Aku berjalan menghintari wilayah ini seorang diri, melihat-lihat ladang jagung yang lumayan luas, pesawahan yang terhitung saat itu ada lima petak, ladang gandum, beberapa ternak kambing dan bebek. Menyenangkan, sangat menyenangkan ketika aku kembali melihat anak-anak gadis seusiaku, tunggu.. ralat! Seusia Cassandra, karena kurasa aku sudah sangat tua mengingat aku tertidur beku cukup lama saat itu.
Aku melihat mereka para gadis tengah tertawa sambil menjemur beberapa kain serta pakaian “Adrea!” sebuah panggilan membuatku menoleh kesalah satu gadis yang ada di sana dan itu adalah Cassandra. Bibirku praktis tersenyum ketika dia berlari menghampiriku “bagaimana keadaanmu?” tanyanya, aku tersenyum dan kuanggukan kepalaku “aku baik, kurasa minumanmu saat itu sangat manjur” jelasku padanya yang kini tertawa dan mengangguk “ah, maukah kau ikut dengan kami? Kami akan menangkap ikan di sungai” tawaran Cassandra saat itu langsung kusetujui, dan melihatnya bereaksi dengan amat senang membuat hatiku ikut merasa senang.
Aliran air yang terdengar membuatku segera mempercepat langkah demi menatap sungai jernih yang indah diwilayah ini, kenapa kubilang jernih? Karena dapat dengan jelas kulihat bebatuan sungai serta ikan-ikan yang berenang melawan arusnya di situ, “ayo! Kita tangkap yang banyak” kuanggukan kepalaku menanggapi ucapan Cassandra saat itu.
Satu, dua hingga empat ikan berhasil kutangkap dengan tangan kosong, tidak mudah memang. Membutuhkan usaha sangat keras dan tenaga yang ekstra hingga berkali-kali aku terjerembab masuk kedalam sungai ketika kegesitanku terkalahkan oleh gesitnya mereka yang berenang-renang melawan arus yang lumayan deras itu.
“dapat lagi!!” teriaku antusias dan mereka bertepuk tangan hingga ber’wah’ria karenanya, keantusiasanku seketika lenyap kala pandangku menatap kearah tebing yang jauh diujung sana, tebing yang kurasa cukup tinggi dan jauh sekali jaraknya dari sungai ini hingga pikiranku kembali terlempar pada memori ketika aku terjatuh dari jurang dan kuyakini tenggelam dan terbawa arus hingga ke wilayah ini.
Perasaanku menjadi kalut karenanya, perasaan rinduku muncul begitu saja dan tak dapat kulupakan “Adrea, kau baik-baik saja?” kedua mataku menatap Cassandra, kusorotkan mataku dengan perasaan yang kalut ini dan kuberanikan untuk bertanya padanya “apakah ini adalah tempat dimana kau menemukanku? Cassandra” kutatap ia yang kini balas menatapku, dan cukup bagiku melihatnya mengangguk kecil seperti saat ini untuk mengetahui jawabannya.
…
… …
Aku berjalan dengan diam, berjalan melewati ladang gandum serta lapang luas. Dalam diam pikiranku penuh dengan rasa khawatir serta rasa rindu pada mereka, orang-orang yang menemukanku pertama kalinya.
Terus saja berjalan tanpa henti dan tanpa arah, ketika akhirnya sebuah bahu yang cukup keras menubrukku dan mampu menghentikan langkahku saat itu.
“Bukankah sudah kukatakan untuk beristirahat?” pandangku beralih menatapnya, ya… aku sedikit terkejut ketika bahu yang sempat kutubruk adalah bahu milik Rason yang kini berdiri tepat dihadapanku seraya menatapku, aku tersadar dari lamunanku dan segera kugelengkan kepalaku “aku sudah cukup lama beristirahat” “apa kau yakin? Tertidur selama satu tahun tidak mungkin membuatmu kuat seutuhnya” ucapannya membuatku segera menegakkan bahuku dan membusungkan dadaku “aku bisa merasakan seluruh tubuhku dan aku dapat mengendalikan semuanya tanpa kehilangan satupun tenagaku, bahkan tadi aku berhasil menangkap empat ikan!” suaraku meninggi, berusaha meyakinkannya yang kini menaikan satu alisnya dan menatapku dengan ragu sebelum akhirnya mengangguk setelah Cassandra beserta anak gadis lainnya datang mengatakan bahwa tubuhku membaik.
“syukurlah jika benar begitu” “tunggu!” saat itu aku meraih lengannya dan menghentikannya yang hendak pergi entah ke mana, hingga ia kembali menghadap serta menatapku. Para gadis dan Cassandra berpamit terlebih dahulu untuk memasak dan pergi meninggalkan kami berdua disana “ada apa?” tanyanya, kedua mataku kini beralih menatap rerumputan hijau yang indah dengan bunga-bunga kecil tumbuh di sana, aku menggigit bibir bawahku dan bahkan aku sempat menghela nafasku karena ragu “katakanlah!” kutatap wajahnya yang kini menatapku dengan sabar, seolah dia tau bahwa aku tengah ragu dengan apa yang akan kuucapkan hingga akhirnya kuberanikan diri mengucapkan “bolehkah aku pergi?”.
Oke.. mungkin itu terdengar seperti pertanyaan dan bukan permintaan, aku merutuki diriku yang sempat memakai kata ‘bolehkah?’ yang seharusnya ‘aku ingin’ dan itu benar-benar perkataan yang salah karena kini ia mengernyitkan dahinya dan bertanya “ke ??” kembali kuhela nafasku dengan ragu “jadi sebenarnya apa yang kau inginkan?” kedua mataku kini menatap matanya yang juga menatapku dengan eum… kurasa lebih ke ‘seseorang yang ingin memahami apa maksud dari perkataanku’.
“aku ingin kembali, aku merindukan mereka dan mereka juga pasti mengkhawatirkanku” jelasku padanya “apa kau yakin?” kini kukerutkan keningku mendengarnya “apa maksudmu?” tanyaku “apakah mereka benar mengkhawatirkanmu? Kurasa mereka menganggap dirimu sudah tewas karena terhanyut di sungai, dan lagi kau pernah mengatakan padaku bahwa kau terjatuh dari jurang bukan?” aku terbungkam ketika ia berucap seperti itu, ya… apa yang ia katakan mungkin saja benar, mungkin mereka menganggap diriku sudah tak terselamatkan lagi mengingat aku terjatuh kedalam jurang yang dasarnya saja tidak dapat dilihat, namun aku benar-benar merindukan mereka dan terlebih aku merindukan Minor serta Julia, mereka adalah orang yang sangat berharga bagiku.
Kesunyian menghintariku dan dirinya saat itu, selain dari suara angin serta kambing dan bebek.. tak ada suara lain yang aku ataupun dia keluarkan saat ini hingga akhirnya aku menoleh saat ia menghela nafasnya seraya bertanya “apakah kau tau, dimana posisi mereka?” pertanyaan yang kembali masuk ke dalam akalku dan mampu membuatku kembali terdiam.
Aku seperti orang yang ingin pulang namun tidak tau arah yang pasti. Seperti seekor itik buruk rupa yang tersesat. Kugelengkan kepalaku dengan lemas “tidak” sambungku. Yang kudapati darinya saat ini hanyalah sebuah helaan nafas dan gelengan kepala, aku mendengus pelan melihatnya seperti itu… entahlah, hanya tidak suka saja dengan tindakannya tersebut.
Ia menyeringai seolah mengejekku dengan seringaiannya ia berkata “jadi, kau akan pergi tanpa mengetahui titik mereka? Kh… Konyol” suaranya terdengar amat meremehkan ditelingaku, ia juga sempat terkekeh hingga kurasakan wajahku memanas dan membuat warnanya berubah menjadi merah membara.
Aku mendengus dengan kesal menanggapinya, kuakui ternyata ia adalah orang yang cukup menyebalkan bagiku. Meski ya… kuakui ia tampan namun tetap dia menyebalkan.
“hh… lupakan” Kembali kuhelakan nafasku merasa putus asa akan niatku itu dan memilih memutar untuk kembali menuju gubuk milikku, dan berbaring di atas ranjang yang lumayan nyaman bagiku, serta merenung mencari jalan keluar mengenai ‘kemana aku harus mencari mereka?’ atau setidaknya seperti itu.
Langkahku baru saja berpijak pada rerumputan hijau yang indah itu, namun detik kemudian tubuhku tertarik mengikuti tarikan yang Rason lakukan pada lenganku.
“hei..!” baru saja aku ingin mengeluh padanya dan niat itu kembali kuurungkan ketika dia membawaku masuk ke dalam gubuk lainnya yang menyuguhkan sebuah kertas yang terbentang begitu lebarnya dan banyak sekali garis yang membentuk seperti sebuah guratan abstrak berupa warna-warni yang sangat berbeda di atas meja bundar besar itu.
Separuh tidak sadar dengan apa yang kulihat dan separuh bingung dengan kertas abstrak tersebut hingga akhirnya aku bertanya “apa ini?” kutatap dia yang baru saja melepaskan genggamanku dan kini berkecak pinggang serta bergantian menatapku dan kertas itu “peta, ini adalah peta wilayah yang kami buat berdasarkan memori yang kami ingat ketika berburu dan melakukan eum… semacam pencarian wilayah aman”
kutatap ia yang sedikit menggigit bibir bawahnya dan menatapku dengan serius, seolah menyuruhku untuk bereaksi atau setidaknya melihat lebih mendetail peta yang baru saja ia tunjukan padaku.
Aku terkekeh dan menggelengkan kepalaku tidak memahaminya “kau mengatakan bahwa ini peta?” dia mengangguk “ya” jawabnya singkat, kupincingkan mataku menatapnya “lalu kenapa kau memperlihatkannya sedangkan aku tidak tau yang mana wilayahku?” mungkin dia akan mengira aku ini orang i***t, ya… buktinya dia menggeram dan menunjukkan sebuah titik biru didekatnya “ini, adalah wilayah kita saat ini dan ini adalah tempat dimana kau ditemukan” pandanganku kini beralih kepada garis hitam panjang yang ia tunjuk setelah mengatakan bahwa titik biru itu merupakan wilayah kami saat ini “jadi kiranya dimana kau terjatuh, saat itu?” pertanyaannya membuatku kembali menatapnya yang kini menunggu jawaban dariku, atau lebih tepatnya informasi mengenai lokasi jatuhnya diriku.