"Kau terlambat!" Davin menghadangnya dan menatap Lia tajam.
Lia terkejut, menatap Davin dengan tak percaya. Kenyataannya pria itulah penyebabnya, tapi sekarang dia malah menatap Lia dengan menuntut penjelasan. Bersikap seolah tak tahu apapun. Seolah bukan dia orang yang menurunkan Lia di jalan.
"Apa maksudnya?"
"Masih bertanya seperti itu, seolah-olah kau tidak salah?!" geram Davin dengan serius. "Harusnya aku yang kesal padamu karena kau terlambat, tapi di sini kau malah menatapku dengan tatapan perlawanan."
Lia menghela nafas. Bahkan letihnya belum habis saat beberapa menit lalu dia berjalan berpuluh-puluh meter, cukup jauh sampai kakinya terasa kram, sampai kemudian dia sampai di pangkalan ojek dan naik ojek ke kantor.
Namun bahkan walau begitu pria yang kejam, tidak punya hati dan membuatnya dalam masalah itu, kembali memperlihatkan jati diri. Iblish untuk Lia.
"Maaf ak-aku--"
"Kau pikir aku butuh maafmu?!" sarkas Davin memotong Lia dengan cepat. "Maafmu tidak akan merubah apapun dan itu tidak juga bisa memperbaiki apapun!"
"Tapi bisa kata maaf bisa menjaga hal supaya tidak terjadi yang lebih buruk lagi!" seru Lia menjawab dengan cepat.
"Cih, naif sekali!" kesal Davin karena Lia bisa menjawabnya. "Pergi sana, lakukan pekerjaanmu dan jangan terlambat lagi. Kau tahu aku sangat muak dengan orang yang terlambat!"
*****
Siang itu Liona ke kantor dan membawakan makan siang untuk Davin, tapi sebelumnya Lia juga melakukan hal yang sama. Bukan membawakannya, tapi lebih tepatnya Davin memerintah dirinya memesan makanan dari restoran kesukaan pria itu.
Namun saat makanannya tiba dan dihidangkan di atas meja. Lia sudah menyiapkannya dengan sebaik itu, patuh dan tak menuntut sesuatu yang tak adil malah terjadi.
"Lalu bagaimana dengan makanan ini sayang. Aku sudah memasaknya dengan susah payah dan juga penuh cinta untukmu," rengek Liona sambil memasang wajah sedih dan bersikap manja.
Sebenarnya Davin muak melihatnya, dia bahkan tak bisa menutupi ketidaksukaannya itu, namun karena dendamnya pada Lia. Davin malah membiarkannya dan bahkan mendukung Liona karena egonya.
"Buang semua makanan di meja ini dan siapakan makanan dari Liona!" ujar Davin memerintah dengan nada suara yang tak ingin dibantah.
"Tapi ini--"
"Buang cepat, aku bilang buang!!" Bentak Davin keras membuat Lia terkejut sekaligus langsung kecewa. Akan tetapi bisa apa dia selain kemudian menurut meski harus dengan perasaannya yang sesak.
"Ayo sayang, suruh sekretarismu melakukannya dengan cepat. Aku sudah sangat lapar!" rengek Liona dihadapan Lia.
"Kau dengar itu. Cepatlah dan jangan lemot!" ujar Davin menuruti maunya Liona.
"Baik, Pak!" jawab Lia mencoba tegar.
Selesai melakukan itu, Lia masih tak diperbolehkan pergi. Davin memintanya melakukan hal lain, membereskan mejanya, lalu berkas-berkasnya dan terakhir membacakan jadwal yang akan pria itu lakukan di hari itu juga.
Sementara Davin sendiri, malah asik bersama Liona dan bermesraan. Sesekali karena mereka Lia sempat memalingkan wajah karena melihat adegan tak senonoh yang membuatnya muak. Namun meski muak dia pun karena ditahan tak bisa pergi dari sana.
"Sayang mobilku sudah sangat lama, bisakah kamu membelikanku mobil baru?" tanya Liona sambil melirik Lia.
Dia sengaja melakukan itu. Agar bisa memperlihatkan pada Lia bahwa Lia bukan apa-apa bagi Davin dan dialah yang sekarang menjadi wanitanya.
Untuk sejenak Lia terdiam mendengar ucapan Liona, menatap keduanya sambil terbayang kenangannya dengan Davin.
'Tidak boleh. Kamu nggak butuh mobil baru. Ngapain sih, kamu kan sudah punya aku yang bisa mengantarkanmu kemanapun!' ujar Davin sambil mengacak kepala Lia.
'Tidak mau. Aku bosan sama Mas terus, lagian aku capek tahu pakai mobil kamu terus itu nggak enak dan nggak sesuai seleraku!' elak Lia terus berusaha meluluhkan hati suaminya.
'Keras kepala bangat sih, istrinya aku. Ngeyel bangat kalau dibilangin!' ujar Davin dengan gemas.
'Terus gimana? Aku dibelikan mobil kan sayang?' tanya Lia sambil merengek manja dia bahkan sengaja memanggil sayang supaya bisa meluluhkan hati Davin.
'Baiklah, tapi dengan satu syarat!' akhirnya Davin menyerah meski memberikan penawaran.
'Apa?' tanya Lia serius.
'Kamu harus melakukan apapun yang aku mau,' jelas Davin membuat Lia cemberut dan mengerucutkan bibirnya.
Sayangnya apa yang Lia lakukan itu malah membuat Davin berkesempatan untuk menyerangnya dan mencuri kecupan.
"Bagaimana Sayang?" tanya Liona, membuyarkan Lamunan Lia dan menariknya ke dunia nyata.
"Terserah kamu saja. Mau mobil baru yang seperti apa," jawab Davin dengan entengnya, tapi malah membuat Lia merasa sesak dan sangat kecewa.
'Dulu kamu sangat ogah-ogahan membeliku mobil, tapi dengan perempuan ini kamu dengan mudahnya setuju. Apa memang sejak awal aku tidak pernah ada artinya untuk kamu?' batin Lia merasa sesak.
Memalingkan wajah ketik Davin menatap ke arahnya, lalu dengan perasaan yang tak tertahankan Lia keluar dari ruangan itu begitu saja.
"Mau kemana kamu?!" Bahkan ucapan Davin itupun tak diperdulikan olehnya sama sekali.
Pergi ke toilet dan segera menangis di sana. Lia terbayang kembali kejadian lima tahun lalu. Dimana dia masih sabar dan menaruh kepercayaan penuh pada Davin.
'Percayalah sayang aku bukan pria seperti itu. Aku mencintaimu, bagaimana mungkin aku tidur dengan Liona. Seandainya memang benar begitu, lalu untuk apa aku memilihmu dan menikah denganmu, sementara kamu tahu sendiri bukan kami lebih lama saling mengenal!' jelas Davin dengan serius memberi penjelasan pada Lia.
Pagi itu Davin kepergok keluar dari kamar hotel yang sama. Hati Lia sangat hancur, tapi karena dia teramat mencintai Davin dia dengan bodohnya mengangguk percaya.
Beruntungnya memang Davin benar dengan ucapannya, tapi kemudian kejadian yang hampir serupa malah menimpa Lia. Sebuah foto tanpa busana masuk ke ponsel Davin. Lia terlihat tidur dengan pria asing dan Davin murka melihat itu.
'Aku nggak pernah melakukan itu Mas, percaya sama aku. Aku mohon!' ujar Lia penuh harap.
'Ch, lepaskan tanganmu, jangan menyentuhku. Katakan seminggu ini selama aku pergi kau kemana saja dengan selingkuhanmu?!' bentak Davin marah.
Lia menghapus air matanya, beralih pada ibu mertuanya lalu meminta bantuan. 'Tanyakan saja pada Mama, seminggu ini kami selalu kemana-mana bersama Mama. Jadi mana mungkin aku dengan pria itu. Aku mana mungkin ada di dua tempat di saat yang sama!'
'Ma, tolong jelaskan pada Mas Davin. Kita sama-sama teruskan seminggu ini. Aku menginap di rumah Mama, ikut arisan dan belanja barang Mama. Kemana-mana kita bersamakan, Ma?' ujar Lia beralih pada mertuanya.
Namun kemudian sang ibu mertua malah geleng kepala. 'Penghianat! Bahkan kau masih berani berkata seperti itu untuk melindungi dirimu. Kau memintaku berbohong pada anakku sendiri, hahh?!' jelas ibu mertuanya membuat hancur sudah hidup Lia.
Hari itu tak ada yang mempercayainya dan semejak itu Davin dingin padanya dan beberapa minggu kemudian dia diusir dari rumah setelah diceraikan oleh Davin.
"Aku bisa mempercayaimu lebih dari apapun, tapi kamu bahkan cuma karena editan, sudah membuangku seperti sampah yang tak berguna!" ujar Lia meringis setelah membayangkan masa lalunya yang suram.
*****