Derapan langkah terdengar memasuki rumah. Amarah terlihat di wajah laki-laki yang baru memasuki rumahnya. Merah, rahang mengeras, bahkan matanya sudah menggelap. Dadanya naik turun. Menandakan emosinya sudah tidak bisa di tahan. Dia membuka pintu rumah dengan kasar. Langkahnya langsung menuju pada laki-laki yang ada sedang bercengkrama dengan mamanya. “Bang Eldwin!” pekik gadis kecil yang langsung berlari ke arah abang tirinya. Tangan gadis itu terangkat, menunjukkan sebuah buku gambar. Menampikan beberapa gambar yang masih terlihat acak. Gadis itu mendekat, berdiri di depan Eldwin, menunjukkan gambarnya dengan seangat. “Bang Eldwin, liat. Putri gambar Bang Eldwin, Papa, Mama, sama kak Tasya.” Dia berujar dengan riang, tanpa tahu bahwa Eldwin sudah ingin membentaknya sekara

