Malam hari rumah terasa begitu sunyi. Tidak ada suara televisi seperti biasanya, hanya terdengar suara jarum jam yang mengisi suasana rumah.
Aleena berguling sekali lagi di atas ranjang. Ia memeluk boneka kucing biru di tangannya dengan erat.
Sebelumnya, setelah ia selesai menyantap mie instant yang dibuatkan Aksa, dirinya berniat meminta maaf secara langsung pada pria itu.
Namun saat Aleena hendak mendatangi Aksa yang kebetulan tengah berdiam di ruang televisi, langkahnya terhenti.
Saat itu Aksa mendapatkan panggilan telepon dari seseorang dan bergegas pergi. Bahkan pria itu mengacuhkan dirinya saat ia memanggil pria itu beberapa kali.
"Dapet telepon dari siapa sih, kayaknya penting banget," gumam Aleena.
Ia kembali membalikkan tubuhnya menjadi telentang, menghadap langit-langit kamar, sebelum kemudian bunyi kendaraan mengalihkan perhatiannya.
Dengan bergegas Aleena mengintip dari jendela kamar. Sebuah mobil hitam tampak terparkir di depan rumahnya.
Aleena tidak mengenali siapa si pengendara karena dirinya memakai topi. Tapi Aleena jelas mengenali seorang lelaki yang baru saja keluar dari mobil tersebut dengan kondisi dipapah oleh pria bertopi.
"Aksa," lirih Aleena.
Dua pria tersebut berjalan ke arah rumah dengan Aksa yang dipapah oleh pria bertopi.
Aleena masih terus memperhatikan keduanya dari dalam kamar hingga dua lelaki itu masuk ke dalam rumah.
Dengan perlahan, Aleena berjalan ke arah ruang tamu. Ia mengintip dari balik tembok ke arah Aksa dan pria bertopi berada.
Tidak ada hal yang mencurigakan, si pria bertopi hanya mendudukkan Aksa yang tampak agak pucat di atas sofa dan berlalu. Aleena berasumsi jika ia hendak ke dapur.
Tidak lama kemudian pria itu kembali dengan segelas air dan memberikannya kepada Aksa.
"Pria itu …. Dia 'kan yang bareng Aksa pas di cafe hari itu?"
Aleena sibuk bermonolog seorang diri sambil berusaha mengingat wajah pria yang tengah bersama Aksa, dan membandingkannya dengan wajah pria yang sempat ia temui saat tanpa sengaja bertemu Aksa beberapa hari lalu di cafe.
Dan pada saat pria tersebut membuka topi yang sejak tadi dikenakannya, Aleena hampir saja memekik.
Pria itu benar-benar pria yang sama dengan yang ada di cafe tempo hari.
"Apa hubungan mereka berdua? Apa jangan-jangan!!"
Aleena membungkam mulutnya sendiri saat pemikiran soal Aksa dan pria bertopi muncul dengan sembrono.
Ia menggelengkan kepalanya saat pemikiran soal apa kiranya hubungan diantara Aksa dan pria bertopi tersebut.
Sepertinya keberuntungan tidak sedang memihak Aleena pada saat ini, gadis itu tanpa sengaja menyenggol salah satu souvenir yang ada di meja tidak jauh dari tempatnya mengintip.
Membuat suara cukup keras hingga mengalihkan fokus dua pria di ruangan lain.
"Aleena?" gumam Aksa lirih.
Aleena yang merasa ketahuan langsung terbirit lari, ia memilih untuk kembali ke dalam kamar dan bersembunyi.
Sementara itu, Aksa hanya bisa menghela napas panjang. Pria itu menunduk dengan satu tangan yang masih memegang gelas berisi air.
"Itu calon istri kamu?" tanya pria bertopi.
Tidak ada sahutan dari Aksa, pria itu hanya mengangguk tanpa minat.
"Kelihatannya dia curiga sama kita."
Mendengar perkataan pria bertopi membuat Aksa mendongak, alisnya menukik dengan mata memincing.
"Apa maksud kamu?" tanyanya.
Pria bertopi, atau nama aslinya adalah Arya. Hanya mengangkat bahunya pelan, pria itu kemudian memakai kembali topinya dan berpamitan untuk pulang.
"Aku harus pulang. Jangan lupa pesan ku sebelumnya," ucapnya.
Aksa mengangguk. Setelah kepergian Arya, Aksa memilih untuk bangun dan berjalan menuju kamar tamu.
Saat dalam perjalanan, ia sempat menengok ke arah pintu kamar Aleena yang berada di sampingnya.
Ada niatan dalam hati Aksa untuk menemui gadis itu dan memastikan apa yang membuatnya lari saat melihatnya bersama Arya. Namun ia lebih memilih untuk mengurungkan niatnya.
Bersamaan dengan Aksa yang menutup pintu kamar, Aleena membuka kamarnya. Ia melongok, mengintip ke arah ruangan di mana sebelumnya pria itu berada.
"Loh, udah pergi?" batin Aleena bergumam.
***
Setelah kejadian hari itu hubungan antara Aksa dan Aleena seolah menjadi kian asing. Baik Aleena maupun Aksa sama sekali tidak saling bertegur sapa ataupun terlibat pembicaraan sekecil apapun.
Bahkan Aksa yang sebelumnya mau untuk memulai pembicaraan saat ini lebih condong untuk menghindari Aleena di beberapa kesempatan.
Seperti pagi tadi.
Aleena terbangun dari tidurnya pukul tujuh. Ia menggeliat dan mematikan alarm yang mengusik tidurnya saat itu.
Setelah membersihkan diri ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Namun ada yang aneh, tidak biasanya rumah terasa begitu sunyi.
Sekalipun hanya ada dirinya dan Aksa, beberapa hari ke belakang pria itu selalu sudah berada di dapur untuk memasak sarapan setiap pagi.
Tapi kali ini tidak. Dapur masih dalam keadaan bersih dan dingin, seolah belum ada siapapun yang menginjakkan kaki di sana.
Aleena mengambil segelas air putih, menenggak nya hingga tandas sambil membatin soal Aksa.
"Kemana dia? Biasanya pagi-pagi udah sibuk," gumam Aleena sambil meletakkan gelas ke dalam wastafel.
Baru saja dirinya berbalik, ia dikejutkan dengan kehadiran Aksa yang sudah berada di belakangnya.
Wajah pria itu terlihat pucat dengan rambut yang acak-acakan. Belum lagi kantung matanya yang terlihat menghitam, membuat penampilannya kian bertambah buruk.
"Kamu nggak apa-apa?"
Tidak ada sahutan dari Aksa, pria itu hanya menatap kosong ke arah Aleena yang masih memasang wajah kebingungan.
Hal yang terjadi selanjutnya cukup membuat Aleena terkejut bukan main. Aksa melangkah maju, kemudian menjatuhkan kepalanya pada bahu Aleena dengan napas memburu.
Bisa Aleena rasakan hawa panas di sekitar leher karena hembusan napas Aksa. Juga pria itu yang menggumamkan sesuatu dengan suara lirih.
Aleena tidak terlalu jelas mendengar apa yang saat ini tengah digumam kan oleh Aksa. Yang ia dengar hanya kata jangan pergi dan maaf yang pria itu katakan dengan suara teramat pelan.
Sebelah tangan Aleena terangkat, ia memegang dahi Aksa yang kini mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.
Suhu tubuh pria itu meningkat, Aksa terlihat begitu juga letih. Dan hal itu membuat Aleena jadi panik sendiri.
"Kamu sakit? Sebaiknya kamu istirahat dulu," ucap Aleena.
Ia kemudian berusaha merapatkan tubuhnya, memapah tubuh Aksa dan membawa pria itu ke arah ruang tamu. Dengan susah payah Aleena menidurkan Aksa di salah satu sofa panjang yang ada di sana.
Sekali lagi ia mengecek keadaan dan suhu tubuh Aksa. Suhu tubuhnya kian terasa panas, dan hal itu membuat Aleena agaknya merasa kebingungan.
Baru saja ia akan melangkah untuk mengambil kompres, sebuah tangan lebih dulu menahan dirinya.
Ia menoleh dan mendapati Aksa yang tengah menahan dirinya. Pria itu membuka mata dengan sayu, ia menatap Aleena dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Jangan pergi," ucapnya.
"Aku hanya akan mengambil air kompresan untuk-,"
Belum selesai Aleena menjawab, kembali terdengar gumaman Aksa. Kali ini Aleena bisa mendengar dengan jelas apa yang pria itu katakan dalam keadaan tidak sadar.
"Keira, jangan pergi."