CHAPTER 22 “Saya harap kamu merahasiakannya.” Pak Danendra tersenyum semakin lebar. “Karena baik kamu ataupun saya, ini soal reputasi. Kamu bertanya kenapa saya bisa tahu? Itu karena saya punya CCTV, saya sebar, kita berdua hancur. Saya enggak masalah, sih, tersiksa secara batin maupun fisik karena kamu pasti udah tau kelainan yang saya punya. Tetapi ketahuan, saya siap bunuh diri saat itu juga.” Jantung Elora terasa ingin meledak. “Sampai di situ saja? Ya sudah, cepat sembuh, Nak! Saya ... permisi dulu.” Pak Danendra kembali memakai kacamata, kemudian gigi palsunya sebelum akhirnya kini berjalan keluar, meninggalkan Elora yang pusing tujuh keliling, emosi takut, khawatir, serta segalanya campur aduk. Semua itu te

