Riska melirik ke arah Arthur yang fokus mengendarai mobil dan sesekali melirik nya sambil tersenyum. "Ada apa? Apa ada yang aneh di wajahku?" Tanya Riska mengembangkan senyum. Arthur mengangguk. "Aku senang melihatmu, Ris. Dan aku bahagia sudah mengatakan perasaan yang sudah lama aku simpan. Akhirnya aku bisa tidur nyenyak." Menghela nafas lega dan melirik Riska lagi. Riska tertawa. "Kau terlambat, Davi." "Aku?" "Ya. Dengan Ryan." Arthur tertawa dan baru memahami arti ucapan Riska. "Kalau aku yang terlebih dulu mengungkapkan perasaanku sebelum Ryan, kau menerimaku?" Memastikan dugaannya. Riska berpikir sebentar. "Hmm...belum tentu juga sih?" Tertawa melihat Arthur berharap menjawab 'Ya'. "Kau jahat." Arthur membalas dan tersenyum lagi. "Bagaimana? Kau bisa minggu depan ke Singapur

