02 Bertemu lagi

1733 Kata
Ketika takdir sudah bergerak, pertemuan pun tak bisa terelakan. “Elvy.”  Elvy mendengkus sebal. Dia menurunkan novel yang tengah dibaca, sembari menatap jengah Maura. Maura meletakkan tasnya dan langsung menjatuhkan diri di samping sahabatnya yang masih fokus pada bacaannya. “Lo kenapa nggak masuk kelas?” tanya Maura, tangannya membalik sedikit novel yang dibaca Elvy untuk melihat judul novel itu. Elvy  menepis tangan Maura pelan, membuat wanita itu manyun “Gue telat masuk.” Elvy berdecak, matanya mencari kalimat yang tadi dia baca. “Telat bangun lagi?” Maura menunjuknya, sambil memincingkan mata. “Gara-gara drama korea?” tambahnya. Dan dia geleng-geleng kepala saat Elvy mengangguk. Selama dia sahabatan dengan Elvy, dia jarang mendengarkan alasan telat masuknya Elvy bukan karena menonton drama  korea atau konser boy band kesukaannya. Pasti karena dua hal itu, bukan pasti melainkan wajib. Dia heran apa sih bagusnya begadang buat nonton drama korea, kan lebih baik tidur. “Bukan karena itu doang gue telat. Tapi gara-gara cowok gila yang tiba-tiba narik gue pas mau nanik angkot.” Kini emosi Elvy yang sudah berhasil dia redamkan, muncul kembali saat mengingat kejadian dimana dia hampir ingin membunuh cowok asing itu. “Cowok gila?” tanya Maura. Kini rasa pensaran Maura sudah timbul, karena ucapan Elvy itu. Ini adalah alasan yang jarang dia dengar keluar dari bibir Elvy, apalagi itu berkaitan dengan cowok, dan dia nggak mungkin melewatkannya. “Maksud lo, cowok yang rada-rada gitu atau gimana?” Elvy menutup novelnya, hilang sudah mood dia membaca “Sebelas dua belas kayak gitu deh. Intinya dia cowok gila. Masa ya, gue dipeluk tiba-tiba di tempat nunggu angkot, dan paling parah dia nyium pipi gue dan bilang gue pacar dia, gila kan,” jelasnya sambil mengubah posisinya menjadi duduk. “APA!” teriak Maura histeris yang langsung mendapat lemparan bantal dari Elvy. “Nggak usah teriak gitu juga ih.” Elvy mendelik sebal kearah Maura, bisa gawatkan kalau bi Inah denger suara Maura, dan kalau denger bisa dipastikan cerita itu akan terdengar oleh kakak tercintanya yang bisa membuat bencana untuk dirinya sendiri. Maura nyengir sambil mengangkat tangannya membentuk tanda ‘V’ “Ya Maaf. Gue kaget banget soalnya. Tapi serius loh, tuh cowok cium pipi lo. Berani bener.” Elvy menghendikkan bahunya, “Mana gue tahu. Gue kenal aja kagak. Dan lo tahu dia ngelakuin itu buat ngehindarin cewek yang menurut gue suka sama dia atau pacarnya atua apalah gue nggak tahu. b******k kan dia.Mana dia langsung ninggalin gue gitu aja.” Maura melongo dan langsung bertepuk tangan, “Wah cowok itu keren abis. Gue jadi pingin ketemu sama cowok yang lo bilang itu.” Elvy menoyor kepala Maura, “Keren habis darimananya, b******k baru iya. Kalau gue ogah mau ketemu sama dia lagi. Cukup sekali aja gue ketemu, kedua ketiga kalinya makasih.” Ogah banget dia ketemu sama cowok gila itu, kalau dia ketemu bisa-bisa dia darah tinggi saking ingin mencekik leher cowok itu. “Hati-hati loh, benci jadi cinta.” Maura menaik turunkan kedua alisnya dan senyumnya langsung sumringah saat mengingat sesuatu, “Ah nggak apa-apa, benci jadi cinta supaya lo bisa ngerasain namanya cinta,” ucapnya senang. Membayangkan Elvy akan  namanya cinta sudah sukses membuat dia bahagia. Elvy bergidik, lantas menggeleng-geleng cepat, “Amit-amit. Nggak mau gue jatuh cinta sama dia. Semoga aja nggak.”  Maura tertawa mendengarnya. Elvy yang melihat Maura bahagia mendengus, apa hebatnya sih namanya cinta sampai Maura mendoakan dia seperti itu “Ngomong-ngomong, lo ngapain kesini? Mau ngajakin gue kemana?” Elvy menatap Maura dengan tatapan menyelidik. Maura merengut, pura-pura tersinggung dengan ucapan Elvy, “Emang gue nggak boleh gitu main kerumah sahaba gue sendiri.” “Dih. Cepet deh ngomong sebelum gue tambah mager.” “Temenin gue ketemuan yuk,” ajak Maura sambil mengedap-ngedipkan matanya. Elvy berdecak, disilangkan tangannya di depan d**a, “Sama anak mana sekarang?” Proses tanya jawab pun dimulai. Maura yang menyadari itu langsung menegakkan tubuhnya, siap menjawab deretan pertanyaan dari sahabatnya. “Anak satu kampus kok, beda  jurusan.” “Jurusan apa?” “Manajemen,” “Ikut organisasi?” Maura terdiam, mengingat apa saja yang diikuti oleh cowoknya “Ikut, organisasi olahraga.” “Gue tahu?” Inilah pertanyaan inti Elvy, dari beberapa pertanyaannya. Bukan maksud ingin tahu urusan Maura, tapi dia tidak ingin Maura  seperti yang wanita itu pernah rasakan patah hati.  Perasaan yang menurutnya sangat menyakitkan, dan sulit untuk dilupakan.  Kalau dia kenal dengan cowok yang menjadi pacar Maura, kemungkinan dia bisa menebak sifat asli cowok itu. “Kayaknya nggak deh,” jawab Maura yang membuat Elvy menghel nafas. Melihat gelagat Elvy yang akan menolak, Maura buru-buru menambahkan “Tapi, gue yakin dia nggak seperi mantan gue yang udah-udah.” “Ck, lo lupa kalau kalimat itu juga yang lo bilang ke gue pas sama Toni.” Skakmat, Maura mati kutu. “Oke gue ikut, tapi awas aja lo nggak mau dengerin kata gue lagi. Nggak bakal gue mau nemenin lo ke pacar lo selanjutnya.” Elvy bangkit dari ranjanganya berjalan kearah kamar mandi yang ada dalam pojokan kamarnya. Senyum Maura melebar, dia mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Dia tahu Elvy tak akan tega membiarkan dia  pergi sendiri untuk ketemuan dengan cowok. Karena dia tahu Elvy sangat peduli dengannya, begitu juga dengan Maura yang sangat peduli dengan Elvy.                                                                                                 ***** “Gimana, masih lama?” Elvy menyeruput minumannya sambil memperhatikan Maura yang baru menutup telponnya. “Lagi bentar kok, minum lagi gih gue yang traktir.” Elvy menggeleng, “Nggak deh makasih, kenyang gue,” tolak Elvy sambil menepuk perutnya sendiri. Sebenarnya dia menanyakan itu karena dia bosan menunggu, sudah hampir satu jam cowok yang mereka tunggu belum kelihatan batang hidungnya, untung Maura sahabatnya kalau tidak dia langsung pergi dari sana, dan juga dia penasaran dengan cowok Maura kali ini. Maura terkekeh, “Gimana lo nggak kenyang, lo udah minum 3 gelas Capuccino Coffee, dasar gentong air.” Ledeknya diselingi dengan gelengan kepala. “Dih, biarin sih. Yang penting kan nggak bikin gemuk, wekk.” Elvy menjulurkan lidahnya, menggoda balik Maura. Bibir Maura sudah terbuka untuk membalas ucapan Elvy, saat dirasakan ada yang menepuk kepalanya. Wanita itu mendongak dan tersenyum lebar “Hai,” sapanya pada cowok yang memakai kaos berwarna hitam itu. “Hai, udah lama ya?” “Lumayan, duduk Van.” Maura mempersilahkan Evan dan temannya untuk duduk di depan dia dan Elvy “El, kenalin ini cowok gu.. lah El lo kenapa?” tanya Maura dengan alis bertaut bingung dengan reaski Elvy yang terlihat kesal. Elvy menggeleng lantas membuang mukanya, mengambil minumannya. Kenapa harus  ketemu sama si gila sih, runtuknya yang masih dengan minumannya. “Temen kamu kenapa?” tanya Evan dengan tatapan yang terlihat lagi penasaran. Maura menggeleng, “El, lo kenapa?” Tangannya mengguncang pelan pundak Elvy, membuat wanita itu mau tak mau menoleh. “Nggak apa-apa. Ini cowok lo Ra?” tanya Elvy sambil mengarahkan pandangannya pada Evan dan saat pandangannya bertemu dengan si gila dia langsung mendengus kesal. Kota ini luas banget, kenapa harus ketemu disini dan kenapa cowok Maura harus temenan sama si gila sih. Evan mengulurkan tangannya pada Elvy “Iya gue cowok Maura, Evan.” Evan memperkenalkan dirinya dengan sopan dan senyum yang tipis. “Dan ini sohib gue Eldwin.” Lanjutnya memperkenalkan cowok yang sangat dibenci Elvy. Elvy tersenyum kecut sambil meraih tangan Evan, “Elvy.” Dan langsung menariknya tanpa berminat menyapa Eldwin. Males banget nyapa cowok gila itu, daripada dia nyapa lebih baik dia pergi dari sini jika tidak mengingat Maura. “El, kenalan napa. Jangan sok kaku gitu.” Evan menyenggol Eldwin, agar sahabatnya itu mau memperkenalkan dirinya. Eldwin yang sejak tadi memfokuskan dirinya pada wanita yang kini memalingkan wajahnya, tersenyum tipis. Ternyata pertemuan ini nggak buruk juga, pikirnya. “Eldwin. Panggil gue El.” Eldwin memperkenalkan dirinya dengan pandangan yang terus fokus pada Elvy. Elvy yang sadar diperhatikan sudah mengepalkan tangannya, gatal ingin menonjok Eldwin. Evan dan Maura yang sadar akan situasi langsung saling melemparkan pandangannya dan tersenyum lebar, sepertinya hari ini bukan cuman pertemuan mereka berdua tapi pertemuan untuk kedua sahabatnya. “Nama panggilan lo juga El. Sama kayak panggilan Elvy dong, dia juga dipanggil El.” Pekik Maura histeris yang langsung mendapatkan pelototan Elvy. “Kayaknya kalian jodoh deh.” Lanjutnya yang mendapat persetujuan Evan. Cowok itu bahkan tertawa tanpa suara sambiil melirik ke arah “Maura,” tegur Elvy. Sahabatnya ini emang pingin dilakban ya mulutnya nggak bisa diem.  Dan apa itu tadi jodoh? Dih ogah banget dia jodoh sama si gila. “Kan bener El. Gue salah ngomong apa coba.” Maura menampilkan wajah polosnya, seakan tak tahu menau kalau Elvy sekarang sudah ingin meledak karena ucapannya. Dia heran kenapa wanita itu sangat membenci Eldwin, orang yang pertama kali mereka temui. Kecuali ini bukan pertama kalinya untuk Elvy dan hal itu sukses membuat dia samakin penasaran dengan keduanya. “Salah banget. Gue nggak mungkin jodoh sama dia.” Akhirnya emosi Elvy keluar, dia memberikan tatapan tajam kearah Eldwin yang masih menatapnya dengan pandangan tanpa ekspresi. “Nggak boleh gitu El, kalau Eldwin beneran jodoh lo gimana. Kan kita nggak tahu, ya kan sayang.” Maura meminta persetujuan pada Evan yang tentunya mendapatkan persetujuan langsung. Tak tega sebenarnya Maura mengggoda Elvy, apalagi wajah Elvy memerah saking kesalnya tapi kalau ini cara untuk mengetahui kenapa Elvy terlihat membenci Eldwin nggak ada cara lain. “Bodo amat pokoknya gue nggak mau jodoh sama dia.” Elvy menunjuk kearah Eldwin. Dalam hatinya dia sudah menanamkan bahwa bagaimanapun caranya dia tidak mau bertemu dengan cowok itu lagi, cukup untuk hari ini dan kemarin. Eldwin meletakkan tangannya di meja, menopang kepalanya “Kenapa lo nggak mau jodoh sama gue?” tanyanya dengan nada tenang. Bukannya dia tidak tahu apa yang meyebabkan wanita  yang bernama Elvy itu sangat tidak menyukainya, hanya saja dia ingin mendengarkan langsung dari bibir Elvy. “Lo...” Elvy tak percaya bahwa cowok gila itu melupakan kejadian yang bahkan belum 24 jam, apa kejadian itu menurutnya tak penting atau cowok itu emang b******k. Dan dia lebih meyakini alasan terakhir kalau cowok itu b******k. “pokoknya gue nggak mau ketemu sama lo, dimanapun dan kapanpun itu gue nggak mau, dan gue nggak mau jodoh sama lo.” Tegasnya dan bangkit berdiri meninggalkan Maura yang memanggil namanya. Drama? Terserah dia mau bilang drama, dia lebih baik pergi dari sana sebelum dia benar-benar hilang akal menahan emosinya. Percuma tempat bagus, tapi hati tak nyaman itu menyiksa diri namanya, dan Elvy tidak mau itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN