Make You Falling In Love with Me

1155 Kata
Arthur selalu terlihat menarik dan tampan. Jika ia disandingkan dengan Ryan dan Nick, mungkin wanita-wanita akan mengira mereka supermodel para pria lajang walau kenyataannya berbeda. Kecuali Arthur. Saat ini beberapa pengunjung Resort terutama para wanita, sibuk memperhatikan Arthur yang serius melihat jalannya kegiatan syuting bersama para kru lainnya. Diantara para pria baik itu kru, tokoh penting belakang layar dan aktor Singapura yang tampan, hanya Arthur yang paling bersinar. Bahkan para wanita yang melihat dan berbisik menyangka Arthur adalah salah satu bagian dari para aktor. Bagaimana tidak. Mengenakan kemeja jeans yang lengannya  digulung hingga sikut, dipadukan celana jeans berwarna senada dan membiarkan rambutnya  bebas tanpa topi. Bagi para wanita, itu adalah gambaran pria tampan yang sempurna. Rambut Arthur yang coklat muda terkena bias sinar matahari pagi, bola matanya yang berwarna senada juga terlihat bersinar cerah, secerah senyumnya melihat Riska yang berjalan mendekat. "Cut!"  Teriakan sutradara menghentikan kegiatan pengambilan adegan yang ketiga pagi ini, sutradara kembali memberi arahan pada kru dan para pemain untuk pindah lokasi menuju kolam renang. "Bagaimana syutingnya? Apa kalian mengalami kendala?" Tanya Riska pada Arthur yang seketika berdiri di samping Riska. Arthur menggeleng. "Selama ini tidak ada, Ris. Tapi aku mempunyai beberapa permintaan padamu."  "Apa? Mungkin aku bisa membantumu." Tawar Riska yang akan melayani kliennya dengan baik sesuai isi kontrak perjanjian mereka. Arthur tertawa kecil sebentar membuat Riska mengerutkan dahi. "Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" Riska penasaran tapi gelengan kepala Arthur mengawali jawabannya. Arthur mendekatkan mulut ke telinga Riska. "Aku membutuhkan sprei putih dan.." "Dan apa?" Riska penasaran. "Kondom." "Apa?!" Suara Riska membuat orang di sekitarnya menoleh dan terheran. "Sstt---" Arthur menaruh telunjuk di tengah bibirnya. Riska memandang Arthur. "Untuk apa?" Melanjutkan tanya walau harus mengecilkan suaranya. "Properti syuting, Ris." Arthur menjawab menahan tawa. Riska tertawa telah salah paham. "Kupikir kau sedang membutuhkannya, Pak Produser." Mengolok-olok Arthur mengingat statusnya yang duda. "Aku memang membutuhkannya tapi tak ada yang mau denganku." Membalas olokan Riska. "Kau lucu." Riska menutup mulut dengan sebelah tangan sambil tertawa.  Arthur menggeleng. "Menahan hasrat bukan hal yang lucu, Ris. Apa kau tak pernah melihat Nick sepertiku?" Penasaran pada kehidupan s*x Riska dan Nick. Riska menggeleng lalu berdehem. "Katakan padaku berapa banyak kau membutuhkannya? Nanti aku akan menyuruh karyawanku untuk membelinya." Mengakhiri pembicaraan mengenai kehidupan s*x nya bersama Nick, sesuatu yang terlalu sensitif untuk dibahas. "Satu box saja. Apa kau tak punya persediaan?" Arthur kembali bertanya tentang kondom lagi. Riska menggeleng lugas. "Tidak. Nick tidak membutuhkan itu dan aku juga tak menyukainya." Menjawab walau membuang wajahnya yang merah padam. Lagi-lagi Arthur tertawa. "Baiklah. Aku menunggunya, Ris. Jika sudah ada berikan padaku saja." Pintanya walau sebenarnya Riska bisa memberikan langsung pada Beny. "Ada lagi selain sprei putih dan kondom?" Riska memastikan permintaan lain dari Arthur, agar syuting tidak tertunda hanya karena banyak properti yang kurang. Arthur berpikir sebentar lalu menggeleng. "Sepertinya tak ada lagi untuk hari ini, Bu Owner." Jawabnya yang yakin tak ada lagi yang harus Riska penuhi. Riska mengangguk lalu mengambil ponsel. "Baiklah, aku siapkan dulu permintaanmu. Nanti karyawanku akan mengantarkannya untukmu, Arthur." Sahutnya yang tak lama panggilannya tersambung. Arthur memperhatikan Riska menelepon salah satu karyawan untuk memenuhi permintaannya. Ia takjub melihat Riska yang berbeda dari beberapa tahun yang lalu saat pertama kali mengenal seorang gadis cantik. Gadis berumur 15 tahun yang berhasil memikat hatinya untuk pertama kalinya. Gadis yang bernama Riska Anggraeni. ❤❤❤ "Masuklah." Nick menjawab ketukan pintu setengah berteriak. Sarah membuka pintu sambil mengembangkan senyum dengan tangan menenteng beberapa lembar berkas. "Aku membawa laporan hasil penjualan perusahaan mie instan dan telekomunikasi, Pak." Berjalan mendekati Nick yang duduk di sofa dimana tangannya sibuk menandatangani berkas yang lainnya. "Bagaimana hasilnya?" Melirik Sarah sebentar lalu melanjutkan membuka halaman demi halaman berkas yang sudah ditandatangani. Sarah menyodori kertas yang terdapat sebuah gambar kurva. "Hasil bulan kemarin stabil, Pak. Tapi hanya satu yang menurun pada salah satu varian mie goreng." Jelas Sarah. Nick meraih lembaran kertas itu lalu melihat laporan Sarah. "Itu wajar karena mereka belum maksimal melakukan promo di berbagai media. Tapi tidak berpengaruh pada saham hari ini kan?" Memastikan hasil dari saham dan itu poin penting yang tak bisa ditawar lagi sebagai penanam saham. Sarah menggeleng. "Tidak Ada yang signifikan, Pak." Menjawab lugas. Nick mendongak melihat penampilan Sarah hari ini. Kemeja putih slim fit dan Flare skirt merah yang panjangnya di bawah lutut. Tapi pandangan Nick terhenti pada kemeja Sarah yang terlihat sedikit transparan hingga bra nya yang berwarna hitam dengan jelas terlihat di pandangan kedua mata Nick. "Lalu bagaimana dengan perusahaan telekomunikasi? Apakah index sahamnya naik hari ini?" Tanya Nick lagi. Sarah menyodorkan kertas yang lainnya. "Naik, Pak. Tapi saya baru mendapat email jika Direktur utama akan mengadakan meeting di hotel Sari Pan Pacific besok siang bersama para pemegang saham. Apa Bapak menghadiri acara tersebut?" Meminta jawaban dari Nick yang seketika terdiam sebentar. "Masukkan acara itu pada jadwalku selanjutnya, Sarah." Titah Nick lugas. "Siapkan dari sekarang semua berkas yang mereka butuhkan lalu jangan lupa kau membuat copy nya sebagai arsip. Dan kau.." Menunjuk Sarah. "Besok harus menemaniku menemui mereka dan segera hubungi Mario jika aku akan bermalam di apartemenku. Suruh dia menyiapkan kamar depan dan belakang." "Baik, Pak." Sarah menyahut. "Ada lagi, Pak?" Nick menggeleng. "Tidak. Kau bisa kembali ke ruanganmu." Jawabnya, meneruskan menandatangani berkas lainnya. "Baik, Pak. Aku pamit ke bawah dulu untuk menyiapkan semua berkas untuk besok." Pamit Sarah lalu membalikkan tubuh. "Tunggu dulu." Nick memanggil lagi. Sarah berbalik. "Ya? Apa ada lagi yang harus aku siapkan, Pak?"  Nick menunjuk baju Sarah dengan pena yang ada di tangannya sambil menggerakkan keatas dan kebawah. "Bajumu transparan. Pastikan besok kau memakai baju yang sopan dan tidak transparan seperti itu lagi, Sarah." Pinta Nick serius karena melihat penampilan Sarah membuatnya sulit konsentrasi membaca berkas. Sarah menunduk dan menarik bajunya tepat di bagian d**a sambil berpikir lalu menoleh melihat Nick yang menanti jawaban. "Baik, Pak. Akan ku laksanakan." Janji Sarah lalu melihat Nick mengangguk. "Aku permisi dulu." Pamitnya lagi. Di saat Sarah membuka pintu, Riska masuk dengan langkah santai. "Pagi, Bu Riska." Sapa Sarah sempat menundukkan kepala sebentar. "Pagi juga, Sarah." Riska membalas lalu melanjutkan langkahnya menuju sofa. Sarah menoleh kebelakang melihat Riska berbicara dengan Nick. Ia memperhatikan penampilan Riska sederhana tapi elegan. Hanya midi dress Gucci motif floral diberi belt kecil dan sepasang wedges melekat indah di sepasang kakinya yang jenjang. Rambut hitam Riska yang panjang tergerai indah dan harum ketika melintasinya tadi. Suara Riska yang lembut selembut gerak tubuhnya seperti dewi kayangan menari.  Sempurna. Cantik, berkelas dan kaya. Itu yang ada di pikiran Sarah dan sejak awal ia merasa iri dengan kesempurnaan yang dimiliki Riska terutama memiliki suami tampan dan hebat. Mereka tak ada celah. Pasangan suami istri yang sempurna di mata Sarah. Tapi hanya satu yang menarik perhatian Sarah. Pria yang bernama Nicholas Jose Leandro, atasannya. Suami dari pemilik resort yang bernama Riska Anggraeni itu memang sejak awal sudah menggoda hati Sarah untuk mendekati Nick. Sejak melihat lowongan pekerjaan di salah satu situs Loker, ia memang sudah bertekad untuk mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris pribadi. Selain itu adalah profesinya, Nicholas juga adalah menjadi alasan ia menolak pekerjaan menjadi model di majalah pria dewasa Filipina. Karena Nick berhasil menjerat hati Sarah dan membuatnya jatuh cinta. Bagi Sarah, sebuah keinginan harus bisa diwujudkan agar bisa hidup bahagia. Apapun itu keinginannya walau nyawa taruhannya karena hidup sekali. Sarah tak mau menjadi wanita pecundang. Saat ini tujuan Sarah hanya satu. Membuat Nick jatuh cinta padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN