Kini dean sudah berada di apartemennya, sejak sampai sekitar 1 jam yang llau Dean hanya diam tak berbuat aapun sambil memikirkan apa yang baru saja dialaminya tadi. Kejadian aneh yang benar-benar mengguncang akal sehatnya.
On chat.
Deandra Wally : Kek!
Deandra Wally : Kakek!
Kakek : Y.
Deandra Wally : Maksud Kakek nyuruh Dean kesana tadi apa coba?
Kakek : Biar kamu kenal.
Deandra Wally : Dean gak perlu kenal!
Kakek: Tapi Chika perlu.
Deandra Wally : I don't care about her.
Kakek: Yakin kamu?
Deandra Wally : Ini terakhir kakek nyuruh aku kesana!
Kakek buyut : Kalau begitu hari ini terakhir kamu nikmati warisan kakek.
Deandra Wally : KAKEK!
Kakek buyut : Y.
Deandra Wally : Jangan main-main sama warisan!
Kakek buyut : Kalau begitu kamu harus serius dengan Chika.
Dean hanya membaca chat dari kakenya tersebut tanpa berniat untuk menjawabnya. Deaan benar-benar tidak mengerti jalan pikir kakeknya saat ini.
“Kakek gila! Gak ngerti lagi gua udah jalan pikirnya.” Dumel Dean sambil menatap layar ponselnya yang masih menunjukkan percakapannya dengan kakeknya.
Kakek : Chika butuh kamu.
Kakek : Cuman kamu yang bisa nolong dia.
Deandra Wally : I don't care.
Kakek Dean menuliskan ‘Begitu pun kamu sebaliknya.’ Dan hendak mengirimkannya pada Dean, namun Kakek mengurungkan niatnya dan menghapus pesan yang telah diketiknya beberapa saat yang lalu.
Dean menutup tampilan kontak Kakeknya dan beralih pada tampilan percakapan dengan Darell Bastian, teman sekaligus sahabatnya beberapa tahun belakangan ini.
Deandra Wally : Rel.
Deandra Wally : Darel.
Deandra Wally : Jangan asik pacaran aja Lo!
Darell Bastian : Kenapa?! -Clara-
Clara, Clareeta Victory adalah salah satu temannya sekaligus istri Darell.
Deandra Wally : Dasar bucin Lo berdua!
Darell Bastian : Biarin udah sah juga.
Deandra Wally : Cla.
Darell Bastian : Ini gua darel!
Deandra Wally : Dasar buchen!
Darell Bastian : Kenapa Lo?!
Deandra Wally : Rel, menurut Lo.
Deandra Wally sedang mengetik.
Darell Bastian : Apa?!
Deandra Wally : Sabar woy! Gua lagi ngetik!
Darell Bastian : Buruan.
Deandra Wally : Lo percaya sihir? *delete*
Deandra Wally : Lo percaya hantu? *delete*
Darell Bastian : Lama Lo ngetiknya!
Deandra Wally : Lo percay- *delete*
Deandra Wally : Sabar b*****t! Gua lagi ngetik ini!
Darell Bastian : Lo ngetik apa lama gitu?!
Deandra Wally : Gua lagi mikir kalimat yang pas
dan realistis buat pertanyaan gua!
Darell Bastian : Lo jomblo yan.
Jadi gak usah sok mikir realistis!
Deandra Wally : Gak ada hubungan nya rel.
Darell Bastian : Jadi nanya gak Lo!
Deandra Wally : Jadi!
Darell Bastian : Buruan kalau gitu!
Deandra Wally : Jangan potong gua typing kali ini!
Darel hanya membaca pesan tersebut tanpa mengatakan iya ataupun oke pada perintah Dean yang ditujukan untuknya.
Deandra Wally : Sialan diread doang!
Darell Bastian : Kan Lo sendiri yang
bilang jangan potong bambank!
Deandra Wally : Ohh iya. Oke.
Darel kembali hanya membaca tanpa menjawab lebbih lanjut pesan temannya itu.
Deandra Wally : Rel, Lo percaya gak,
kalau ada orang yang bisa hilang timbul?
Darell Bastian : Haaa?
Deandra Wally : Lo percaya sama mahkluk halus gak?
I mean, makhluk sejenis hantu dan kawan-kawanya.
Vampir, kuntilanak, pocong dan lain-lain.
Darell Bastian : Yan, bentar deh.
Deandra Wally : Apa?
Darell Bastian : Itu pertanyaan realistis Lo?
Deandra Wally : Iya. Masih gak realistis ya?
Darell Bastian : Gak sama sekali ogeb!
Deandra Wally : Tapi hal itu real gua liat nya.
Darell Bastian : Lo kenapa yan? Gua tau nih!
Darell Bastian : Kebanyakan minum Lo kan?
Jadi sakit otak Lo.
Deandra Wally : Gua gak habis minum btw.
Darell Bastian : Jangan bilang Lo ngobat yan?!!
Deandra Wally : Gua gak b**o darel!
Darell Bastian : Jadi Lo habis ngapain?
Deandra Wally : Habis ngeliat orang yang hilang terus timbul.
Darell Bastian : Lo nonton sulap?
Deandra Wally : Gua lebih senang kalau itu pertunjukan sulap.
Darell Bastian : Lo dimana? Kasih tau!
Gua sama Clara kesana.
Deandra Wally : Kenapa harus sama Clara?
Darell Bastian : Karena gua sama Clara sepaket.
Deandra Wally : b*****t emang buchen nya Lo.
Darell Bastian : Weeeitttz. Jomblo jangan iri.
Deandra Wally : Gak iri gua!
Tapi lo buchen disaat yang gak tepat b*****t!
Darell Bastian : Bukan gua yang buchen disaat yang tidak tepat.
Tapi Lo bukan orang yang tepat buat liat kebuchenan gua.
Deandra Wally : Terserah Lo, gak perduli gua.
Darell Bastian : Jawab pertanyaan gua!
Deandra Wally : Apa?
Darell Bastian : Lo dimana Bambang!
Deandra Wally : Ooh, di apart.
Darell Bastian : Oke, Lo kesini sekarang.
Gua dirumah Ken.
Ken, Keenan Aldric juga merupakan temannya selain Darel dan Clara. Ken adalah suami dari Dheera, Kakak Clara. Hubungan pertemanan mereka kecil namun sangat hangat dan intens.
Deandra Wally : Katanya Lo mau kesini.
Darell Bastian : Mager gua. Lo aja yang kesini yan.
Gua sama yang lain udah pada ngumpul.
Deandra Wally : Sialan emang teman kayak Lo!
Darell Bastian : Iya gua tau,
lo senang punya teman kayak gua.
Dean hanya membaca pesan tersebut, pernyataan Darel adalah sebuah kenarsisan yang tidak boleh untuk dibalas. Karna akan menimbulkan peningkaan kepedean yang besar, dan Dean tidak mau hal itu terjadi.
Darell Bastian : Langsung kesini Lo yan!
Eeh bawain nachos sekalian.
Clara kepengen itu katanya.
Dan lagi Dean hanya membaca pesan tersebut, bukan karna takut jika tingkat kepedan temannya itu bertambah. Tapi Dean kesal karna disaat seperti ini, bisa-bisanya mereka menitip makanan padanya.
Darell Bastian : Buat dheera juga.
“Sialan emang punya teman kayak gini.” Kesal Dean sambil kembali membaca tanpa membalas pesan dari Darel.
Darell Bastian : Gak bawa gua doain,
Nanti lo ngeliat orang hilang timbul lagi!
-Clara-
Dean mencampakkan hp kesembarang arah setelah kembali hanya membaca tanpa membalas pesan dari Clara yang memakai ponsel suaminya untuk menjajahnya.
“Sialan emang punya teman. Gua lagi bingung bukannya dibantuin. Malah disuruh-suruh.” Kesal Dean.
Setelah puas ngedumel tidak jelas beberapa saat, Dean mengambil ponselnya kembali dan pergi keluar. Ya kemana lagi jika bukan kerumah Ken, tempat dimana manusia penjajah itu ada.
===
Kediaman Aldric.
Dean masuk begitu saja tanpa membunyikan bel ataupun mengetuk pintu terlebih dahulu. Bukan tentang sopan santun tapi rumah Ken sudah seperti rumahnya juga, jadi tidak masalah masuk tanpa protokol bertamu seperti orang pada normalnya.
“Halo, ada orang.” Teriak Dean saat masuk lebih jauh ke dalam rumah Ken.
“Astaga Dean!!!” pekik Clara sambil mengelus d**a di mana letak jantungnya berada.
“Apa? Kenapa?” tanya Dean tanpa rasa bersalah.
“Lo bisa gak masuk itu ketuk pintu dulu atau mencet bel gitu atau setidaknya pake aba-aba gitu!” protes Clara sambil menatap tajam manusia jajahannya.
“Halah biasanya juga gitu.” Ujar Dean santai dan duduk diseberang Clara dan Darel dengan wajah tak bersalahnya.
“Ya tapi gua sekarang kaget Dean!” ujar Clara lagi tak terima kebiasaan buruk Dean.
“Bumil lebay.”
“Jangan ngehina bumil! Dosa Lo, kena karma nanti.” Ujar Clara memberi peringatan pada Dean.
“Ehhh jangan jangan. Hidup gua udah gak enak hari ini. Jangan tambah karma dari bumil.” ujar Dean cepat saat mengingat hari yang tadi dilaluinya.
“Lain kali pake aba-aba Lo!” pinta Clara dengan nada kesal.
“Iya bumil syantik.” Ujar Dean sambil tersenyum membuat Clara memutar bola matanya malas.
“Kenapa muka Lo kusut gitu?” tanya Ken pada Dean saat dirinya turun dan bergabung dengan ketiga temannya yang lain.
“Gua?” tanya Dean sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Emang ada yang mukanya kusut selain Lo disini yan?” tanya Clara sarkas.
Dean meliha sekeliling nya dengan seksama. “Enggak kayaknya.” Ujar Dean dengan wajah bingung.
“Ya berarti Lo yang ditanya!” kesal Clara.
Dean mengangguk sambil mulut yang membulat melafalkan huruf o dan h, ohh.
“Habis nonton sulap dia.” Ujar Darel membantu menjawab pertanyaan Ken yang tak kunjung dijawab oleh Dean.
“Masih mending kalau itu.” Ujar Dean yang tidak terima dengan jawaban Darel.
Ken menaikkan alisnya bingung atas sanggahan Dean. “Jadi kenapa Lo?” tanya Ken mengulang pertanyaannya pada Dean.
“Nih ya gaes. Kalian harus dengerin cerita gua.” Ujar Dean serius sambil membetulkan duduknya Dengan semangat. “Ini ceritany-..”
“Ken!!!” Pekik Dheera, kakak Clara memotong ucapan Dean dari dalam kamarnya. “Keenan! Bantuin dheera.” Pekik Dheera lagi.
“Elah ibu menyusui satu itu ganggu banget dah.” Kesal Dean sambil menatap kearah Ken.
“Istri gua itu!”
“Ya lagian gua lagi mau cerita Ken!” ujar Dean tak terima.
“Pending dulu!”
“Ta-..”
“Dheera lebih penting.” Ujar Ken memotong ucapan Dean dan pergi begitu saja ke kamar Dheera.
“Pfftt..” Clara menahan tawanya melihat Ken yang meninggalkan Dean begitu saja tanpa mendengar penolakannya terlebih dahulu.
“Diam Lo Cla!” ujar Dean tak terima Clara yang sedang menahan tawanya.
“Tapi gua pengen ngakak gimana dong?” ujar Clara dengan wajah yang benar-benar menyebalkan bagi Dean.
“Tahan.”
“Dar-..”
“Gak mandiri Lo Cla. Apa-apa cari pembelaan.” Potong Dean saat Clara hendak memanggil Darel dan mencari pembelaan.
“Gua gak cari pembelaan!” ujar Clara tak terima tuduhan Dean.
“Bukan enggak, tapi belum sempat.”
Clara menggendus kesal. “Dasar jomblo!” ejek Clara dengan wajah kesal.
“Hina aja gua terus. Tapi hati-hati aja, nanti anak lo jomblo!” ujar Dean santai sambil menunjuk perut buncit Clara.
“Astaga, amit amit. Parah Lo yan doanya.” Ujar Clara sambil mengelus perutnya.
“Bukan doa Cla. Tapi kata orang tua-tua Cla. Kalau lagi hamil gak boleh ngomong yang jelek-jelek. Takutnya malah balik ke anak nya.” Jelas Dean.
“Masa gitu?” tanya Clara.
“Iya gitu.”
“Kata siapa?”
“Kan udah gua bilang, kata orang tua-tua.”
“Yaudah deh. Lo bebas sampai gua melahirkan.”
“Berasa dipenjara gua.” Ujar Dean tak terima.
“Penjara jomblo.” Ujar Clara dengan nada pelan.
“Haa?”
“Hmm? Apa?” tanya Clara pura-pura bodoh.
“Curiga gua sama lo.” Ujar Dean sambil menyipitkan matanya.
Clara diam dann hanya tersenyum lebar pada Dean. “Dihh sok cantik lo.” Ujar Dean mematahkan senyum lebar Clara.
“Huuuufftt. Sabar Cla., orang sabar pasti cantik.” Ujar Clara sambil mengelus d**a.
“Mau muntah gua.” Ujar Dean dengan gerakan seperti orang yang akan segera muntah.
“Kalian masih lama debatnya?” ujar Darel sambil menatap jengah Istri dan sahabatnya itu.
“Kita gak debat.” Ujar Dean sambil menatap Clara meminta bantuan.
“Iya, kita gak debat” ujar Clara membenarkan.
“Yayaya terserah kalian.” Ujar Dean akhirnya. Dean sangat malas berdebat dengan kedua orang itu.
“Aku gak debat sama Dean, rel.” Ujar Clara sambil menatap penuh sayang pada Darel.
“Iya Cla iya.”
Clara mengendus kesal atas jawaban pasrah Darel. Darel hanya diam sambil mengusap puncak kepala Clara lembut untuk menjinakkan Clara dari emosinya. Emosi yang belum sempat meledak. Dan benar saja, Clara langsung luluh bak anak kucing setelahnya.
Beberapa saat kemudian. Ken kembali turun dan bergabung dengan Dean dan yang lain. “Tadi Lo mau cerita apa yan?” tanya Dean begitu mendudukkan diri disebelah Dean.
“Udah malas gua cerita.” Rajuk Dean.
“Ngambek Lo?” tebak Ken tepat sasaran.
“Gila Lo?” tanya Dean tak terima tuduhan Ken.
“Jadi Lo mau cerita gak?” tanya Ken sambil menatap Dean dingin.
“Mau lah!” ujar Dean cepat.
Ken menatap tajam Dean, dengan santainya Dean hanya membalsanya dengan cengiran lebar. “ Buruan.” Ujar Ken sambil mencari posisi nyamannya.
“Jadi kan ga--.”
“Ken!” pekik Dheeran lagi entah dari mana memotong ucapan Dean. Dengan kesal Dean menarik nafas panjang dan menatap Ken.
“Tahan Cla tahan. Jangan ketawain Dean. Kasihan nanti balik ke baby Lo.” Ujar Clara menyemangati diri sambil mengelus perutnya.
Dean menatap Clara tajam. Clara hanya membalas cengiran lebar.
“Lanjutin aja.” Ujar Ken santai.
“Yakin Lo?” tanya Dean.
“Hmm.”
“Jadi gini gaes, tadi gu-“
“Ken kok jahat sih!” ujar Dheera dengan kesal saat tiba dihadapan Ken.
Dean menutup matanya sambil menghela nafas panjang.
“Masa dheera ditinggalin sendiri dikamar! Padahal kan dheera lagi ribet.” Protes Dheera dengan wajah cemberut.
“Kan ada babysitter dhee.” Ujar ken membela diri.
“Tap-.”
“Gua kapan bisa ceritanya bapak Keenan Aldric?” potong Dean dengan nada kesal yang tertahan.
Dheera menoleh pada Dean yang memotong protesnya pada Ken. “Eehhh ada Dean.” Ujar Dheera polos.
“Hai mantan bumil syantik.” Sapa Dean dengan senyum.
“Dean ngapain kesini?”’ tanya Dheera.
“Hmm itu pengusiran atau gimana?” tanya Dean dengan wajah kesal.
“Dheera nanya.” Ujar Dheera tanpa rasa bersalah.
“Ohh nanya. Gua mau cerita.” Ujar Dean.
“Cerita apa? Seru gak?” tanya Dheera exited.
“Dean lihat orang hilang timbul dhee.” Ujar Clara.
“Hmm?” Gumam Dheera sambil melihat Dean.
“Serius Dean liat orang hilang timbul?” tanya Dheera dengan wajah yang semakin ecited.
“Gua malas jawab. Malas cerita.” Ujar Dean sambil bersedekap d**a tanda marahnya.
“Yaah kok gitu?” ujar Dheera kecewa.
“Habisnya Lo motong dia terus dari tadi dhee.” Ujar Clara membantu Dean bicara.
“Dheera? Enggak kok.” Ujar Dheera sambil menggelengkan kepalanya.
“Iya Dhee, dari tadi." Ujar Clara lagi.
“Kapan?” tanya Dheera tak mau tertuduh.
“Pas Lo manggil Ken.”
“Ohh. Itu, tadi kan dheera gak tau Sekarang dheera gak motong lagi deh. Ayo Dean cerita dong.” Bujuk Dheera.
“Males gua udah.”
“Ihhh Dean.”
“Ini percobaan terakhir!! Kalau ada yang motong, fix gua males cerita ke Lo pada!” ujar Dean akhirnya.
“Iya!!” ujar keempatnya kompak menjawab perintah Dean.
Dean mulai menceritakan pengalamannya hari ini Mulai dari permintaan kakek nya sampai pada kejadian Jessica muncul di tempat tidurnya setelah dipanggil oleh Dean.Semua terdiam percaya tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Dean.
“Yan, Lo sehat gak sih?” tanya Darel sambil menatap tidak percaya pada Dean.
“Sehat lah gua!”
“Lo gak punya riwayat skizofrenia kan?” tanya Ken pada Dean.
“Gila ya Lo Ken! Ya kagak lah!”
“Tadi Lo bilang kakek Lo bisa apa yan?” Tanya Darel.
“Kakek gua bisa ngelihat dan berkomunikasi dengan makhluk makhluk tak kasat mata. Hmm bahasa kerennya Indigo.” Terang Dean.
“Waaaah.” Ucap Clara dan Dheera bersamaan.
Dean menatap kedua kakak beradik itu dengan tatapan sinis. “Keren.” Ujar Dheera dan Clara lagi. Membuat tatapan tajam Dean semakin menjadi pada Dheeran dan Clara.
“Keren?!” tanya Dean.
Clara dan dheera menganggukkan kepalanya. “ Waaah, sakit Lo berdua.” Ujar Dean sambil menggelengkan kepalanya.
“Lo gak bisa gitu juga yan?” tanya Clara tanpa beban.
“Iya Dean gak bisa lihat hantu juga? Kan seru kalau bisa lihat.” Timpal Dheera tak mau kalah.
“Seru pala Lo petak! Itu creepy dhee.” Kesal Dean.
“Tapi dheera pengen.” Ujar Dheer membuat Dean mendelik tajam.
“Iya gua juga dhee.” Celetuk Clara yang juga tak mau kalah.
“Fix, Lo berdua sakit!” ujar Dean akan ucapan Dheera dan Clara. “Lo berdua gak ada komentar?” tanya Dean setelahnya pada Darel dan Ken.
“Gua gak percaya yang gituan.” Ujar Ken.
“Hmm gua juga dikit.” Jawab Darel ikut-ikutan.
“Syukur lah gua punya teman normal.” Ujar Dean sambil bernafas lega.
“Tapi Lo beneran ngilat itu cewek tiba-tiba muncul?” tanya Darel memastikan hal yang diceritakan oleh Dean sebelumnya.
“Iya! Part itu yang gua kaget banget! Sumpah demi apapun gua syok banget tadi.” Ujar Dean semangat 45.
“Tapi kan-.”
“Apa?” tanya Dean memotong ucapan Clara.
“Lo kenal sama itu cewek?”
“Enggak.”
“Teman kecil lo gitu?” tanya Darel.
“Kelihatan dia masih muda deh. Soalnya dia keliatan manja banget sama mama nya.” Ujar Dean mengingat tngkah Chika.
Mendengar ucapan Dean, Ken langsung menoleh pada Dheera. “Ini bocah udah tua masih manja.” Ujar Ken sambil menunjuk Dheera.
“Ihh Dheera belum tua Ken!” ujar Dheera dengan wajah cemberut.
“Udah punya anak udah tua dhee.”
“Berarti gua masih muda.” Ujar Clara membanggakan diri.
“Lo tua walaupun gak punya anak.” Ujar Ken santai.
“Kelihatan masih lebih muda dari dheera anaknya.” Ujar Dean.
“Jadi kalau Lo gak kenal. Tapi kenapa dia muncul Lo panggil?” tanya Clara.
“Nah gua bertanya itu juga.”
“Tapi sebelumnya nih. Dia manusia bukan?” tanya Darel.
“Gua sempat mikir bukan manusia.” Jujur Dean.
“Hmm emang Dean indigo juga?” tanya Dheera.
“Eng.. gak?”
“Jadi kok mikir dia bukan manusia?”
“Mana ada orang bisa hilang timbul sendiri dheera.” Ujar Dean jengah.
“Ohh iya ya.”
“Jadi gimana Lo mastiin dia manusia?” tanya Clara lagi.
Dean diam sejenak. “Gua lihat kakinya napak lantai.” Ujar Dean setelahnya, tanpa sadar Dean kembali teringat ucapan Chika tadi padanya. Chika yang tersenyum dan menyebut nama Lauren dengan frontalnya.
“Tapi kenapa dia bisa tau Lauren. Apa kamu ada disini sama aku ren?” tanya Dean dalam hati.
“Dean!” pekik Darel.
“Haaah.”
“Ditanyain malah bengong.”
“Kenapa?”
“Kenapa Lo bengong? Tiba-tiba indigo Lo?” tanya Darel asal.
Dean hanya diam dan menunjukkan smirknya.
“Jangan smirk yan! Gua ngeri!” ujar Clara.
“Enggak elah.”
“Jadi kenapa Lo bengong?” tanya Darel lagi.
“Jangan bilang Lo mikirin itu cewek?” tebak Ken.
“Yahhh ketebak gua.” Ujar Dean dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
“Yeee. Kirain mikirin apa Lo.” Ujar Clara.
“Enggak elah! Bercanda gua.”
“Jadi mikir apa Lo? Jujur gak Lo!” paksa Darel.
“Gua harus jujur nih?”
“Iyalah!” ujar Clara.
Muka Dean berubah menjadi serius seketika. Sorot mata Dean berubah 360° Ada kemarahan dan kesedian didalamnya. “Yan, jangan bikin gua seram gitu!” ujar Clara dengan nada khawatir.
Lagi-lagi Dean hanya diam sambil menunjukkan smirknya.
“Setelah 3 tahun berlalu. Itu pertama kalinya bagi gua lagi.” Ujar Dean pelan.
“Yan.”
“Tadi cewek itu. Nyebut nama Lauren.” Ujar Dean menabaikan panggilan Darel.
Deg. Semuanya disitu diam tanpa kata. Sambil menatap Dean. “Yan.” Panggil Clara khawatir.
“Itu pertama kalinya buat gua dengar nama itu lagi.”
“Gak usah dilanjut.” Perintah Darel.
“Cewek itu bahkan nyebut dengan nama lengkap. Lauren Alexandria.” Ujar Dean lagi dan terus mengabaikan panggilan yang ditujukan untuknya.
“Dean!” bentak Dean.
Dean melihat Ken nanar. “Percuma. Portal itu udah terbuka. Mau gak mau gua harus masuk ke portal itu lagi.” Ujar Dean frustasi.
Ken terdiam, begitu juga dengan yang lain.
“Gua harus gimana sekarang? Gua belum siap-siap untuk hal ini. Gua belum mikir apa yang harus gua lakuin supaya bisa keluar dari portal itu.” Sambung Dean.
“Keluarin kunci mobil Lo!”’ pinta Ken tegas.
Dean menatap Ken bingung. “Card apart Lo juga!”
Deam masih diam dan menatap bingung Ken. “Cepat Dean!” bentak Ken lagi.
Dean mengeluarkan kunci mobil dan card apart nya. Dengan segera Ken mengambil kedua benda tersebut.
“Lo nginap disini. Tidur di kamar tamu.” Ujar Ken sambil mengambil kunci mobil dan apartemen Dean.
“Ta-..”
“Gua gak menerima penolakan. Dan jangan sesekali Lo keluar dari pintu itu tanpa izin dari gua!” ujar Ken memotong ucapan Dean.
Dean kembali hanya diam.
“Dengar yan?” tanya Ken lagi.
“Gua bukan anak kecil Ken.” Ujar Dean melakukan protes.
“Paham Dean?!”
“Iya.”
“Dan Lo rel. Pastikan nih bocah gak ngelanggar.”
“Ashiiap.”
“Ken gua bukan anak kecil.”
“Kali ini Lo gak akan biarin Lo masuk kedalam portal itu. Dan ini salah satu cara Lo gak masuk kedalam portal itu lagi.”
Dean kembali terdiam.
“Gua salah biarin Lo sendiri 3 tahun lalu. Gak seharusnya gua ninggalin Lo sendiri ditengah kesedihan Lo. Turutin omongan gua, kalau Lo gak tau cara buat keluar dari portal itu. Kalau Lo gak nurutin yang gua bilang. Silahkan masuk keportal hitam buatan imajinasi lo itu.”
...
..
.
To be Continue