Dalam perjalanan pulang keduanya lebih banyak diam, sesekali Angga mencairkan keheningan dengan mengajak Chelsea bercerita tentang keadaan kota Jakarta sekarang. Tentang kemacetan, polusi, dan hal yang sesungguhnya tak begitu penting. Chelsea terlalu sibuk mengelola perasaannya, hingga ia lebih menyukai keheningan. Ia takut, semakin banyak kata diucapkan, semakin berat ia melepas. “Chel … besok kamu masih datang ke rumahku?” Chelsea mengangguk. “Tentu saja. Sampai Olive menyelesaikan pemutusan kontrak dan aku bisa segera keluar dari pekerjaanku yang sekarang.” Angga mengangguk-angguk mengerti. “Kalau begitu, aku lega.” Perkataan Angga membuat Chelsea segera menoleh ke arahnya. Pedih itu tak mau pergi, menyiksa bathinnya tanpa ampun. Tak peduli seberapa keras ia memohon, hatinya tak kun

