CHAPTER 10 Setelah bersiap-siap dengan suasana barunya, ia dan ayahnya dengan kendaraan mobil pick up menuju rumah makan favorit Elora. Memasuki bangunan sederhana itu, keduanya bisa mencium harumnya makanan entah dari dapur atau makanan pengunjung yang lumayan ramai. Syukurlah, ada bangku kosong, mereka duduk berhadap-hadapan di sana dan tepat setelah itu seorang pelayan perempuan menghampiri. “Eh, Pak Herman, Elora, pasti pesen kek biasa, kan, ya?” tanyanya, yang langsung dibalas anggukan anak dan ayah itu bersamaan. “Makanan bakalan dateng ASAP, Pelanggan Setia!” Elora tertawa, sementara ayahnya menatap sendu gadis itu. “Maafin Ayah udah bakar novel kamu, ya! Ayah—” Elora memutus. “Elora paham, Yah! Please, jan

