Chelsea tersenyum mendengarkan keinginan Angga. Ya, itulah yang seharusnya menjadi akhir dari kisah mereka. Keduanya harus bahagia walau tak saling memiliki. Mereka harus tersenyum dan tak ada lagi pedih yang menyayat hati. Mereka harus merasa lengkap dan tak lagi merasa hampa dengan kehilangan yang dialami. Walau tak bersama, mereka harus mampu mewujudkan mimpi-mimpi yang terlihat mustahil. Angga semakin mempertipis jarak di antara wajah dengan mengangkat kepalanya, lalu ia mempertemukan bibir mereka, hanya kecupan tanpa gerakan. Air mata keduanya jatuh begitu tiada lagi jarak di antara bibir mereka. Mengapa pedih seakan tak mau pergi? Padahal mereka sudah berteriak kalah dan menyerah. Sedetik kemudian Angga melepaskan ciumannya dan kembali berbaring di pangkuan Chelsea. Ia memiringkan

