja dia sadari keberadaannya.
"Saya serahkan ke Bu Henny ya, saya harus kembali mengawasi anak-anak yang lain di lapangan."
"I iya iya Pak Hen, se serahkan saja sama saya," Bu Henny mengerjap-ngerjap menahan nafas melihat sosok tinggi nan gagah di depannya.
Pak Hendra kemudian beralih menatap Rakha dan Karin.
"Kalian berdua juga segera kembali ke lapangan!"
"Iya Pak," kata Rakha yang diangguki Karin.
Pak Hendra kembali melihat ke arah Bu Henny. Mengangguk ramah sembari tersenyum manis sebelum berbalik menuju lapangan.
Bu Henny memegang dadanya yang tetiba disesaki dengan kebahagiaan. Semu merah di pipi dan senyum terkembang sempurna. Kakinya serasa lemah untuk berpijak. Bu Henny terduduk di kursi di balik meja kerjanya dengan mata memandang ke atas. Gambaran masa depan bersama Pak Hendra seolah terpampang jelas di pelupuk mata.
'Haahhhh'
Ica, Rakha dan Karin kompak menghembuskan nafas kasar sembari merotasi bola mata mereka. Rakha kemudian merebahkan tubuh Ica di ranjang kecil dalam UKS.
Begitu merasa situasi aman. Ica gegas bangun dan memukul-mukul tubuh Rakha dengan kekuatan penuh.
"Rakha bego, kurang ajar, gue aduin Bunda lo ya!" katanya ngos-ngosan. Sementara Rakha hanya terkekeh.
"Bantuin gue Rin, jangan melongo aja lo!" perintahnya.
Namun Karin diam saja. Kenyang melihat aksi pukul-pukulan Ica-Rakha yang hampir tiap hari. Dia menjentikkan kotoran di kuku sambil berucap, "males..."
'Sialan emang punya sohib.'
"Ampun Ca, ampun! Tuh kodok kodok!" tunjuk Rakha sembarang sambil menghindari serangan Ica.
Mendengar kata 'kodok' dari mulut Rakha, Ica sontak melompat ke tubuh Rakha. Kakinya melingkar di pinggang cowok tinggi itu. Tangan berpegangan erat di bahu kokohnya. Takut-takut melihat ke arah bawah kalau-kalau si kodok memang ada di sekitarnya. Rakha juga tidak protes di gelendoti Ica, dia malah menopang tubuh Ica agar melekat tidak merosot.
"Mana kodok nya mana?" Mata Ica awas mengamati.
"Sudah jadi jenazah habis lo injak sampai gepeng tadi. Nggak sempat berubah jadi pengeran kodok dia keburu koit," sahut Rakha santai.
Sejenak Karin menggaruk pelipis melihat adegan gendong-gedongan ala koala Ica-Rakha. Tapi dia mencoba berpikir positif. Ica dan Rakha adalah teman sejak kecil. Tetangga pula. Jadi, mungkin saja hal seperti ini biasa bagi mereka. Karin pun mendudukkan tubuhnya di ranjang kecil tempat Ica tadi sambil menonton drama live adegan 'takut kodok.'
"Lo jangan bohongin gue Rakhadal!" sungut Ica sambil melotot ke wajah Rakha. Apapun yang bersangkutan dengan hewan kecil bermata melotot itu, akal waras Ica mendadak blank.
"Emang tadi ada di situ!" Rakha menunjuk dengan bibir dan dagunya dengan wajah polos. Ica semakin berpegangan erat di bahu Rakha menempelkan tubuhnya.
Dengan posisi ini, sekarang wajah mereka persis berhadapan. Hening sejenak, hanya nafas ngos-ngosan Ica yang nampak mulai teratur, hingga suara lembut seorang siswi menginterupsi mereka.
"Permisi Bu, ada obat maag sama minyak kayu putih?"
Bu Henny yang sejak tadi melamunkan senyum Pak Hendra tersadar. Dia kemudian berdehem dan ingin menjawab dengan ramah. Namun sebelum menjawab, suara siswi yang tadi bertanya kepadanya kembali terdengar. Dengan nada terkejut, tidak menyangka dan ... marah.
"RAKHA!"
Kedua bola mata Rakha melotot sama terkejutnya. Naima kekasihnya berdiri di ambang pintu UKS menatap nanar ke arahnya dengan posisi yang sedekat ini dengan seorang gadis. Siapa yang tidak berpikir macam-macam coba. Meski dia tidak hanya berduaan.
Seketika ide cemerlang terlintas di otak mungil Ica untuk membalas perbuatan Rakha. Tanpa babibu Ica mendaratkan bibirnya di pipi Rakha yang tepat di depannya karena memang cowok itu sedang menoleh ke arah samping menatap pintu.
'Cup'
Bola mata Rakha semakin melotot persis mata belo si kodok menoleh ke depan menghadap Ica. Bu Henny dan Karin bahkan menganga saking tidak percaya dengan tindakan agresif Ica yang biasanya seperti kucing pemalu jika kontak fisik dengan lawan jenis.
"Marisa! Apa-apaan kamu!" hardik Bu Henny. Tapi Ica seperti tuli, dia senang melihat ekspresi panik Rakha.
Mata Ica berkedip-kedip lucu. Gigi kelincinya terpampang nyata di depan Rakha. Sangat menggemaskan sekaligus menyebalkan. Membuat Rakha belingsatan.
"Selamat jadi jomblo kembali Rakhadal..." bisik Ica lembut tepat di depan wajah Rakha.
"RAKHA!!!"
"Naima, gue...."
"Stop, gue nggak mau denger apa-apa lagi. Mulai sekarang kita PUTUS!"
Naima menghentak kaki dan berbalik ke arah kelasnya meninggalkan sang mantan kekasih yang baru tiga bulan ini dipacarinya.
Rakha melepaskan tubuh Ica dan berjalan cepat keluar ingin mengejar Naima. Namun sebelum menghilang di balik pintu Rakha berbalik dengan marah dan menunjuk Ica.
"Awas lo ya Ca! Tunggu pembalasan gue!"
"Gue tunggu, gue nggak takut!"
Rakha menarik nafas kasar. Melotot menunjuk wajah Ica dan mengarahkan tangannya ke leher sendiri mengancam Ica. Lalu dia berbalik mencari Naima. Namun sebelum dia melangkah, Rakha memegang pipinya bekas ciuman Ica tadi. Dia merasa pipi bahkan seluruh tubuhnya sangat panas dan menggosok bekas itu pelan. Rakha menyungging senyum tipis dengan wajah memerah malu.
"Hohohooo Hihihii Hahahaa! Rasakan pembalasan Nyi Blorong!"
Itu tawa puas Ica penuh kemenangan melihat kepergian Rakha yang tunggang langgang mengejar Naima.