SIKAP

246 Kata
Malam yang pucat Bulan mati Bintang perih Sisa angin mencumbui kelusuhan Lirih menopang berbagai beban Memekat pada yang berlawanan Mata ingin menutup Pikiran pikiran didendangi nyanyian liar Dibawah gulita tak ADa yang mudah ditiup Nafasku sendiri seketika membakar Panas Bukan pada api Dingin Pada raga yang ingin di gerayangi Kamu Entah terjaga atau dilelap mimpi Pagi masih bersayup kemerduan Iringan irama gemercik menjatuhi perlahan Panas pada suhunya Dingin pada sekitarnya Kerjaan angin malam membuat raganya mengigil Meriang Pikirannya kembali bertikai pada diamnya Entah apa yang terjadi pada bibirnya Baru saja memenangkan sang adam ini Malah tak tenang tanpa tersudahi Perasaannya mungkin telah terenggut habis Sehingga mudah bernyanyi pada masalalunya Atau jiwanya sendiri yang memerangi pikirannya Meski angin sudah menunjukkan Apa kehijauan dan apa kemurnian Meski langit sudah menjelaskan Apa yang keras dan penuh kelembutan Mempertanyakan hanya sebatas kerisihan Tidak ada aku pada kebenaran Tidak ada aku pada awal yang disuarakan Tidak Tidak Tidak Aku dan ketiadaan ku yang di tiadakan Tanpa tindakan Hingga ditindih tanpa perdamaian Diantara penebusan Atau tidak Pada hal yang tidak diinginkan Yang tidak diberikan Tidak Tidak pada aku Aku tidak pada tahu Tujuanmu Tujuanku Entah kemana yang dituju Ragu Ambigu Tidak Tidak pada ragu Tidak pada ambigu Benci Tidak Mengerti Tidak mengerti membenci Benci tidak mengerti Mengerti tidak membenci Tidak Kecewa Sabar Pada hal yang membuat harus bersabar dalam kecewa Kecewa dalam hal yang tidak bisa disabarkan Penjabaran tanpa dasar Sesekali ku ingin mengerti, memahami Yang terjadi meratapi Tidak Bukan yang itu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN