MORTEM.

2597 Kata
Ternyata  itu Kif, mendorong  badanku untuk melindungiku  dari serangan ganas para Were-bat ( Manusia  separuh kelelawar ) yang  tiba-tiba muncul dari atas  langit dan menukik terjun bebas.       Dalam  satu gerakan  Kif kembali bangkit  berdiri, menarik cepat  pedang dari pinggang kirinya  lalu mengayunkannya secepat angin  untuk menebas lengan seekor Were-bat hingga  terlepas  dari tubuhnya. Berkaok  mengerikan lalu terjatuh  ketanah dengan bunyi debuman  keras. Asap hijau memenuhi mayatnya, sempat  kembali ke wujud manusianya beberapa detik sebelum  berubah menjadi abu.      Masih  dalam keterkejutan, kulihat  Yuki mengeluarkan senjata andalannya. Aku  mengenailnya sebagai Sai, senjata  khas Jepang  semacam trisula  yang bisa dilemparkan  untuk menyerang musuh, bedanya  milik Yuki sudah dimodifikasi sehingga  dapat kembali dengan sendirinya kepadanya. Sai  Yuki  berhasil  menembak tepat  kearah jantung beberapa  Were-bat   hanya  dalam satu  kali lemparan. Makhluk  terkutuk itu menerjang pohon  pinus dibelakang Kif, dia menunduk  tepat pada waktunya. Berubah menjadi  butiran debu hijau tak lama setelah terjatuh  ketanah.      “ Strike!”  teriak Kif dan  Yuki girang, berbarengan  seraya melakukan tos diudara. Tapi  kegembiraan mereka tak berlangsung lama  karena dua ekor Were-tiger  berlari  lurus kearah  mereka sekaligus.     “ Oh  Sial!” makiku.      Dengan  cepat bersalto  dari tempatku, mengeluarkan  gungnirku  dan melakukan  satu gerakan melayang  penuh diudara. Mendarat hanya  beberapa senti dari salah satu  were-tiger  untuk  memblokir  jalannya. Menggunakan  kecepatanku sebagai shapeshifter, dengan  mudah aku  berhasil membantingnya  ketanah. Satu cakarnya lepas  dari peganganku bersiap mencabik  wajahku tapi secepat itu juga kakiku  menendang kebagian vital harimau jelek berwarna  kuning pucat tersebut. Terakhir. Menancapkan ujung tombakku  tepat di kepalanya.    Pemuda  itu berlari  secepat kilat  kearah salah satu  Were-tiger, didorongnya  makhluk tersebut menggunakan  kekuatan supernaturalnya kemudian  dibantingnya ke tanah.Were  tiger  tersebut  berhasil bangkit,menolehkan  kepalanya kemudian mengaum marah  sebab disaat bersamaan Kif telah melompat  keatas tubuh Shapeshifter  targetnya, kemudian menarik  rahang dari atas dan bawah. Mengakhiri  hidup makhluk mengerikan tersebut.     “ Kita  harus bergerak  cepat” tukas Kif  pada kami berdua. Kami  sudah siap berlari saat  aku mendengar suara kepak  sayap dari atas langit, terus  turun menukik kebawah.       Tombakku  sudah teracung  didepan badan, namun  Kif justru menahan pergerakanku  dengan tangannya. “ Jangan” bisiknya.      Benar  saja, ternyata  bukan lawan yang  datang melainkan kawan. Nephillim  perempuan berambut merah anggota shadow  guards  meluncur  turun dengan  elok didepan kami. Rambutnya  sewarna dengan banyak noda darah  diwajahnya, yang kutebak bukan miliknya.       “Kif, kami  butuh bantuanmu. Benteng  barat tersudut dan bantuan  tak juga datang ” tukasnya. Dadanya  naik turun sangat cepat, banjir keringat  menyebabkan kaus merah ketat tanpa lengannya  basah.       Kif  menoleh  padaku sejenak, tampak  bimbang.      “ Aku  ikut” kataku  tegas.      “ Aku  juga” sahut  Yuki, berjalan  kesampingku.      “ Kif...” desak  si rambut merah. Jelas  terburu waktu.      Menginggit  bibir, akhirnya  Kif mengambil keputusan. “ Baiklah, tapi  ingat, jangan merepotkan. Dan selalu waspada” perintahnya  tegas.Tersenyum aku mengangguk.      “ Kita  terbang saja, sudah  tak ada waktu” ujar si  rambut merah lagi, kali ini  melirikku.       “ Aku  bisa berteleportasi” ujar  Yuki tenang. Tentu saja mengejutkanku.      “ Kamu  bisa?!” kataku  tak percaya.      “ Aku  seorang  patron  sekaligus  visioners  memangnya  ada yang salah?” tukasnya  tampak kesal karena merasa  diremehkan.      Menggeleng, aku  melanjutkan. “ Tidak, hanya  saja menurutku itu keren”      “ Baiklah, kalau  begitu kamu ikut  aku” Kif secara tiba-tiba  menarik tanganku. Aku sudah  siap protes ketika dengan mendelikkan  mata dia berkata. “ Kamu ingin ikut, tapi  tak bisa terbang bukan. Aku tak bisa membiarkanmu  berlari sementara bahaya mengintai disetiap sudut. Menurut  atau kutinggal. Lagipula, bukankah sudah kukatan tadi agar tak  merepotkan”      Wajahku  memanas karena  keterus-terangannya. Tapi  Kif benar. Pada akhirnya, aku  memutuskan mengalah. Membiarkan dia  menggendongku kedalam pelukannya. Dan  menyaksikan pemandangan ajaib dimana untuk  pertamakalinya melihat sayap seorang Nephillim  terkepak.      Aku  tentu  saja sering  melihat sayap, aku  tumbuh dilingkungan ‘penuh  sayap’ hanya saja, milik Kif  memang berbeda dibanding lainnya. Sesekali  aku melihat punya Mom, abu-abu gading. Milik  Dad, coklat tua dengan bagian luar kekuningan, dan  tentu saja bulunya sekasar burung elang. Sementara Ash, Hitam  pekat. Namun sayap Kif luar biasa indah.berwarna putih dengan gradasi  semakin dalam warna bulunya menjadi keperakan. Miliknya persis seperti yang  digambarkan cerita fiksi serta film supernatural lainnya.      “ Berpeganglah  yang erat” bisiknya  lembut diluar daun telingaku.      Sensasi  energi listrik  seketika menyetrum  diriku. Ketika kedua  tangan kokohnya menyentuh  kulitku, aliran energi besar  kasat mata merasuk kedalam tulangku melalui  punggung, memberikan sinergi kenyamanan hingga  darah didalam pembuluhku. Debaran jan-tung manusiaku  kembali mengencang, rasa panas membakar dimulai dari dalam  perutku, terus naik ke wajahku. Memberanikan diri,kutempelkan  kepalaku pada d**a bidangnya, mendengar detak jantungnya yang  menyerupai deburan ombak tenang tapi menghanyutkan.      Memejamkan  mata, menikmati  gelombang angin yang  menerpa kami diudara langit  malam. Menyesap dalam-dalam aroma  hutan pinus dikala pagi dari tubuhnya. Tak  ada apapun lagi selain suara detak jantung Kif, serta  bunyi kepak sayapnya yang sangat merdu. Seakan pernah kudengar. Sesuatu  didalam dadaku muncul menyeruak, mengingatkanku pada kepingan-kepingan masa  lalu yang bahkan tak kukenal. Sebuah kerinduan murni muncul disana.       Sungguh, ini  semua sangat aneh. Ini  kali pertamaku bertemu dengan  Kif, tapi entah kenapa, jauh dilubuk  hati terdalam aku seakan mengenalnya sangat  lama. Lebih daripada itu, belum pernah aku merasakan  hal seindah ini setiap kali terbang didalam dekapan Ash.      Ash....      Sial!!....apa  yang baru  saja kupikirkan. Ini  tidak benar!      Kekasihku  sedang bertaruh  nyawa bertarung demi  diriku dan aku apa?. Menjadi  p*****r yang malah memikirkan pria  lain. Aku benar-benar sudah gila! Sepertinya  segala hal berbau Sencit  ini  telah  mengubahku  menjadi kurang  waras.      Aku  merasakan  udara disekitarku  menjadi berat, dan kepakan  sayap Kif melambat, tanda kami  sebentar lagi akan mendarat. Menjulurkan  leher, aku terkesiap. Warna merah meliuk-liuk  diudara, kabut tebal hitam pekat memenuhi kota  dibawahku. Itu api!      Kif  segera  menurunkanku  dengan lembut  saat kakinya menjejak  tanah, pemandangan disekitarku  terlalu mengerikan, membuatku sedikit  limbung. Api menjilat diseluruh penjuru, melahap  apapun yang mereka temukan. Suara denting besi menggema disetiap  sudut yang dapat kudengar.       Bagian  barat kota  telah berubah  menjadi medan pertempuran. Dadaku  sesak mengingat betapa miripnya kondisi  ini dengan keadaan didalam penglihatanku. Dari  tempatku berdiri, aku bisa melihat Kisaki dan Matsuo  berduel melawan lima orang sekaligus dalam balutan jubah  dan tudung merah. Aku mendongak dan melihat si kembar Nephillim  melawan para were-bat  diatas  atap rumah  yang terbakar. Yuki   berlari melewatiku, melemparkan  sainya  tepat  menebas  kepala seekor  were-tiger  yang  telah bersiap  menerjang Ayahnya. Dari  kejauhan.             “ Sampai  kapan mau  berdiri disitu!”       Suara  Kif menyentakku. Mengeluarkan  gungnirku, dalam  sekejab aku  terlibat dalam  pertarungan melawan  kumpulan were-tiger  yang  bermunculan  dari dalam hutan. Seekor  Were-tiger  jelek  bertubuh  kurus menerkam  Kif dari belakang, akan  tetapi gungnirku berhasil  menancap pada  satu sisi kaki  belakangnya. Makhluk  tersebut jatuh ketanah, mengerang, tapi  tidak cukup untuk melumpuhkannya. Harimau  jadi-jadian tersebut membalikkan badannya, dengan  kaki masih terluka bersiap menerjangku.      Bantuan  datang tepat  pada waktunya, Nephillim  wanita berambut pirang berambut pirang  melompat keatas punggung Manusia separuh  Harimau itu kemudian menancapkan Belati  Bulan  salat  satu senjata  legendaris kaum  Nephillim  diatas  pundaknya. Were-Tiger  tersebut  mengerang marah, tubuhnya  bergerak-gerak hebat. Kumanfaatkan  momen tersebut untuk melompat keatas  cabang pohon tertinggi paling dekat darinya, kemudian  seraya menarik nafas panjang dia mengambil ancang-ancang  untuk meluncur dari atas ketinggian.      Dalam  hitungan  ketiga dalam  hati melompat terjun, tangan  kanan memegang gungnir. Tombak  berwarna emas  meluncur lurus lurus  menembus masuk tepat kebagian  jantung si Were-Tiger. Shapeshifter  tersebut mengerang  sekarat dalam posisi  berdiri, ketika turun melewati  tubuhnya aku bisa mendengar jika  detak jantung makhluk terkutuk itu  telah berhenti.      Aku  dan si  Nephillim  perempuan pirang  saling berpandangan, tersenyum  puas pada kerjasama kami. Tapi  kesenangan kami tak berlangsung lama  karena dari atas langit, seperti dimuntahkan, kumpulan  were-crow ( manusia  separuh gagak ) jatuh  ketanah. Kif berlari ke depan  kami, kedua tangannya membawa pedang, sayapnya  sudah terselip rapi didalam bahunya lagi. Dengan  kecepatan luar biasa Kif melompat, menghindar, berlari, memasuki  celah-celah diantara para were-crow  yang  tampaknya  tidak siap  akan kehadirannya. Warna  perak memantul oleh cahaya  bulan dari ujung tajam pedangya  dan disabetkan pada tubuh para shapeshifter  tersebut.       Dalam  hitungan  detik, para  were-crow  jatuh  ambruk ke  atas tanah, menyisakan  Kif yang melompat dan berdiri  tegak dengan kedua pedang disisinya, berlumuran  darah. Memunggungiku.      Saat  dia menoleh  pada kami, senyumnya  lebar. Membuatku tak dapat  menahan diri untuk tidak merasakan  panas pada pipiku.       “ Dasar  tukang pamer!” bisik  si Nephillim pirang kesal. Jelas  ditujukan padaku.       Lalu  sesuatu  terjadi, sebuah  cahaya hijau terang  mengalir ke arah si Nephillim  disampingku. “ Awas!” teriakku, menarik  tubuhnya hingga menjauh, tanpa mengacungkan  tongkat sihir, satu kata terpercik dalam kepalaku. “ Morst  Ce’i!!!”       Aliran  hijau berupa  sihir hitam itu  terhenti, terkalahkan  oleh es yang mendadak muncul  diudara, menjalar dan mengenai  si pemilik mantra. Seorang bertubuh  tinggi dalam balutan jubah merah. Salah  satu mortem. Terjatuh  ke tanah. Tapi  tak lama karena  dia kembali berdiri. Suara  kikik tawanya seperti ular. Mungkin  dia salah satu were-snake.           “ Apa  tujuan kalian  sebenarnya!” bentakku.       Mukaku  kaku, sepasang  mata coklatku menyorotkan  kebencian. Posisi tubuh mengangkat  gungnir  didepan  d**a.      Mortem  tersebut  terkekeh sadis. “ Sencit  yang  sombong, jangan  pikir dirimu  hebat hanya karena  menyandang nama itu”      Aku  melemparkan  gungnirku  tanpa  antisipasi  diudara menuju  arah bagian jantung  musuhnya. Mortem  itu  mengeluarkan  aura merah pekat  berbentuk bola yang  menjadi perisai pelindung  disekitarnya, mementalkan seranganku, membuat  senjataku kembali padaku. Dalam kedipan mata  dua kristal berukuran raksasa berwarna hitam bergerak  cepat kearahku.Meski terkejut  aku berhasil menghindar tepat waktu. Aku  sempat melihat si Nephillim pirang dan Kif  sibuk terlibat dalam pertarungan mereka sendiri  melawan lebih banyak mortem.       “ Wiccan  rupanya...”  gumamku seraya  mengeram.      Penyihir  hitam dihadapannya  tampak menyeringai dari  balik tudung. “ Ayo kita bermain-main  sebentar cantik...”      Dua  serangan  petir hitam  berhasil kuhindari, balik  menyerangnya menggunakan energi halilintar.Lalu serangan  kristal hitam lagi darinya berbentuk pola bintang, perisai ungu buatanku  mampu menghancurkan semuanya.Aku mengirimkan getaran elektromagnetik pada tanah  diikuti serangan jarum es, sial bagiku karena penyihir Pentagram tersebut sangat  terlatih, kekuatanku hanya mampu menggores mantel dan tudung musuhnya.       Penyihir  mortem  itu  telah  membuat  amarahku mendidih  karena tawa mengejeknya. Aku  mengagkat satu tangan ke udara,membentuk  pusaran energi angin raksasa ungu muda dan  kemudian mampu menghentak kencang tubuh musuhku  hingga terlempar beberapa meter ke tanah. Seulas senyum  mengembang pada wajahku.      “ Baiklah  nak, tampaknya  aku harus serius  juga setelah ini” desis  si penyihir hitam bangkit  dari tanah.      Aku  merasakan  tanah disekitarku  mengeluarkan luapan  energi panas, banjir bola-bola  kecil kemerahan seakan dimuntahkan  dari dalam Bumi menyerangku. Kugunakan  sihir tameng dan penghancur namun tetap  saja masih kecolongan, beberapa bola sihir  tersebut mengenai tangan, kaki, leher, serta bagian  pundakku. Rasa panas menyengatnya, meninggal bekas luka  bakar pada kulitnya.      Berusaha  keras menguasai  emosiku. Kukeluarkan  semua kemampuan yang  selama ini telah kupelajari  dari Mom. Badai air, naga angin, hingga  anjing api, semua senjata rahasiaku menyerang  musuh bertubi-tubi. Si penyihir hitam baru saja  terjatuh ke tanah dalam kondisi berlumuran darah  ketika kekuatan sihirku terasa meredup. Sial! Aku kehabisan  energi, meski berusaha keras berdiri tegak namun tubuhnya mengkhianatiku. Aku  terduduk ditanah dengan posisi lutut terlebih.       Terengah-engah  kulihat musuhku  berdiri sambil tertawa  puas, mantelnya tersobek-sobek, darah  mengalir sepanjang pundak, kaki, dan perutnya, tudungnya  terbuka memperlihatkan sesosok wajah pemuda berwajah sepucat  mayat dengan sepasang mata besar berpupil hitam penuh memandangnya  sadis. Terdapat tato berwarna merah darah ber-gambar bintang didalam lingkaran  ditambah sepasang sayap hitam, terpajang jelas di se-panjang leher si penyihir hitam. Ketika  pemuda mortem tersebut  mengangkat satu  ta-ngannya kehadapanku. Seketika, kurasakan  tubuhku membekuk, dua bola mataku mena-tap  nanar amat menyiksaku karena tak bisa mengedipkan  mata ataupun menggerakkan badan.     Pemuda  tersebut  tertawa kejam. “ Harusnya  kamu belajar lebih baik ketika  masih ada waktu. Sayang, penyesalan  selalu datang belakangan”      Isi  perutku  memanas, organku  mengentak-entak kencang  seakan diremukkan dari dalam, darah  mengalir deras dari hidungku. Aku berusaha  keras melawan, tak mau mati konyol ditangan  pemuda t***l penganut iblis. Akan tetapi setiap  kali berusaha untuk tenang, rasa panik serta takut  mencengkramku. Dalam hati, akupun mulai berdoa.      Mungkin, inilah  akhirku. Dalam keheningan  yang menyiksa serta suara  keributan disekitarku. Aku hanya  bisa pasrah. Hingga sesuatu melompat  cepat dari atas pepohonan elm, menerjang  badan si pemuda Pentagram. Kejadian tersebut  terlalu mengejutkan hingga membuat mantra hitamnya  padaku lenyap seketika.  ********************      Seekor  elang raksasa  berbulu hitam pekat  muncul secara tiba-tiba  menyelamatkanku. Aku langsung  mengenalinya sebagai Ash. Masih  terpaku pada tempatku, aku melihat  bagaimana Ash dengan beringas menghajar, mencabik  dan terakhir, membelah tubuh mortem  tersebut  menjadi serpihan  lalu membuangnya ke  tanah. Ditengah segala  keterkejutanku, sesuatu yang  kuat mendekapku dari belakang  diikuti bunyi desingan. Aku menoleh  dan memekik melihat Kif baru saja melindungiku  dari serangan paku beracun hell  stone  milik  para mortem.      Aku  melihat  dari mengalir  deras dari bahu  Kif, tapi dengan entengnya  dia mencabut peluru tersebut  dan membuangnya ke tanah. Meskipun  wajahnya sempat mengernyit kesakitan. Hell  Stone  adalah  nama batu  Neraka yang  dapat melukai  para Nephillim  namun  tak sampai  membunuh mereka. Sama  seperti Pure  Stone, bebatuan  itu harus  dicairkan terlebih  dulu sebelum dijadikan  bahan racun.       Kif  membantuku  berdiri lalu  menyeretku hingga  ke depan Ash versi  elang. “ Bawa dia pergi  dari sini!” teriak Kif. Yang  dijawab Ash dalam anggukan.      “ Kamu  bisa naik  sendiri kan?” tanya  Kif padaku.       Mengangguk, menggunakan  sisa-sisa tenaga aku bersalto  ke atas punggung Elang-Ash. Elang  itu berkaok keras, ketika kedua sayapnya  mulai terkepak, aku harus memegang bulu-bulu  tebal lebat pada lehernya agar tak terjatuh. Dalam  hitungan detik, kami sudah membumbung tinggi ke atas  awan.      “ Apa  kamu sudah  gila?! Pertarungan  ini berbahaya. Semua  orang ingin menyelamatkanmu  dan kamu malah melemparkan diri ke  medan perang begitu saja!”   ujar  Ash mengirimkan  pikirannya padaku. Dia  sangat marah.      “ Kamu  tahu aku  tidak bisa  berpangku tangan. Aku  tak dapat melihat darah  tertumpah demiku. Tidak akan. Lebih  daripada itu, kalian membutuhkan bantuan” bantahku  sedikit kesal.      Hening  sejenak, aku  merasa Ash mendesah  dalam percakapan arus  pikiran kami. “ Jika  hal buruk  sampai terjadi  padamu,rasanya aku  tak bakal bisa hidup  lagi. Jadi kumohon Ai, tolonglah  mengerti. Kondisinya cukup berbahaya. Aku  terlalu mencintaimu sehingga bertindak begitu  egois...”      Menggertakkan  gigi, aku membalas. “ Kalau  begitu sama  denganku. Pikirkan  aku yang mencemaskanmu. Selain  itu aku bukan wanita lemah yang  harus dijaga setiap saat. Aku lebih  kuat daripada yang selalu orang lain  pikirkan”      Ash  mendengus  dalam. “ Aku  tahu Ai. Hanya  saja, aku terlalu  mencintaimu hingga hanya  ingin membuatmu aman. Apakah  itu salah?”      Sial! Ash  selalu memiliki cara  untuk membuatku menyerah  pada kehendaknya. Menundukkan  kepala, aku menyuarakan gambaran  pikiranku pada. Mencium lehernya lembut  dan dia berkaok geli, mendadak meliuk tak  jelas diatas langit membuatku harus mencengkram  bahunya. “ Aku  juga mencintaimu  Ash. Karena itu tolong  percayalah padaku. Dan bertahanlah  hidup”      Ash  hendak  menjawab  ketika sebuah  serangan keras mengenai  kaki belakangnya. Membuat Elang-Ash  berkaok mengerikan diikuti bau hangus. Disaat  berbarengan kulihat dua ekor were-eagle  raksasa  muncul dari  dua sisi berlawanan  tanpa pengendara. Bisa  ditebak selanjutnya, pertarungan  tak terelakkan terjadi. Dan aku harus  mengeluarkan segenap sisa kekuatanku melawan  mereka.      “ Ethrund  rac!” pekikku  seraya menjulurkan  leher kekanan, mengacungkan  tongkatku pada si elang jadi-jadian  pengkhianat itu.       Sayangnya, si  elang terlalu gesit. Aku  berusaha berdiri diatas punggung  Elang-Ash. Tapi pertarungannya dengan  si elang berbulu coklat disamping kiri  kami membuat keseimbanganku goyah dan itu  mempengaruhi konsentrasiku dalam mengeluarkan  sihir.       Aku  mengeluarkan  hujan salju, sayangnya  sebuah dorongan pada tubuh  Elang-Ash dari arah kiri membuat  sihirku keluar ditempat yang salah. Elang  jadi-jadian berbulu putih-hitam itu berkaok  kencang, seakan sedang mentertawakanku.      “ Bertahanlah”  bisik  pikiran  Ash.      Aku nyaris  terjatuh miring  kesamping ketika Elang-Ash  secara mengejutkan melakukan  manuver. Menghindari kedua elang  hingga menyebabkan mereka nyaris bertabrakan, kesempatan  itu kuambil untuk mengeluarkan mantra pembeku, dan kali ini  sukses mengenai keduanya.       “ Berhasil!” pekikku  girang mencium leher  Elang-Ash, dan dia berkaok  tanda girang.      Aku  memeluk  leher Elang-Ash  erat, menikmati tamparan  lembut angin pada tubuhku, merasakan  otot-otot dikedua sayap elang-Ash bergerak  naik dan turun. Kemudian, sebuah pikiran erotis  kususupkan diantara kami. Membuat Ash terbahak. Ini  benar-benar seperti masa lalu. Saat-saat dimana aku dan  Ash diam-diam menyelinap saat kami masih remaja, dan berkendara  dengannya melintasi langit Oregon hingga kami sama-sama kelelahan. Andai  saja kali ini kondisinya berbeda, pasti akan terasa romantis.      Ash  membawa  kami turun  ke landaian tebing  bukit. Seperti biasa, dia mendarat  sempurna. Rasa pusing mulai menyerangku  saat aku turun, dan lututku seperti terlepas  kala menyentuh tanah. Bersandar pada bahu elang-Ash, sepasang  mata raksasa langit malam cerah berbintangnya menatapku sangat  cemas.       “ Aku  tidak apa-apa  sungguh" kataku  padanya, menyentuh  sayapnya.      Ash  menatapku  sendu melalui  mata elangnya. Dia  ingin mengatakan sesuatu  saat itu, namun sayangnya, ternyata  itu adalah tatapan terakhir yang bisa  Ash berikan padaku. Sebab didetik itu juga, sesuatu  meluncur dari langit dan mendarat tepat diatasnya, menusukkan  sesuatu hingga menghujam tubuhnya.      Darah  mengucur  dari seluruh  badan elang-Ash, membasahi  tubuhku.      Jeritannya  adalah terorku.      Dan  pekikannya  menyayatku.      Tanpa  bisa kucegah, tubuh  Elang-Ash oleng kesamping  kanan, bersiap jatuh dari atas  puncak tebing.      Aku  menjerit, mengerang, meneriakkan  semua sihir yang kubisa. Namun sebuah  sihir hitam membuat penghalau diantara kami.      Kemudian, mata  elang-Ash sempat  menangkap sosokku. Untuk  terakhir kalinya dia berkata.      “ Aku  mencintaimu....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN