Sosok itu menjulang dalam kegelapan, sepasang mata merah berkilat indah tak bisa ditutupi bayang-bayang hitam. Dia menangkap pantulan dirinya pada cermin kaca tua berlapis emas lazuli dihadapannya.
Tampan.
Pucat,
Dan mempesona....
Dipadu kelicikan, dia yakin bisa mendapatkan segala sesuatunya sesuai rencana.
Pintu kamarnya dibuka tanpa pemberitahuan dari luar, Pria tersebut menoleh, meski kesal dia tak memperlihatkan hal itu diwajahnya. Lelaki itu kini duduk dimeja kerjanya, membaca sebuah kitab besar dan tampak kuno.
“ Maafkan saya karena tidak mengetuk dulu” tukas sosok bertudung merah dengan nafas terengah-engah menekuk lututnya diatas lantai marmer merah indah bercampur pendaran batu ruby.
“ Permintaan maaf diterima” kata si pria datar, masih membaca.
“ Ini tentang gadis itu, dia telah dipindahkan ke tempat perlindungan teraman” sosok bertudung menghetikan kalimatnya saat sang Tuan mengalihkan perhatian dari kesibukan membaca.
.
“ Gateway Stars?” desis si Pria, suaranya menyerupai ular berbisa, matanya berkilat cerah seakan dipenuhi kebahagiaan.
Sosok bertudung mengangguk. “ Ya Tuan, jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang. Menyerang benteng pertahanan mereka membutuhkan kekuatan penuh”
Si Pria diluar dugaan terlihat sangat kegirangan, dia bertepuk tangan dan menari-nari seorang diri untuk mengekspresikan kegembiraannya. Tubuhnya meliuk dan memutar diudara, lalu berjalan menghampiri si pemberi informasi.
“ Lakukan persiapan, aku ingin anak ini untukku, segera!” perintah si Pria dipenuhi nada suara berbahaya.
Dari balik tudung merahnya si Informan tersenyum licik. “ Baik, Master” lalu berbalik mundur masih dalam posisi menunduk.
Saat pintu kamarnya kembali ditutup, sang Master bernyanyi-nyanyi riang. Dia melangkah menuju pintu kecil disudut kanan kamar mewahnya yang dibangun sejak zaman Nabi Musa.
Terdengar suara ‘klik’ pintu dibuka, bersamaan dengan itu jeritan mengerikan menyerupai salakan menggema disepanjang ruangan besar dan gelap. Sang Master menekan saklarnya, saat lampu menyalakan sinar menerangi seluruh tempat, suara-suara tersebut berubah menjadi rintihan dan kemarahan.
Kemudian, sepasang sayap merahnya terkepak. Warnanya sesegar darah. Sepatu peraknya menimbulkan decitan ketika menapak diatas lantai marmer. Kemudian, langkah-nya terhenti tepat didepan sebuah kursi perak bertahtahkan emas. Seorang pria muda terikat erat dengan sulur beracun dihadapannya. Telanjang. Penuh luka. Sekarat.
Diluar dugaan, pria tersebut masih dapat membuka matanya, dari sela-sela bibir ruamnya, sebuah suara bergema terbata. “ Kamu....akan...mati...Kalien....”
Kalien. Si Demmilim pemimpin para mortem, hanya mengulum senyum, mata turqoisenya memberikan pandangan menghina untuk tawanan didepannya.
“ Berbicaralah sesukamu. Ashiki Cheveyo. Karena sebentar lagi, baik gadis itu ataupun kekuatan Gillaez akan berada didalam genggamanku”
Ash, berusaha tertawa, meski harus terbatuk-batuk. Kalien berjalan memutari pria itu, menunduk tepat didekat lehernya.
“ Menyerahlah, dan akan kuakhiri segala penderitaanmu” bisik Kalien, matanya memancarkan kekejaman murni.
Ash tertawa, kemudian sambil mengeram, dia menjawab. “ Enyahlah ke neraka...”
Menyeringai kejam, Kalien berkata lirih. “ As You Wish....” dalam sekejab, kedua irisnya berubah menjadi semerah darah. Wajahnya tak lagi sama. Dan kedua taring panjang keluar dari dua sisi mulutnya. Tanpa ampun, dihujamkannya taringnya tepat ke titik nadi utama leher Ash.
Ash berteriak. Jeritannya seperti binatang yang menghadapi kematiannya. Terus bergema keluar dari dalam kamar, menembus lorong-lorong panjang, mewah, dan kelam kastil kediaman Kalien berada. Kemudian, berakhir dalam sayatan penderitaan, serta sebuah permohonan. Yang cukup, untuk mengirimnya ke neraka.
Selamanya.
To be Continued into the second book........