Aleena duduk di sana, menunggu editornya datang dan membahas novel keduanya. Ia masih saja merasa kesal dengan keputusan sepihak yang dilakukan oleh pihak perusahaan. Ia marah, karena dirinya tidak dilibatkan sedikitpun dalam proses adaptasi novelnya. Aleena marah, namun ia tidak bisa melakukan apapun. Atau setidaknya belum. Mau bagaimanapun juga ia harus turut andil dalam semua prosesnya. Tidak lama kemudian Mas Ridwan datang menemui Aleena. Pria itu sempat melihat Aleena sejenak sebelum kemudian tertawa kecil. “Ada yang lucu, Mas?” tanya Aleena spontan. Mas Ridwan hanya menggeleng, ia kemudian menyodorkan laptop yang dibawanya, menampilkan naskah yang sebelumnya dikirim oleh Aleena. “Ini, kamu lihat. Ada yang salah nggak sama ini?” katanya. Aleena melihat, membaca sekali lagi tul

