26

3061 Kata

Makin hari perasaan ini, semakin besar. Elvy terus memanyunkan bibirnya. Wajahnya ditopang dengan tangan kanan. Matanya menatap Tama dengan malas. Ini sudah hampir setengah jam Tama memberikan ceramah plus interogasi, dan belum selesai juga. Ceramahnya bahkan melebihi Ayah mereka. Meski sebenarnya sebelas dua belas sih. Bentar kenapa jadi membandingkan Tama dengan Ayahnya?             “Bang, udah belum ceramahnya? Elvy laper.  Tadi belum dikasih makan sama abang,” rengek  Elvy dengan muka yang dibuat memelas mungkin. Ayolah, tadi pagi dia dipaksa untuk mengikuti Abangnya itu, dan berakhir dengan drama dia pulang dengan tarikan paksa. Ya, meski awalnya dia ingin pulang juga karena kesalnya.             “Kamu itu ya, kalau dikasih tahu abang itu dengerin.” Tama melempar bantal ke arah  El

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN