Pendekatan

3090 Kata
Besoknya, di apartemen Dean. Lagi-lagi Dean terbangun karena ada suara berisik dari kamar seberang. Ya siapa lagi kalau bukan Chika pelakunya. Dean bangun dari tidur nya dan duduk dipinggir tempat tidur. Mengumpulkan nyawanya dan emosinya yang tertumpuk. Setelahnya Dean langsung pergi kekemar Chika. Namun bukannya marah Dean malah terdiam melihat Chika. Chika sedang mengatur ukulelenya agar nada nya lebih baik dari sebelumnya. “Dia berisik tadi mainin ukulele?” batin Dean. Chika masih terus mainin ukulele nya tanpa menyadari bahwa Dean sedang melihatnya dari pintu. “Tapi btw itu baju nya gak ada yang lebih ketutup apa? Awas aja Lo nanti kalau udah jadi istri gua. Gua bakar semua baju gak beres Lo itu.” Batin Dean dengan mata tajam kearaha baju Chika yang sangat ngepas membentuk lekuk tubuhnya dan sangat minim bahan. Dean masih terus melihat Chika dan Chika masih terus tidak mengetahui sedang dilihatin. Dean berdehem keras membuat Chika melihat sumber suara. “Ehh. Kak Dean?” ujar Chika saat melihat Dean yang berdiri di ambang pintu sambil menatap dirinya. “Kenapa kak?” tanya Chika lagi. “Lo bangun jam berapa?” tanya Dean sembari masuk kekamar Chika. Lalu duduk di kasur, menghadap Chika. “Hmm?” “Dijawab Chika.” “Jam 5.” Ujar Chika bicara sambil mengangkat 5 jarinya. “Hmm.” Gumam Dean menganggukkan kepalanya. “Ngapain aja Lo dari jam 5?” tanya Dean lagi. “Banyak.” “Apa aja?” tanya Dean tak pas dnegan jawaban Chika. “Tadi Chika diajak ngobrol sam----.” “Sica?” tanya Dean memotong ucapan Chika. “Bukan.” Ujar Chika sambil menggelengkan kepalanya. “Jadi siapa?” tanya Dean mulai memasang mode hati-hati.. “Penghu-----.” “Stop!” ujar Dean menghentikan Chika. “Gak usah kasih tau gua. Gua masih lama tinggal disini.” Sambung Dean lagi dnegan tegas. “Hmm?” gumam Chika bingung. “Gua gak mau dengar hantu pagi-pagi. Dan gua gak mau dengar apapun tentang penghuni apartemen ini.” Ujar Dean dengan nada tegas. “Hmm yaudah.” Ujar Chika pasrah, karna dia juga tidak mungkin memberi tahu Dean dengan siapa da berbicara. “Padahal Chika ngobrol sama kak Lauren.” Batin Chika. “Lo udah sarapan?” tanya Dean mengalihkan pembicaraan kembali ke pembicaraan normal. “Belum. Chika nunggu kakak.” Ujar Chika sambil tersenyum. “Mau sarapan apa Lo?” tanya Dean. “Kakak mau buat sarapan?” “Hmm..” “Gak usah kak. Chika udah buatin sarapan buat kakak.” Ujar Chika melarang Dean. Dean melihat Chika sambil menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa?” tanay Chika polos. “Lo bisa masak?” tanya Dean. “Bisa.” Ujar Chika mantap. Dean menatap Chika dengan alisnya yang naik sebelah. “Beneran kak. Kakak gak percaya?” tanay Chika sambil menatap Dean. “Enggak.” “Chika dirumah itu kerja nya selain main----.” “Sama hantu.” Dean memotong dan menyambung kalimat Chika. “Kakak!” “Bener kan gua?” tanya Dean. “Hmm ya Chika akuin itu.” Ujar Chika mau tak mau. “Bagus.” “Tapi kak. Selain itu, Chika suka belajar masak.” Ujar Chika membanggakan diri. “Jadi Lo bisa masak?” “Chika bukan cuma bisa. Tapi Chika ahli.” Ujar Chika dnegan nada yang sangat bangga akan keahliannya. “Gak percaya gua.” Ujar Dean datar menjatuhkan rasa bangga Chika akan dirinya. “Ihh kakak!” “Apa?” tanya Dean tanpa dosa. “Percaya sama Chika.” “Malas. Siapa Lo?” “Calon istri kakak.” Ujar Chika menjawab Dean. “Kalau jadi.” Ujar Dean asal. Chika diam mendengar ucapan Dean. Muka Chika berubah seketika. Dean yang bingung hanya mengernyitkan dahinya. “Kenapa ni bocah? Kesambet?” tanya Dean dalam hati. “Chik. Chika.” Panggil Dean. “Hmm?” gumam Chika. “Kenapa Lo tiba-tiba diam?” tanya Dean sambil mengernyit heran. “Gpp kak. Ayok kak sarapan.” Ajak Chika.sembari berdiri dari duduknya. Lalu pergi keluar kamar tanpa aba-aba. Dean semakin bingung dengan keadaan saat ini. “Ngambek? Atau marah? Tapi tumben diam aja? Biasanya juga ngejawab. Apa marah beneran?” batin Dean bertanya-tanya. “Kak Dean.” teriak Chika dari luar. “Iya gua keluar.” Ujar Dean membalas dengan teriakan. “Beneran marah tu orang? Tapi karna apa?” tanya Dean lagi dalam hati. Dean berdiri dari duduknya dan pergi keluar. Dean langsung menuju meja makan. Benar saja, dimeja makan sudah ada hidangan sarapan. Yang tidak terkonfirmasi dimasak sendiri atau beli. “Pertama kali apart gua punya sarapan kayak gini. Biasanya juga gua kalau gak roti paling sereal.” Ujar Dean dalam hati sambil menatap meja yang berisi sarapan yang normal. “Lo beneran masak sendiri?” tanay Dean sambil menatap Chika. “Hmm. Kakak masih gak percaya?” tanay Chika sambil membalas tatapan Dean. “Bahannya dari mana?” tanya Dean. “Minta anterin sama maid.” Ujar Chika jujur. “Haa? Kok bisa?” tanya Dean. “Chika nelpon maid tadi pagi. Minta dia buat belanja bahan buat masak dan nganterin kesini.” Ujar Chika memberi tau Dean. Dean lagi-lagi mengernyitkan dahinya. “Tuh sisa belanjaan yang belum Chika susun.” Ujar Chika  Chika menunjuk sisa belanjaan yang ada didapur. “Chika gak tau letaknya dimana.  Jadi Chika biarin aja dulu, daripada Chika salah nantinya.” Sambung Chika lagi. Dean hanya Diam tak menjawab. “Chika gak mau kakak mar----.” “Susun aja semau Lo.” Ujar Dean memotong ucapan Chika. “Hmm?” gumam Chika mengernyit bingung. “Susun aja semau Lo barangnya.  Gua gak akan marah.” Ujar Dean lagi. “Chika boleh nyusun semau Chika?” tanya Chika. “Iya.” “Beneran Chika boleh kak?” tanya Chika lagi. “Hmm. Buat aja semau Lo. Asal jangan Lo berantakin aja.” Ujar Dean lagi. “Enggak kok, kakak tenang aja.” Ujar Chika dengan muka yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dean tersenyum sangat tipis. Jika tidak memperhatikan secara detail. Orang tidak akan tau jika Dean sedang tersenyum. “Gua bisa makan ini?” tanya Dean sambil menunju makanannya. “Bisa, kan buat kakak.” Ujar Chika. “Bukan itu.” “Jadi?” “Layak dimakan gak nih? Nanti gua keracunan lagi.” Tanay Dean dengan nada yang meragukan. “Ihh kakak! Yaudah jangan dimakan! Sini Chika aja yang makan.” Ujar Chika dnegan tatapan kesal. “Katanya buat gua?” ujar Dean. “Tapi kakak gak percaya sama masakan Chika. Jadi daripada nanti kakak jadi sakit beneran, jadi Chika aja yang makan.” Ujar Chika dengan nada kesal. “Beneran ada racunnya?” tanya Dean lagi. “Enggak!” “Jadi kenapa gua bisa sakit makan makanan Lo?” tanya Dean mempermainkan otak anak 19 tahun. “Karna di mindset kakak masakan Chika gak layak dimakan.” “Bisa buat sakit?” tanya Dean. “Bisa. Sakit itu kebanyakan ada karna mindset kita. Kalau mindset kita berfikiran kalau kita gak sembuh dari sakit. Tubuh kita akan nolak buat sembuh juga. Jadi kalau kakak mindset kakak berfikiran masakan Chika gak layak dan kalau kakak makan bisa sakit. Maka nantinya kakak bisa sakit beneran.” Jelas Chika panjang lebar dnegan nada yag menggebu-gebu. “Karna mindset gua?” tanya Dean. “Hmm.” “Kata siapa gitu?” tanya Dean mempertanyakan kredibelitas ucapan Chika. “Kata kakek.” Ujar Chika percaya diri. Dean menghela nafas berat. “Hidup Lo apa-apa kakek! Gua jadi ngerasa Lo cucu kakek bukan gua.” Ujar Dean. “Chika juga gak ngerti. Dari Chika lahir, kakek udah ada buat jaga Chika.” Ujar Chika dengan nada polos. Dean diam. “Seketika gua iri sama Lo. Gua iri kakek tua itu perduli sama Lo dari Lo kecil. Sedangkan sama gua, gak kayak gitu.” Batin Dean. “Kakak!” pekik Chika untuk kesekian kalinya membuat Dean tersentak dari lamunannya. “Apa?” tanya Dean. “Kenapa bengong?” “Kakek tua itu bilang apa sama Lo?” tanya dean mengabaikan pertanyaan Chika. “Kata kakek----.” “Gak usah sebut kakek nya. Gua lagi gak mau dengar.” Ujar Dean. “Jadi Chika gimana cerita nya.” Tanya Chika bingung “Yaudah sebut aja!” “Jadi kak, kata kakek. Semuanya yang ada di diri kita itu berpusat diotak. Semua reaksi yang terjadi ditubuh kita, harus masuk ke otak dulu baru tubuh bisa berkerja.” Ujar Chika menjelaskan. “Hmm terus.” “Chika lupa terusan nya.” Ujar Chika polos. “Pokoknya mindset kita akan mempengaruhi apapun yang terjadi pada tubuh kita itu.” Sambung Chika. “Gak valid info Lo.” Tanya Dean kembali meragukan Chika. “Gua gak percaya.” Sambung Dean. “Kok!” “Lo beneran sering belajar masak dirumah?” tanya Dean lagi. “Hmm.” Gumam Chika sambil mengangguk. “Yaudah gua akan mencoba untuk percaya dengan kemampuan masak Lo.” Ujar Dean dengan wajah yang masih sedikit meragu. “Tapi kak.” “Apa?” tanya Dean bingung. “Kalau kakak beneran sakit gimana?” tanya Chika dengan wajah khawatir. Dean terdiam sejenak. Berfikir jawaban apa yang tepat sebagai jawaban. Detik kemudian Dean menatap Chika. “Hmm, berarti. Gua harus membangun mindset yang positif tentang Lo. Supaya gua gak cepat matinya.” Ujar Dean dengan wajah yang santai. “Hmm?” “Udah ya, gua mau makan. Stop ngajak ngomong dan nanya-nanya gua.” Ujar Dean sambil mengambil sendok dan garpu dengan sedikit ragu. “Iya.” Ujar Chika sambil menatap Dean. “Kalau masih gak percaya jangan dimakan. Chika gak mau kakak jadi sakit beneran.” Ujar Chika yang menatap Dean dengan wajah khawatir. “Gua percaya sama Lo. Lo akan jadi istri gua nantinya. Jadi percaya atau enggak, gua harus percaya sama Lo.” Ujar Dean membuat pipi Chika merona merah. “Chika mau pause waktu bentar bisa gak? Chika suka kak Dean kayak gini sama Chika.” Batin Chika sambil menatapa Dean. “Tapi kalau masakan Lo ternyata gak enak, awas aja lo. Gak bakal pernah Lo nyentuh dapur lagi.” Ujar Dean setelahnya. Chika tidak menjawab tapi hanya mengendus kesal. “Baru aja Chika senang. Udah dijatuhin aja.” Batin Chika sambil memanyunkan bibirnya. Dean mulai memakan makan yang dihidangkan untuknya. Dean mengernyitkan dahinya, membuat Chika takut akan masakannya. Chika merasa masakannya sudah perfect. Tapi Chika tidak tau, makanan itu perfect atau tidak di lidah Dean. Dengan segala keberanian yang ada, Chika menanya Dean. Menanya pendapat Dean tentang masakannya. “Hmm.. Gimana kak? Enak atau enggak?” tany Chika dengan nada takut. “Ini beneran Lo yang masak?” tanya Dean sambil menatap Chika. “Iya. Gak enak ya?” tanya Chika khawatir. “Boleh lah, not bad.” Ujar Dean sambil kembali menyendok makanan kedalam mulutnya. Chika menghela nafas lega. “Sialan. Ini mah lebih dari enak. Koki di cafe gua aja kalah masakannya.” Ujar Dean dalam hati. “Jadi Chika masih boleh kedapur kan?” tanya Chika dengan wajah berharap. “Boleh.” Ujar Dean. “Yeeey.” Ujar Xhika senang sebelum akhirnya ikut menikmati sarapannya bersama Dean. Pikirannya sudah lega, karna dia masih boleh menyentuh dapur. Berbeda dengan Dean yang otak pengusaha nya keluar. “Apa gua jadiin dia koki di cafe aja sekalian? Masakannya enak banget. Ehh apaan Lo yan, enggak enggak. Entar lo dikira cowok apaan kali yan. Masa iya istri Lo, lo jadiin koki dicafe Lo sendiri. Eehh ralat, masih calon istri.” Batin Dean. Dean membuang pemikiran pengusaha nya tersebut dan mulai menikmati masakan Chika. “Chika.” Panggil Dean. “Hmm.” “Gua mau nanya.” Ujar Dean sambil menoleh pada Chika. “Apa?” tanya Chika. “Kenapa Lo gak ikut orang tua Lo keluar negeri? Anak seusia Lo pada umumnya akan ikut orang tuanya pergi. Apalagi kalau keluar negeri, hal yang ga boleh dilewatkan kayaknya.” Ujar Dean beruntun. “Chika pengen. Tapi gak dibolehin.” Ujar Chika dengan bibir manyun. “Kenapa?” tanya Dean bingung. “Takut.” Ujar Chika. “Takut apa Lo?” “Kalau Chika hilang gak ada yang bisa balikin. Kalau Chika ikut mama, berarti kakek harus ikut juga.” Ujar Chika menjelaskan. “Hmm.” “Lagian Chika malas ikut.” Ujar Chika lagi. “Kenapa?” “Hantunya kalau diluar negeri pake bahasa asing. Kalau dia bahasa Inggris, Chika masih bisa dengarin dan jawab. Tapi kalau bahasa lain kan susah.” Ujar Chika lagi membuat Dean menatapnya tajam. “Lo curhat-curhatan sama hantu?” tanya Dean. “Hmm, bisa dibilang gitu.” “Waah gak sehat otak Lo.” Ujar Dean mencerca Chika. “Chika sebenernya gak mau. Tapi kadang ada beberapa hantu yang maksa buat didengerin.” Ujar Chika lagi. Dean diam. “Obrolan absurd dimulai.” Ujar Dean dalam hati. “Pernah nih ya kak Chika gak mau dengerin curhatan hantu itu. Dia marah sama Chika, terus dia nunjukin wajah aslinya.” Ujar Chika. “Emang mereka punya wajah palsu?” tanay Dean bingung.. “Hmm gini kak. Hantu itu sama kayak kita kak. Mereka terlihat normal dan nyata sekilas.” Ujar Chika menjelaskan pada Dean. Dean menyatukan alisnya. “Mereka terlihat sama kayak manusia biasa. Jadi Chika gak bisa bedain mana manusia mana hantu. Karna itu Chika gak di boleh main keluar sama kakek sama mama.” Sambung Dean lagi. “Jadi gak kayak difilm film horor gitu? Yang jelek terus kucel terus berdarah-darah.” Tanya Dean sembari mengingat film yang pernah dilihatnya. “Hmm ada yang kayak gitu. Tapi Chika jarang lihat.” Ujar Chika. “Jadi hampir semuanya cantik dong hantunya.” “Tapi enggak kalau mereka lagi marah.” Ujar Chika memperjelas. “Nah, itu maksudnya apa?” tanya Dean dengan wajah bingung. “Kalau mereka marah, mereka akan mengeluarkan wajah aslinya. Wajah mereka pada saat mereka mati.” Ujar Chika menjelaskan. Dean diam sambil menelaah obrolannya dengan Chika. “Monmaap sekeluarga. Calon istri gua kok agak creepy yak.” Ujar Dean dalam hati. “Pokoknya gimana mereka saat mati, begitu lah wujud mereka.” Ujar Chika. “Dan itu wujud?” “Wujud asli mereka.” Ujar Chika memperjelas. “Jadi penampilan yang cantik itu?” “Kamuflase?” jawab Dhika dnegan nada bertanya. “Bahasa Lo.” “Chika gak tau bilang nya apa. Tapi bener kak, itu buat penyamaran.” Ujar Chika memnanggapi ejekan Dean. “Hmm yayaya. Terus si Sica Sica itu gimana---.” “Wujud aslinya?” potong Chika memotong ucapan Dean. “Hmm dia ada disini gak?” tanya Dean. “Enggak. Katanya dia mau main. Jadi dia gak akan kesini dulu.” Ujar Chika seperti menjelaskan kemaa anak mereka pergi. Dean menganggukkan kepalanya. “Jadi, dia gimana wujudnya?” tanya Dean lagi. Chika diam seejak. “Sica anak kecil umur 5 tahun. Dia cantik, rambutnya panjang sepinggang pake poni tengah. Dan dia pakai baju tradisional.” Ujar Chika enjelaskan pada Dean sambil tersenyum. “Itu wujud kamuflase nya?” tanya Dean, Chika hanya tersenyum tipis sebagai jawabannya. “Wujud aslinya?” tanya Dean. Wajah Chika berubah menjadi sedih seketika. “Chika gak mau bilang, Chika sedih ngingatnya.” Ujar Chika dengan nada sedih. “Drama nih bocah. Cuman karna ngingat itu aja sedih.” Batin Dean. “Lo tau?” tanya Dean malas menghiraukan wajah sedih Chika. “Tau.” Ujar Chika. “Pernah dilihatin?” “Iya.” “Parah?” Chika melihat Dean nanar. “Parah.” Ujar Chika dengan wajah murung. “Yaudah gak usah dibilang.” “Maaf.” Ujar Chika merasa bersalah. “Untuk?” tanya Dean dengan kedua alis yang menyatu. “ak mau cerita sama kakak.” Ujar Chika. “Santai aja kali. Gua lebih senang kalau gak tau sebenarnya.” Ujar Dean. Chika hanya diam. “Jadi Lo udah lama temenan sama dia?” tanay Dean membuat wajah Chika berubah menjadi senang seperti biasa. “Udah. Dari Chika kecil.” Ujar Chika dnegan nada semangat. “Dia teman pertama Chika.” Sambung Chika. “Teman pertama Lo?” tanya Dean. “Hmm. Chika ketemu nya di-----.” “Stop sampai disini.” Ujar Dean menghentikan Chika yagn tengah bercerita. “Gua gak mau dengar part itu. Cukup kasih tau dari umur Lo berapa tahun aja.” Sambung Dean. “Hmm waktu Chika 5 tahun.” Ujar Chika sambil mengendus kesal. “Hmm.. Terus kapan Lo sadar kalau dia gak real?” tanya Dean. “Saat Chika semakin besar, tapi dia enggak. Dia selalu dengan tingkah dan bentuk yang sama setiap tahunnya.” Ujar Chika mengingat kembali memorinya dnegan Chika. Dean hanya diam mendengar penjelasan dari Chika. “Sampai Chika umur 10 tahun. Saat itu dia nunjukin wujud aslinya.” Lanjut Chika. “Dan Lo?” “Chika kaget dan takut ngeliat wujud dia. Chika gak mau temenan sama dia dan Chika minta dia pergi.” “Dia pergi?” “Hmm. Dan disitu Chika sadar kalau Chika bisa lihat banyak mahkluk diluar manusia. Dan juga Chika sadar, kalau selama Sica selalu ngejaga Chika, tanpa Chika sadar.” Ujar Chika sambil tersenyum, mengingat hangatnya makhluk kecil itu padanya. “Hmm gimana?” “Dari situ Chika sering hilang. Terus chika mulai diganggu sama makhluk yang lain.” ujar Chika menjelaskan kebingungan Dean. “Terus Lo gimana saat itu?” “Chika takut. Chika manggil dia siang malam. Tapi dia gak pernah datang.” Ujar Chika dnegan nada sedih. “Kapan dia datang sama Lo lagi?” “Saat Chika mulai putus asa. Suatu hari pas Chika hilang, Chika mau makan makanan yang disediain hantu.” Ujar Chika membuat Dean kaget. “Chika mikir, apa Chika jadi mereka aja biar Chika bisa ketemu sama Sica lagi.” Ujar Chika. “Lo sadar yang Lo buat gak?” tanya Dean menatap kesal wanita di depannya. “Enggak. Kan Chika udah bilang, Chika lagi putus asa saat itu.” Ujar Chika tanpa rasa bersalah. “Terus kenapa gak jadi Lo makannya?!” kesal Dean lagi. “Karna Sica datang buat ngelarang Chika. Sejak saat itu, Sica gak pernah pergi lagi dari hidup Chika. Dan sejak saat itu Chika sama Sica janji buat terus temenan sampai kapan-kapan.” Ujar Chika dengan senyum lebar di bibirnya. “Drama banget Lo berdua.” Cerca Dean. “Biarin.” “Jadi Lo bakal temenan sama hantu sampai kapan tau?” tanya Dean yang langusng di jawab dnegan anggukan oleh Chika. “Hmm.” “Gpp kan kak?” tanya Chika. Dean diam tidak langusng menjawab. “Kakak gak bolehin?” tanay Chika dengan wajah murung. “Terserah Lo aja. Asal jangan pernah buat yang aneh-aneh. Gua malas diminta tanggung jawab sama kakek!” ujar Dean dengan nada kesal yang sama jika sedang berbicara yang menyangkut Kakeknya. Chika tersenyum lebar. “Kakak tenang aja. Chika gak bakal aneh-aneh kok.” Ujar Chika sambil tersenyum lebar. “Hmm.. Bagus.” Ujar Dean berdiri dari duduknya dan membawa piring makannya. “Kakak mau kemana?” tanya Chika. “Nyuci piring. Lo buruan makannya, biar gua cuciin sekalian.” Ujar Dean. “Eehh jangan jangan jangan. Kakak letakin aja piringnya. Gak usah dicuci. Biar Chika aja yang cuci.” Ujar Chika. “Udah lah, gua aja. Kan tadi Lo udah masak.” Ujar Dean menolak. “Ihhh enggak boleh. Chika aja. Kakak letak disitu aja piringnya!” ujar Chika memaksa. Karna gak mau ribut dengan bocah 19 tahun. Dean hanya meletakkan piringnya. Lalu pergi keruang tamu. Setelah selesai makan, Chika langsung berdiri membawa piringnya. Dan mencucinya berikut dengan piring Dean. Setelah itu, Chika pergi ke ruang tamu dimana Dean berada. “Kak Dean.” Panggil Chika dengan nada semangat sambil duduk di samping Dean. Dean menoleh kearah Chika tanpa menjawab. “Kan kan kan mulai lagi. Pake baju kayak gitu, dengan pose bagaimana pun akan selalu terlihat sexy. Apalagi ni bocah, yang udah sexy dari sananya.” Batin Dean sambil memperhatikan Chika yang sedang mengemut cuacup sambil menatap Dean dengan wajah cerahnya. Dean mengalihkan pandangannya pada hpnya lagi. “Chik.” “Iya kakak.” “Gua punya pertanyaan.” Ujar Dean. “Susah gak pertanyaannya?” tanya Chika. “Harusnya enggak.” Ujar Dean. “Apa pertanyaannya?” tanya Chika. “Punya motivasi apa Lo pakai baju kayak gitu?” tanay Dean sambil menunjuk bju Chika dnegan gerak matanya. Chika melihat pakaiannya. “Emang kenapa kak?” tanay Chika dnegan wajah tanpa rasa bersalah. “Ya kalau Lo pakaian kayak gini terus bisa bahaya. Gimana kalau gua gak bisa nahan diri?” kesal Dean dalam hati. “Enggak Dean enggak, dia masih bocah 19 tahun. Kalau Lo lagi pengen banget, sama yang lain aja yan. Jangan Lo malah ngerusak bocah 19 tahun.” Batin Dean bijak. “Kak. Kak Dean.” Panggil Chika yang sedang diam menatap lurus kearah lantai sambil sesekali menggelengkan kepalanya. “Hmm?” gumam Dean tersentak kaget. “Kakak mikir apa? Kok bengong?” tanya Chika. “Gak mikir apa-apa.” “Tadi kakak nanya Chika, Chika udah jawab. Tapi kakak malah gak dengerin Chika.” Ujar Chika sambil memanyunkan bibirnya. “Sorry sorry. Lo jawab apa tadi?” tanya Dean. “Karna, Chika mau jadi milik kakak.” Ujar Chika sambil tersenyum cerah. Dean melihat Chika yang ada disebelahnya. “Chik.” Panggil Dean. “Iya kak.” Jawab Chika melihat kearah Dean sambil tersenyum. “Lo gak perlu pake baju kayak gini kalau itu alasannya.” Ujar Dean tulus. “Kenapa? Kakak gak suka sama Chika?” tanya Chika dnegan wajah murung. “Nope. Bukan itu.” “Jadi kakak suka Chika?” tanya Chika dengan wajah yang berharap. “Ya bukan itu juga alasannya.” “Jadi kenapa? Kenapa Chika gak perlu pake baju kayak gini?” tanya Chika bingung. “Karna----.” “Karna apa?” tanay Chika tak sabar ingin tau alasananya. Dean diam sejenak. “Kan diam lagi!” kesal Chika. Dean melihat Chika lagi. “ Karna lo udah jadi milik gua.” Ujar Dean pelan. “Hmm?” gumam Chika dengan mata yang membulat dengan sempurna. “Kakak bilang apa?” sambung Chika lagi. “Lo udah jadi milik gua.” Ujar Dean dnegan nada yang santai tanpa beban. “K-kak..” “Gua serius. Jangan ditanya keseriusan gua.” Ujar Dean memotong ucapan Chika yang dia tau kemana arah pembicaraannya. “Hmm, ya tap----.” “Kakek udah nentuin kapan pernikahan kita.” Ujar Dean kembali memotong ucapan Chika. “Hmm?” “Pernikahan kita dilaksanakan tepat saat umur Lo 20 tahun.” Ujar Dean. “Berarti-----.” “Iya bentar lagi. 2 bulan lagi kan?” tanya Dean memastikan. Chika mengangguk mengiyakan. “Yaudah.” “Tapi kak.” “Tapi apa lagi?” “Kakak kan belum suka sama Chika.” Ujar Chika dengan wajah murung. “Nih ya gua tanya sama Lo. Penting apa gua suka atau enggak? Enggak kan?” tanya Dean. “Buat Chika penting.” Dean menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa penting?” tanya Dean. “Karna, Chika gak mau kakak nerima Chika karna terpaksa. Chika gak mau ka----.” “Gua gak terpaksa nerima Lo.” Ujar Dean memotong ucapan Chika. Chika melihat dean dengan penuh tanda tanya. “Serius gak terpaksa.” Tanya Chika. “Hmm.” “Jawabannya harusnya iya kak. Bukan hmm.” Kesal Chika. Dean memutar matanya malas. “Iya Chika iya. Puas?” tanya Dean. Chika diam sejenak. “Tapi kak.” “Astaga! Apa lagi? “Kalau seandainya----.” Chika memotong kalimatnya. Pikirannya kembali menimbang-nimbang. Apakah pertanyaan itu harus dilontarkan atau tidak. “Seandainya apa?” tanya Dean sambil menyatukan kedua alisnya. “Gak jadi.” “Gak jelas Lo.” “Biarin!” Dean mengambil hpnya dan membuka aplikasi game. Setelahnya Dean diam seribu bahasa dan fokus pada game nya. Sedangkan Chika sibuk dengan pemikirannya. “Gimana kalau seandainya, Chika gak sampai diposisi itu kak? Gimana kalau kata kak Lauren itu bener?”batin Chika. “Apa kakak akan senang gak jadi nikah sama Chika? Atau kakak akan sedih? Chika pengen tau akan itu kak. Tapi Chika takut untuk tau kenyataannya. Chika harus apa?” sambung Chika lagi dalam hati. === == = Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN