Akhtar Akhirnya gue berhasil menemukan tempat tinggal Jamilah setelah memohon-mohon pada Prisil. Gue akan tetap memperjuangkan dia sampai mendapatkan jawaban kenapa dia memutuskan gue. Di depan pintu kamar yang ditempati Jamilah selama kurang lebih dua minggu, gue mempersiapkan diri sebelum mengetuk pintu kayu tersebut. Merapikan kemeja, rambut serta menyiapkan senyum terbaik yang gue miliki. "Masnya cari siapa?" Suara seseorang menegur gue yang hendak mengetuk pintu kamar. "Mau cari Emilia. Benar ini kamarnya?" tanya gue sopan. "Oh, yang temannya mbak Prisil ya?" "Iya. Ini benar kamarnya kan?" "Bener mas. Cuma mbak Prisil tadi pagi-pagi pergi sama temannya itu sambil bawa koper-koper." "Siapa yang pergi? Ke mana ya kalau boleh tahu?" "Ya temennya itu. Dia sekalian pamitan tadi. K
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


