Ketika hati sudah terikat, sulit untuk menghilangkan rasa cemburu. Suara ramai terdengar, mengiringi dosen yang keluar dari kelas. Semua tampak merasa lega. Tak terkecuali tiga laki-laki yang salah satunya sedang mengacak rambutnya sendri. “Ta lo nggak bosen makan permen karet mulu,” celetuk Evan saat melihat Atta membuka bungkus permen karet untuk kesekian kalinya. Dia heran, selama dia mengenal Atta benda yang jarang dia lepaskan atau lebih tepatnya tak pernah menghilang dari kehidupannya adalah permen karet. Dimanapun dan kapanpun Atta selalu membawa permen karet. Dia jadi curiga kalau Atta maniak permen karet. “Masalah buat lo.” Atta menawab dengan ketus, dia kembali membuka bungkus permen karet dan langsung memakannya. Menggabungkannya dengan permen kar

