Chelsea mematung di tempatnya saat membuka pintu kamar dan menemukan Angga yang masih tertidur. Padahal, jam sudah menunjuk ke angka sepuluh. Ia sengaja izin bekerja agak siang agar tak bertemu Angga. Setelah mengirim pesan tersebut, ia kembali memblokir nomer Angga, membuatnya tak tau apakah Angga membalas pesannya atau tidak. Chelsea hendak berjalan meninggalkan kamar, namun diurungkannya saat mendengar Angga memanggil namanya lirih. Suara lelaki itu membuat hatinya perih, sekarang tak ada rasa lain yang mampu ia rasakan selain kepedihan. Chelsea membalik tubuh, mata Angga terpejam, namun lelaki itu tampak tersiksa dalam tidur. Chelsea menimbang apa yang harus ia lakukan dan pada akhirnya, ia memilih berjalan mendekati Angga. “Ga ... kamu nggak pa-pa?” “Chel ... sakit banget, Chel. Ak

