Prasetyo mengantar keduanya hingga ke Bandar udara Kualanamu, Medan. Ia mengucapkan hati-hati dan menunggu hingga punggung keduanya menghilang dari pandangannya. Sementara Bi Lisa masih terus menanyakan tentang Prasetyo pada Chelsea. “Kenapa saat terakhir baru dibawa ke rumah, Non?” “Dia bukan siapa-siapa, Bi. Cuma rekan kerja. Lagipula, kalau dia nggak ngancam mau langsung ikut ke Jakarta, aku nggak bakalan ngasih alamat kita.” Bi Lisa tergelak. “Tampaknya dia anak yang baik,” ucap Bi Lisa tersenyum lembut, “Bibi bisa merasakan ketulusannya pada Non. Mungkin, ini saatnya membuka hati, Non.” Membuka hati? Ia telah mencobanya berkali-kali. Memberikan kesempatan bagi pria itu untuk mengisi harinya dan ikut dalam kegiatannya, namun hatinya tak bisa merasakan apa pun. Mungkin memang benar,

