Keputusan

3298 Kata
Dean dan Chika sedang ngobrol dengan asiknya. Bukan hanya mengobrol tapi saling meledek juga. Namun tiba-tiba ada yang memotong obrolan mereka. “Dean?” panggil seseorang yang bersuara lembut tak jauh dari Dean dan Chika. Dean melihat pada sumber suara. “S-sherin.” Panggil Dean dengan nada terbata-bata. “Gak bisa karna ada urusan mendadak dan penting.” Ujar Sherin dengan nada sarkasme. “Mati gua. Kenapa gua harus kesini?” ujar Dean dalam hati. “Hmm sher---.” “Ini urusan kamu?” tanya Dean memotong ucapan Dean dengan nada sarkasme. “Mesra-mesraan sama cewek?!” sambung Sherin. “Gua bisa jelasin sher---.” Ujar Dean yang kembali dipotong oleh Sherin. “Apa?!” pekik Sherin. “Gua jelasin gimana? Mau gua bukan gini.” Batin Dean lagi. “Dean.” Panggil Sherin yang sangat malas menunggu pria itu berfikir tentang alasannya mengenai hal ini. Dean masih diam tak berkutik. Sherin melihat Chika dengan tatapan tidak suka. “Lo siapa?” tanya Sherin pada Chika dengan wajah yang tidak senang. “Aku Chika.” Ujar Chika memperkenalkan dirinya sambil tersenyum. “Maksud gua Lo siapa nya Dean?!” tanya Chika dengan tatapan jengah. “Chika----.” “Bisa ngomong diluar sher?” tanya Dean memotong ucapan Chika yang hendak memberi tau siapa dirinya pada Sherin.. “Hmm? Kenapa gak disini?!” tanya Sherin mulai menaruh curiga pada Dean. Namun Dean tidak menangkap wajah curiga dimata Sherin, Dean berdiri dari duduknya. “Kak Dean mau kemana?” Tanya Chika dengan nada polos. “Kak?” tanya Sherin. “Gua keluar bentar. Lo disini aja, jangan pergi kemana-mana.” Ujar Dean pada Chika. Chika menggelengkan kepalanya. “Gak mau, Chika takut kak.” Ujar Chika benar-benar menunjukkan rasa takutnya pda Dean. Dean melihat sekitar nya. “Takut apa?” tanya Dean. Chika menatap Dean dengan wajah takutnya. Wajah takut saat dia ketakutan dengan wujud Lauren beberapa waktu lalu. “Chika gak mau sendiri. Nanti Chika hilang lagi.” Ujar Chike mencoba menahan Dean tetap berada di sisinya. Dean menghela nafas panjang. “Nih cewek siapa? Adek Dean? Setau gua dia anak tunggal.” Batin Sherin dengan wajah bingung. Dean memanggil salah satu karyawannya untuk menemani Chika sementara dia pergi untuk bicara dengan Sherin. Tentu saja karyawan yang perempuan. “Ada apa pak?” tanyan pegawai itu sopan. “Hmm, tolong kamu jaga anak ini sebentar. Jangan biarin dia buka matanya.” Ujar Dean sambil menunjuk Chika. “Hmm?” gumam pegawai wanita tersebut sambil menatap Dean bingung. “Ikutin aja yang saya bilang. Tugas kamu cuman duduk dan melihat dia tidak membuka matanya.” Ujar Dean enggan menjelaskan secara rinci alasan mengapa dia harus menjaga agar Chika tak membuka matanya. “B-baik pak.” Ujar pegawai wanita itu lagi. Tatapan Dean beralih pada wajah Chika. Chika masih menunjukkan wajah takutnya. “Gua keluar bentar. Sebentar gak lewat 30 menit.” Ujar Dean dengan nada yang lembut. “Itu lama.” Ujar Chika dnegan nada manja. “Enggak elah.” “Kak.” “Lo disini aja. Ingat jangan kemana-mana.” Ujar Dean tegas diakhir. Dean mengeluarkan hp dan headphonenya. “Tutup mata Lo.” Perintah Dean. “Buat apa?” “Biar Lo gak ngeliat apapun. Bayangin hal yang buat Lo senang.” Ujar Dean memberi arahan. “Kal----.” “Terserah Lo mau banyangin hal apapun.” Ucap Dean memotong ucapan Chika. “Hmm.” “Dan ini jangan dibuka sampai gua datang.” Ujar Dean sambil memasangkan headphone ditelinga Chika. “Kenapa?” “Biar Lo gak dengar apapun. Ini tempat umum, jangan hilang disini Lo.” Ujar Dean tegas. “Iya Chika tau!” “Tutup mata lo.” Perintah Dean. Chika menutup matanya. Setelahnya Dean pergi dengan menarik tangan Sherin. Dean menarik Sherin keruangannya. “Dia siapa?” tanya Sherin tanpa berbasa-basi. “Chika.” “Siapa kamu Dean?!” tanya Serin kesal. “Menurut Lo?” tanya Dean enggan memberi tau siapa Chika pada Sherin. Sherin diam, dia takut jika apa yang dipikirkannya benar adanya. “Jangan buat aku mikir yang enggak-enggak yan.” Ujar Sherin. “Hak Lo.” “Yan. Tujuan kamu narik aku kesini itu buat ngomong.” “Gua tau.” “Dia siapa kamu? Kenapa kamu ngetreath dia kayak gitu?” tanya Sherin dengan nada yang tidak suka. “Kenapa gua harus bilang?” “Dean aku pacar kamu!” kesal Sherin. “Gua tau Sherin.” “Dia adek kamu?” tanya Sherin berpositif thinking. “Haa?” “Atau selingkuhan kamu?” tanya Sherin dengan mata yang menyelidik. “Sherin.” “Kamu bilang aja. Apapun itu asal kamu jujur. Dan kamu lebih milih aku dari pada dia. Aku bakal maafin kamu.” Ujar Sherin panjang lebar. “Dengerin gua bisa?” tanya Dean mengabaikan ucapan Sherin. Sherin diam. “Gua gak punya banyak waktu buat bertele-tele. Gua memang ada urusan mendadak, dan urusan itu ngejaga bocah tadi.” Ujar Dean memberi penjelasan. “Tapi karna Lo udah ada disini, gua bakal ngomong apa yang mau gua omongin.” Sambung dengan sambil menatap Sherin dengan tatapan tak terbaca. Sherin mengernyit bingung. “Kamu mau omongin apa?” tanya Sherin. Dean menarik nafas panjang. “Rin.  Kita ketemu baik-baik.” Ujar Dean pelan. Sherin yang tau kemana arah pembicaraan Dean membelalak kaget. “Jangan dilanjutin!” pinta Sherin dnegan nada keras. Dean menaikkan alisnya. “Cewek itu selingkuhan kamu kan?” tanya Sherin menunjuk pintu keluar. “Enggak.” “Jadi kenapa kamu ngomong kayak tadi!!” tanya Sherin dengan tatapan sendu. “Rin. Lo ngerasa gak sih. Gua sama Lo bukan kayak orang pacaran?” tanya Dean sambil menatap Sherin. “Kita lebih kayak orang asing.” Sambung Dean lagi. “Dean!” “Gua senang Lo gak menuntut untuk komunikasi 24/7. Tapi bukan hilang komunikasi 24/7 Rin.” Ujar Dean mengabaikan pekikan Sherin. Sherin diam. “Gua senang Lo gak menuntut untuk ketemuan melulu. Tapi bukan untuk gak ketemuan sama sekali dan jadi orang asing gini.” Sambung Dean. Sherin masih diam tak menjawab. “Gua liat frekuensi ketemuan kita sama frekuensi gua ketemu dheera atau Clara. Jauh lebih besar frekuensi gua sama mereka dari pada Lo pacar gua.” Ujar Dean dengan nada sarkas. “Kam----.” “Gua tau, gua yang minta.” Ujar Dean memotong Sherin sambil menaap Sherin yang sedang menatap Dean.  “Bahkan gua mewanti-wanti itu sama Lo dari awal. Gua gak suka tapi bukan berarti gua gak mau.” Sambungnya lagi. “Aku cuman nurutin semua mau kamu.” Ujar Sherin memelas. “Bukan mau gua, tapi mau Lo. Gua cuman bilang gua gak suka sesuatu yang berlebihan. Gua gak suka komunikasi berlebihan atau ketemu berlebihan.” Ujar Dean. “Aku udah turutin.” Ujar Sherin. Dean diam sejenak dnegan smirk yang tercetak di bibirnya. “Tapi Lo berlebihan Sherin.” Sambung Dean. “Aku berlebihan apa?” tanya Sherin tak terima. “Berlebihan untuk tidak komunikasi dan ketemu. Untuk nelpon Lo jauh lebih susah dari pada gua nelpon pemilik DA building.” Ujar Dean membuat Sherin terdiam. “Untuk ketemu Lo, lebih susah daripada buat ketemu produsen musik terkenal.” Sambung Dean lagi, dan Sherin asih diam tak berkutik. “Ini hal yang gua mau omongin sama Lo. Hubungan ini udah gak sehat, udah melenceng dari alurnya.” Ujar Dean serius. “Dean----.” “Gua mau akhiri hubungan ini. Gua rasa kita lebih cocok buat jadi teman kayak dulu.” Ujar Dean kembali memotong Sherin yang hendak berbicara. “Dean, kita bisa perbaiki semuanya.” Ujar Sherin tak ingin hubungan mereka berakhir begitu saja. “Hubungan itu kayak sepatu. Kalau satunya udah rusak, udah gak nyaman dipake. Sepatu itu harus berhenti dipake. Karna kalau tetap maksa buat make, kedepannya salah satu atau kedua kaki itu bakal sakit.” Ujar Dean memberi analogi pemahaman pada Sherin. Sherin masih bergeming. “Sama kayak kita saat ini. Hubungan kita udah rusak, gua udah mulai gak nyaman dengan hubungan ini.” Ujar Dean hati-hati takut menyakiti Sherin. “Kalau gua paksa buat jalanin, kita gak tau hati mana yang bakal sakit nantinya. Hati Lo atau hati gua.” Sambung Dean lagi. “Yan.” “Ini maksud gua diawal tadi. Kita mulai hubungan ini baik-baik, jadi gua mau ngakhiri ini dengan baik-baik.” Lanjut Dean tana mengubris panggilan Sherin. “Aku gak bisa Dean. Aku sayang sama kamu. Kamu tau sendiri berapa lama untuk aku bertahan supaya bisa dilihat sama kamu.” Ujar Sherin mulai menangis. Dean tersenyum singkat. “Gua hargai perjuangan Lo. Tapi yang kayak gua bilang barusan. Semakin kita jalanin ini, semakin kita nyakitin hati masing-masing.” Ujar Dean tulus. “Dean.” Panggil Sherin sembari menubrukkan badannya pada Dean. “Aku gak mau kita putus Dean.” Ujar Sherin lagi dnegan air mata yang mengalir dari matanya. “Kita cuman putus sebagai pasangan Rin. Diluar itu, Lo tetap teman gua.” Ujar Dean lembut. “Kita gak bisa perbaiki aja?” tanya Sherin mencoba membujuk Dean. Dean tersenyum singkat. “Saat ini enggak.” ujar Dean pelan. “Besok?” tanya Sherin. “Rin, gua yakin Lo bakal dapat cowok yang lebih baik dari gua nantinya. Lo tau sebrengsek apa gua.” Ujar Dean dengan tulus. “Gua tau dan gua gak masalah akan itu.” “No, Lo berhak dapat yang lebih baik dari gua.” Ujar Dean tak kalah tulus dnegan ucapannya sebelumnya. Tok.. Tok.. Tok..  Pintu ruangan dimana Dean dan Sherin berada diketuk. “Dean.” Panggil Sherin. “Masuk.” Ujar Dean. “Permisi pak.” Ujar Pegawai yang ditugaskanoleh Dean untuk menjaga Chika. “Ya ada apa?” tanya Dean dengan nada santai. “Hmm cewek yang bapak minta untuk dijaga tadi.” Dean membelalakkan matanya. “Kenapa dia?” tanya Dean dnegan nada khawatir. “Dia sedang nangis dan minta ketemu bapak.” Ujar pegawai itu dengan nada yang bingung. “Dia buka mata?” tanya Dean. “Enggak pak.” Ujar pewagai tersebut. “Tapi headphone nya terbuka.” Sambungnya lagi.. Dean melepaskan pelukannya dan berlari keluar ruangan untuk menghampiri Chika. Sherin hanya melihat Dean yang pergi keluar. “Yan. Aku gak akan lepasin kamu. Aku gak mau semua usaha aku selama ini buat dapatin kamu sia-sia.” Ujar Sherin sambil menatap punggung Dean yang sudah tidak terlihat. “Aku akan buat kamu balik ke aku Dean. Walau aku harus lakuin hal apapun.” Sambung Sherin dengan nada yang mantap. Disisi Dean. Dean berlutut didepan Chika dan memegang sebelah tangannya. “Chika.” Panggil Dean lembut. Chika membuka matanya dan menatap Dean yang tengah menatapnya khawatir. “Kak Dean” ujar Chika merengek sambil memeluk Dean. Dean hanya diam tak menolak Chika memeluknya. “Kenapa rasanya beda?” batin Dean. “Chika takut.” Ujar Chika sambil terisak. Dean berdehem kecil sebelum kembali berbicara menanggapi Chika yang terisak. “Takut apa?” tanya Dean lembut. “Tadi ada yang narik headphone chika.” Adu Chika sambil terisak. “Lo yang lepas gak?” tanay Dean menyelidik. “Enggak!” “Gak teriak dikuping gua juga.” Kesal Dean. “Makanya percaya sama Chika.” “Hmm, terus.” “Terus Chika dengar bisikan. Suaranya seram. Chika gak berani lihatnya.” Ujar Chika kembali terisak. Dean diam sejenak.. “Dia bilang apa?” tanya Dean penasaran apa yang didengar Chika sampai dia takut begitu. “Dia minta tolong sama Chika.” Ujar Chika pelan. Dean menjauhkan badannya dari Chika. “Minta tolong apa?” tanay Dean semakin penasaran. Chika diam, menimbang apakah boleh dia memberi tau Dean atau tidak. “Chika?” panggil Dean. “Gak tau. Chika gak mau dengerin tadi.” Ujar Chika memilih untuk tidak memberi tahu Dean tentang apa yang didengarnya. Dean mengernyit bingung. “Kakak.” Panggil Chika. Dean menghela nafas panjang. “Yaudah gak usah nangis. Gak usah dipikirin juga.” Ujar Dean menghapus air mata Chika dengan ibu jarinya. “Tapi Chika takut.” “Gak usah cengeng Chika. Chika menghapus air mata nya sambil sesenggukan. “Kakak jangan tinggalin Chika kayak tadi lagi.” Ujar Chika dengan wajah sedih. “Hmm.” “Jangan ketemu sama kakak yang tadi juga.” Ujar Chika melunjak. Dean menatap Chika kesal. “Apaan Lo ngatur-ngatur.” “Setidaknya jangan ketemu sama kakak itu kalau ada Chika.” Ujar Chika sambil mengendus kesal. “Cemburu Lo?” tanay Dean asal. Chika menggelengkan kepalanya pelan. “Chika takut.” Ujar Chika dengan nada pelan. Dean menyatukan alisnya. Dean bingung hal apa yang dilihat dan didengar Chika. Sampai membuatnya begitu ketakutan. “Chika takut kak Lauren. Chika takut lihat dia. Tapi Chika harus tahan. Chika cuman perlu pegang tangan kak Dean.” Batin Chika sambil menatap Dean... === == = Beberapa jam setelahnya. Dean udah pulang dari malam Minggu anehnya kali ini. Dean masuk kedalam rumah Ken, dan langsung duduk diantara Clara dan Darel yang sedang nonton. “Dean!!!” bentak Clara sambil mengelus dadanya setelah terperanjak kaget dengan kedatangan Dean yang tiba-tiba. “Malam Minggu udah mau habis. Gak usah duduk deket-deket.” Ujar Dean memisahkan dua sejoli yang lengekt seperti lem itu. “Gua sama darel udah nikah! Jadi gak masalah gua mau dekat-dekat sampai kapan tau.” Ujar Clara kesal. “Sombong Lo!” “Suka-suka gua! Tapi bentar.” Ujar Clara sambil  mengendus-endus tubuh Dean. “Lo ngapain Cla?” tanya Dean menjauh dari Clara. “Cla.” Tegur Darel. “Darel, kamu diam dulu. Ini penting.” Ujar Clara tanpa melihat suaminya. “Penting apaan?! Curiga gua sama Lo Cla. Lo gak naksir sama gua kan?” tanya Dean curiga pada Clara. “Gila Lo?! Gua udah punya darel, gua lebih mau darel dari pada Lo!” ujar Clara menggebu-gebu. “Dihh. Terus ngapain Lo ngendus gua?” tanya Dean lagi. “Lo keluar sama siapa?! Gua tanda bau ini.” Ujar Clara degnan mata yang menyelidik Dean. Dean diam mengulum bibirnya tak tau harus menjawab apa. Clara menatap Dean tajam. “Lo keluar sama cewek hilang timbul itu kan?!” tebak Clara tepat sasaran. Dean masih diam. “Tapi ada bau yang gak gua kenalin.” Ujar Clara kembali mengendus-endus baju Dean untuk mengenali bau yang ada pada baju Dean. Dean kembali diam. “Lo keluar sama dua-duanya?!” tanya Clara dengan mata yang membulat lebar. “Dean!!” pekik Clara lagi. “Astaga Cla, berisik tau gak.” Ujar Dean menutup mulut Clara agar tak kembali bersuara apalagi berteriak. “Jangan teriak-teriak Cla.” Ujar Darel lembut. “Dean tuh, gak mau jawab pertanyaan aku!” ujar Clara sambil menepis tangan Dean yang menutup mulutnya. “Keluar sama siapa Lo yan?” tanya Darel sambil menatap Dean disebelahnya. Dean diam belum menjawab pertanyaan Darel. “Ciri-ciri orang selingkuh gini emang.” Ujar Darel. “Gua gak selingkuh gila!” ujar Dean tak terima. “Jadi Lo keluar sama siapa?” tanya Darel lagi. “Monmaap nih Cla. Lo gak bisa Nerima undangan gua kayaknya.” Ujar Dean sambil menatap Clara. “Hmm?” “Gua sama Sherin putus.” Ujar Dean. “Haa?!” “Clara.” Tegur Darel. “Maaf yang, aku kaget.” Ujar Clara sambil menatap Darel. Lalu menatap Dean lagi. “Kok Lo bisa putus yan?” “Gua ngerasa udah gak sehat aja hubungan gua.” Ujar Dean membeberkan alasannya. “Kapan Lo pernah ada hubungan sehat? Seingat gua gak pernah.” Ujar Clara sarkas.. “Kecuali Lauren.” Lanjut Clara dalam hati. “Ohh iya juga ya.” Ujar Dean sambil tertawa renyah. “Dasar aneh.” Cerca Clara. “Jadi kenapa ada 2 bau dibaju Lo?!  Lo keluar sama dua-duanya?” tanya Clara lagi. “Hmm tapi Cla.” “Gak usah ngalahin pembicaraan terus yan!” kesal Clara. Dean tertawa renyah. “Dibilangin malah ketawa!” “Gua gak ngasih undangan sama Sherin, tapi gua kasih sama yang lain nanti.” Ujar Dean membuat Clraa berteriak memanggil namanya. “Clara, kamu teriak sekali lagi. Babymoon nya batal.” Ancam Darel. “Darel.” Rengek Clara sambil menatap Darel dengan attapan sedih. “Jangan teriak!” Clara mengendus kesal sembari menghujamkan tatapan tajam pada Dean yang sedang mengulum bibirnya menahan rona bahagianya. “Awas Lo buat gua teriak sekali lagi! Gua jadiin perkedel orang Lo!” kesal Clara. “Uuuhh atut.” Ujar Dean berakting takut untuk mengejek Clara. “Lo mau ngirim undangan sama siapa? Jangan bilang sama bocah itu.” Tebak Clara lagi. “Hmm.” Gumam Dean. “De---.” Ujar Clara hendak teriak. “Tahan cla, jangan teriak, Babymoon Lo lebih penting dari pada Dean.” Ujar Clara setelahnya sambil mengelus dadanya. “Dih..” “Lo sama bocah itu sekarang? Lo serius yan? Dia anak 19 tahun yan. Ya gua tau dia udah usia legal untuk menikah. Tapi dia masih muda gila!” ujar Clara beruntun. “Gua dijodohin.” Ujar Dean dengan nada yang terbilang sangat santai. “Haa? Serius Lo? Siapa yang jodohin? Nenek?” tanya Clara beruntun denga wajah yang tidak percaya akan ucapan Dean. “Lo tau nenek kayak mana.” “Jadi bokap?” tanya Clara lagi. “Lo pikir dia perduli sama hidup gua?” jawab Dean dngan nada sarkas. Clara diam sejenak berfikir siapa dalang dari semuanya. Tak lama Clara menutup mulutnya dan menatap Dean. “Jangan bilang kakek lo?” tanya Clara. “Seratus buat Lo.” “Sumpah Lo yan? Astaga Dean. Dosa apa Lo dijodohin sama anak 19 tahun.” Ujar Clara beruntun. “Dosa sering gangguin Lo atau Dheera kali ya.” Ujar Dean asal. Clara tertawa renyah. “Serius dosa itu?” tanya Clara menanggapi ucapan Dean. “Mungkin.” “Berarti karma itu nyata. Hati-hati Lo sama orang hamil mulai sekarang.” Ujar Clara memberi Dean nasihat. “Kayak nya harus itu. Dari pada gua sial terus kedepannya.” Ujar Dean membuat Clara tertawa semakin kencang. Clara tertawa dengan derasanya. Clara menoleh pada Darel yang sama sekali tidak terkejut atas apa yang diberitau oleh Dean barusan. “Kamu gak terkejut rel?” tanay Clara. “Aku udah tau.” Ujar Darel membuat Clara terkejut untuk yang kedua kalinya. “Tau dari mana?” “Dari kakek Dean.” Batin Darel. “Gua yang ngasih tau.” Ujar Dean. Dean memang sudah memberitahu, tapi darel sudah tau dari kakek Dean sebelumnya. Begitu juga dengan Ken. “Kok gua baru dikasih tau sekarang?” tanya Clara tak terima. “Gua gak mau Lo patah hati.” Ujar Dean asal. “Mual gua dengar nya.” Ujar Clara membuat Dean mengendus kesal. “Jadi bener dong feeling gua.” Ujar Clara membanggakan diri. “Feeling apa?” tanya Dean dengan kedua alis yang menyatu. “Lo keluar sama Chika.” “Hmm.” Gumam Dean singkat. “Dipaksa kakek. Kalau enggak mana mau gua.” Sambung Dean lagi. “Bacot.” “Beneran. Gua udah janji sama Sherin padahal.” Ujar Dean membuat Clara membelalak lebar pada Dean. “Jadi Lo ketemu Sherin tadi?” tanya Clara. “Hmm.” Gumam Dean. “Disitu gua mutusin dia.” Ujar Dean mengingat kejadian beberapa jam lalu. “Didepan Chika?” tanya Clara dengan wajah kaget. “Yaenggak lah bego.” “Jadi dimana?” “Disitu juga tapi gak didepan Chika.” “Hmm, jaga hati calon istri ceritanya.” Ejek Clara. “Bukan.” “Jadi apa?” “Jaga perasaan Sherin.” Ujar Dean sambil tersenyum pada Clara. Clara mengernyitkan dahinya. “Lo suka beneran sama Sherin?” tanya Clara menyelidik. “Nope.” “Jadi?” “Gua tau gimana dia bertahan buat nunggu gua ngeliat dia. Gua tau berapa lama waktu yang dia habisin buat gua bisa ngeliat keberadaan dia.” Ujar Dean dengan menatap lurus ke lantai. “Kalau gua bilang, gua dijodohin dan Chika calon istri gua. Lo bisa bayangin gimana hancurnya perasaan orang. Gua mulai baik-baik, jadi gua mau ngakhiri baik-baik.” Sambung Dean sambil menaglihkan pandangannya pada Clara. “Tapi kan Lo udah sama Chika.” Ujar Clara sarkas. “Dia memang calon istri gua. Tapi gua sama dia bukan pacaran. Gua gak selingkuh, dan gua mengakhiri hubungan itu dengan sangat baik. Clara menganggukkan kepalanya. “Jadi kapan Lo nikah sama Chika?” tanya Clara blak-blakan. “Gak tau. Kakek yang ngurus.” Ujar Dean. “Bilang sama dia, jangan ngilang terus.” Kesal Clara. “Udah.” “Ciiieee Dean.” Ejek Clara tiba-tiba dengan nada senang. “Apaan Lo gak jelas.” Ujar Dean menatap aneh Clara. “Iya gua gak jelas, Lo yang jelas.” Ejek Clara lagi. “Sumpah Cla, Lo apaan dah.” Ujar Dean benar-benar merasa aneh dnegan sikap Clara. Clara hanya tertawa senang karna berhasil membuat Dean meaasa aneh dengan dirinya saat ini. “Malah ketawa.” “Gua bayangin Lo sama bocah nanti gimana. Ngemong dong Lo. Curiga gua dia nanti malah jadi kayak anak Lo, bukan istri Lo.” Ujar Clara sambil tertawa deras. “Gua udah mikir gitu.” Ujar Dean jujur. Clara tertawa ssemakin kencang dari sebelumnya. “Gak lucu Cla.” “Lucu buat gua.” “Bagus gua udah memilih tobat gangguin ibu hamil.” Ujar Dean yang semakin membuat Clara tertawa deras. “Awas Lo, minggir. Gua mau ngabisin beberapa menit malam Minggu sama Darel.” Ujar Clara sambil mendorong Dean berdiri dari tempatnya. “Ikut lah gua.” “Sama Chika sana.” “Udah tidur dia.” Clara tertawa lagi sampai air matanya keluar. “Makanya Lo ingat umur. Udah tua, mainnya sama bocah. Gua jadi ingat, Lo bilang Lo jadi p*****l kalau sama Chika.” Ujar Clara membuat Dean sangat kesal pada wanita hamil satu itu. “Dean ngomong gitu Cla?” tanya Darel mulai tertarik dengan pembahasan Clara dan Dean. “Iya yang, waktu Dean nolak Chika nembak itu.” Ujar Clara sambil menatap Darel yang dipeluknya. “p*****l Lo yan?” ujar Darel. “Enggak gila!” kesal Dean. Clara dan Darel ketawa melihat Dean. Dean hanya bisa ngomel-ngomel gak jelas mendengar dua pasutri yang menertawakan dirinya. “Udah lah, gua mau tidur aja.” Ujar Dean sambil berdiri dari duduknya. “Nah sana, Lo harus belajar jadi bocah juga. Biar nanti gak kaget.” Ujar Clra m=kembali mengejek Dean. “Sialan Lo Cla.” Clara tertawa dengan puasnya. “Tapi kan Cla.” Ujar Dean menghentikan tawa Clara. “Apa?” tanya Clara. “Anak jaman sekarang udah beda ya.” Tanya Dean membuat Clara mengernyit heran. “Bedanya?” “Ya itu.” “Apa yang jelas.” “Gua lihat nih kan. Tuh bocah walaupun masih 19 tahun----.” “Keliatan sexy?” tanya Clara memotong ucapan Dean yang sangat lambat dan bertele-tele. “Kok Lo tau apa yang mau gua bilang?!” “Ketebak muka Lo.” “Bodo amat. Tapi emang gitu ya?” tanya Dean lagi. “Enggak sih.” “Kok dia bisa gitu?” tanya Dean dnegan wajah bertanya-tanya. “Menyesuaikan dengan Lo. Biar Lo gak keliatan pedofilnya.” Ujar Clara asal. “Sialan, ujung nya gua kena.” “Peace yan. Tapi Lo senang kan?” tanya Clara. “Senang apa?” tanya Dean dengan alis yang terangkat sebelah. “Setidaknya walaupun dia bocah, dia terlihat sexy kayak tipe Lo.” “ua malas mengakui ini. Tapi, Seratus untuk Lo.” Ujar Dean sambil memeainkan alisnya. “Cuci otak sana Lo, biar bersihan dikit.” “Ngapain dicuci. Biarkan otak gua berfantasi dengan semaunya.” Ujar Dean. “Semerdeka Lo dah.” “Lanjutin dah malam mingguan Lo pada. Eeh tapi. Udah Minggu dini hari nih.” Ujar Dean sambil menyodorkan jam tangannya di hadapan Clara. Benar saja hari sudah menunjukkan pukul 00.01. “Mama.” Rengrek Clara membuat Dean tertawa menang. “Sesekali ngerjain ibu hamil enak juga.” Ujar Dean di sela tawanya. “Awas aja Lo yan. Gua doain lo----.” Ucapan Clara terpotong karna Darel menutup mulut Clara dengan tangannya. “Pergi Lo sana yan.” Ujar Darel mengusir Dean. “Bye Clara. Selamat menikmati Minggu dini hari.” Ujar Dean sambil tertawa bahagia. “Dean!” tegur Darel tegas. “Oke oke.” Ujar Dean sebelum akhirnya Dean pergi ke kamarnya. Clara menggigit telapak tangan darel sebagai bentuk kekesalannya pada lelak yang berstatus suaminya itu. “Ssh. Cla.” Adu Darel sambil mengibar tangannya yang di gigit oleh Clara. “Apa?! Mau marahin aku!” tnaya Clara dnegan nada kesal. “Enggak. Aku gak mau kamu teriak Cla. Besok pagi udah ngadu tenggorokan nya sakit.” Ujar Darel dengan nada lembut dengan tangan yang asih dikibar-kibar mengurangi rasa sakitnya. “Habis nya Dean jahat!” ujar Clara dengan bibir yang sudah maju beberapa centi. “Biarin aja dia. Nanti dia juga kena karma gangguin kamu.” Ujar Darel meminta Clara untuk bersabar.. “Tapi ngeselin!” “Iya tau. Biarin aja.” Ujar Darel sambil merentangkan tangannya. “Sini.” Panggil Darel agar Clara mendekat kedalam dekapannya. Clara mendekati darel dan masuk kedalam dekapan Darel yang sangat nyaman menurutnya. “Mau lanjutin nonton nya?” tanya Darel lembut sambul mencium punca kepala Clara sesekali. “Mau.” “Habis film ini tidur ya.” Pinta Darel lembut. “Iya.” “Good girl.” Ujar Darel, lalu mencium kening Clara singkat. Keduanya melanjutkan menonton film. ==== Disisi lain, di kamar Dean. Dean menghela nafas panjang. “Kenapa? Kenapa gua selalu ngerasa hal lain kalau sama Chika? Gua ngerasa hal yang beda sama dia, hal yang belum gua rasain. Bahkan pelukan mama gak senyaman pelukan dia.” Ujar Dean bermonolog. “Lo siapa sebenarnya Chika? Kenapa perasaan ini cuman ada sama Lo?” tanya Dean lagi bermonolog. === == = Bersambung .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN