Aksa masih menunggu di sana. Pria itu kini menyamar menjadi salah seorang pengunjung cafe, memesan satu americano sebagai alibi agar bisa berlama-lama di sana mengamati sang istri. Tidak ada yang mencurigakan, dua orang wanita dewasa itu hanya mengobrol dengan suara lirih. Membuat Aksa yang duduk tiga meja dari mereka tidak bisa mendengar apapun Aksa segera menutupi wajahnya dengan buku menu saat Aleena menatap ke arahnya dengan curiga. Sepertinya wanita itu sadar jika sedang diperhatikan. “Kenapa?” tanya Selena. “Ah, nggak. Aku merasa kalau laki-laki itu memperhatikan kita dari tadi,” Aleena menunjuk ke arah Aksa dengan dagunya. Selena juga menoleh, mengamati sebentar dan menghela napas. Dilihat dari postur tubuhnya saja ia sudah hapal betul siapa lelaki itu. “Bukannya itu Aksa?”

