Part 28

1621 Kata
Leo berdiri di balkon atas untuk melihat si anak baru itu yang sedang berlatih bersama dengan Mark. Anak baru itu yang sangat Nanas ingin kan untuk bergabung bersama dengan mereka. "Gimana?" tanya Nanas yang berdiri di samping Leo seraya menenggak jus di gelas yang ia pegang menggunakan tangan kanan nya, dan tangan kiri nya memegang pembatas balkon. Leo hanya diam saja memerhatikan dengan seksama. Leo harus menilai dengan sungguh-sungguh karena Leo tau anak baru itu akan di tugas kan bersama nya nanti. Leo harus melihat nya apakah dia akan pantas bersama dengan dirinya atau tidak. Leo tidak mau membawa seorang beban nanti, bukan nya membantu meringankan tugas nya malah nanti malah menambah beban saja, Leo tidak mau itu terjadi. "Dia jago bela diri," ucap Nanas yang lagi-lagi diabaikan oleh Leo. Leo tidak butuh penilaian Nanas terhadap anak baru itu. Leo hanya butuh penilaian dirinya saja, karena hanya Leo yang tau kriteria seperti apa yang pantas bergabung dengan nya dalam misi ini. "Dia pasti bakal meringankan tugas kamu loh pasti." "Dia juga pinter," lanjut Nanas sambil memerhatikan Mark yang sedang mengajarkan anak baru itu menembak. "Dia bakal sangat ngebantu kamu Leo." Leo menghela napas yang terus mendengar pujian anak baru itu dari mulut Nanas. Leo pikir Nanas memang benar-benar sangat ingin anak itu bergabung dengan tim nya. "Tapi dia belum dua puluh tahun," ucap Leo. "Kamu aja belum dua puluh tahun." "Leo kan pengecualian." "Untuk misi tugas kamu kali ini doang kok, kalo misi ini udah selesai dia bakal di latih lagi sampe umur dia dua puluh tahun baru boleh kerja langsung di lapangan lagi," jelas Nanas. "Kasih aja misi yang lebih mudah dari ini." "Leo, Nanas tuh sengaja nerima dia biar bisa gabung dan bantu kamu dalam misi ini." "Gak butuh." "Kamu itu terlalu sombong Leo, jangan kaya gitu." "Nanti dia cuma jadi beban." "Enggak, dijamin enggak bakal cuma jadi beban. Dia itu menguntungkan karena dia anak baru juga jadi dipastikan banget musuh gak ada yang tau dia." Leo hanya diam saja. Sebenarnya Leo tidak keberatan anak baru itu bergabung tapi Leo tidak suka dengan penilaian Nanas yang seakan dirinya tidak mampu dalam menjalankan misi ini. "Jangan egois Leo, kamu tuh jaga nyawa orang loh si Allea, kan kalo dia ikut bantu kamu, kamu jadi lebih banyak waktu buat jaga Allea dari deket, dia yang nangani musuh-musuh itu." Leo menghela napas, "kalo dia nyusahin gua keluarin." Leo berjalan masuk meninggalkan tempat itu. Nanas tertawa senang karena berhasil membujuk Leo untuk menerima anak baru itu. "Kayanya sekarang ada bahan buat bujuk Leo." *** "Leo pulang." Sesuai dengan berpamitan nya pada Allea, Leo sungguhan pulang ke rumah nya. Walaupun Leo hanya untuk mengambil beberapa barang nya untuk dibawa ke rumah Allea tapi tetap saja kan Lo sungguhan datang ke rumah nya. "Wah adik ku ini udahan nginep nya?" tanya Alvera. "Mommy kemana?" "Jalan-jalan sama papah," jawab Alvera. Leo mengangguk. Memang semenjak sebagian perusahaan di urus Alvera dan sedikit bantuan dari Angel, ya Angel tidak bisa membantu banyak karena Angel tidak begitu mengerti tentang perusahaan. Angel lebih mengerti dengan seni di bandingkan perusahaan. Semenjak pekerjaan Aldi yang berkurang, dia sering menggunakan waktunya untuk pergi berjalan-jalan menghabiskan waktu berdua bersama Salsha –istrinya. "Besok hari minggu, lo nginep lagi?" "Iya." Leo berjalan menuju kamar nya di ikuti Alvera yang tengah menggendong toples kripik kentang. Kebiasaan Alvera, tidak pernah lepas dari cemilan. "Kenapa gak temen-temen lo aja yang suruh nginep disini aja?" Leo menggeleng menjawab pertanyaan kakak nya itu. Leo ingin mengambil pisau lipat milik nya tapi sedari tadi kakak kedua nya itu terus saja mengikutinya. "Leo mau mandi." "Yaudah sana mandi aja." Alvera duduk di kasur milik adik nya itu. Leo menghela napas dan berjalan menuju kamar mandi sambil mengambil handuk nya. Leo sungguhan mandi di rumah nya, Leo pikir nanti tidak perlu lagi untuk mandi di rumah Allea. Setelah Leo menyelesaikan acara membersihkan tubuh nya –mandi. Leo keluar kamar mandi dan melihat tidak ada kakak nya di kamar nya, kesempatan bagus untuk mengambil pisau lipat nya untuk berjaga-jaga nanti di rumah Allea. Leo memasukkan pisau lipat kedalam saku nya dan berjalan keluar kamar nya dengan beberapa pakaian ganti karena kemarin Leo hanya membawa satu potong pakaian. "Kak gua berangkat." "Iya, kalo ada apa-apa kabarin orang rumah." "Iya." Leo masuk kedalam mobil nya dan mengendarai nya. Leo langsung menuju rumah Allea, yaang sudah di jaga oleh orang-orang yang termasuk dalam tim nya untuk menyelesaikan misi ini. Leo tidak mendapatkan kabar buruk apapun dari teman satu tim nya itu ataupun dari Allea membuat Leo sedikit lebih tenang, setidaknya saat ini Allea aman, pikir Leo. "Leo dateng juga lo, kirain gak balik lagi," ucap Vela. "Ya mana bisa, kan kangen Allea nanti," sahut Verell. "Allea?" "Dateng-dateng yang ditanyain Allea." "Di dapur tuh dia lagi bikin kue sih tadi bareng gua, sekarang tinggal nunggu kue nya mateng doang di oven," ujar Vela. Leo dengan segera berjalan ke dapur untuk lebih memastikan kalau Allea tidak apa-apa. Sebenarnya ada apa dengan Leo, dia sangat berlebihan dalam menjaga Allea. Leo tidak pernah seperti ini sebelumnya. "Allea," panggil Leo yang sudah berada di dapur melihat Allea yang sedang membungkuk kan badan nya untuk melihat kue kering yang di buat nya di dalam oven. "Eh lo dah balik." Allea menegakkan tubuh dan dan menghadap Leo. "Gak ada apa-apa kan?" "Gak ada kok aman, mereka gak mungkin neror disaat banyak orang gini biasanya." Leo mengangguk dan mencoba untuk melihat apa yang dibuat Allea. "Gua lagi bikin cookies," ucap nya seakan tau apa yang sedang di pertanyakan oleh Leo. Leo menatap Allea. "Apa?" tanya Allea. Leo menggelengkan kepala nya. Leo tidak ingin bertanya apapun, Leo hanya ingin melihat wajah Allea saja. Tidak ada alasan lain. "Karel?" tanya Leo seraya duduk di bangku dapur. "Belum pulang dia." "Pulang suruh beli makan." "Iya tadi gua udah chat Karel kalo pulang nya gak malem banget beli makan dulu buat kita makan malem." Leo mengangguk-anggukan kepala nya. Allea berjalan menuju kulkas dan menuangkan air dingin di gelas nya dan menenggak nya. Dan semua itu tidak luput dari penglihatan Leo. "Lo ngapain sih? sana di depan aja," usir Allea yang sudah menghabiskan minum nya. Leo diam saja tidak menggubris ucapan Allea yang mengusirnya dari dapur. "Leo udah sana." "Mau liat." "Bentar lagi juga mateng, tunggu di depan aja." Padahal maksud Leo, Leo ingin melihat dirinya bukan kue buatan nya. Untuk apa melihat kue yang berbentuk tidak bagus itu, Leo hanya mau melihat yang bagus saja, contoh nya wajah Allea. Allea menghela napas pasrah karena Leo sama sekali tidak mendengarkan ucapan nya. Leo itu sangat keras kepala, sulit sekali untuk memberitahu nya. Leo hanya menurut pada pemikiran nya saja. "Bentar lagi udah mau jam makan malem, Karel belum juga pulang apa?" Leo mengangkat bahu nya, menyatakan dirinya tidak tau kapan Karel akan pulang. Itu bukan urusan Leo jadi Leo tidak peduli. Ting. Suara oven yang menandakan kue yang tengah di buat oleh Allea sudah matang. Allea dengan cepat mengambil sarung tangan untuk mengambil loyang yang berada di dalam oven. Allea mengeluarkan tiga loyang kue yang telah di buat nya itu dan meletakkan nya di meja. "Leo tolong ambilin toples sama piring dong." Leo menjalankan perintah Allea untuk mengambil piring dan toples yang berada di lemari atas. Leo meletakkan barang yang di minta Allea tadi di dekat ketiga loyang itu. "Enak," gumam Leo yang mampu di dengar Allea, karena jarak mereka berdua yang dekat. "Padahal belum lo cobain." Allea melihat Leo dengan sedikit mendongakkan kepala nya utuk melihat Leo yang jauh lebih tinggi dari tinggi nya yang sekarang berdiri di belakang Allea. "Bau nya," lanjut Leo. "Iya dong buatan gua mah pasti enak. Cobain." Allea menyuruh Leo untuk mencoba kue nya terlebih dahulu. "Panas." "Nanti tunggu gak panas." Allea mengipasi kue-kue nya agar tidak terlalu panas lagi. Leo berdiri di samping Allea tanpa melakukan apapun. "Leo bantuin kek kipasin biar gak terlalu panas lagi, jangan diem aja." "Lo gak nyuruh gua." Allea berdecak sebal, "yaudah sekarang ini gua nyuruh." Leo mengangguk dan mengipasi kue-kue itu menggunakan tangan nya. Allea tertawa melihat Leo. "Hm?" Leo menoleh pada Allea yang masih tertawa. Leo bingung memang apa yang lucu? apa Leo melewatkan sesuatu? "Nih kipasin pake tutup toples nya, kalo lo kipasin pake tangan lo gitu kapan dingin nya nih kue coba," ucap Allea masih tertawa, tapi tidak sekencang tadi. Leo ikut tertawa pelan, bukan karena menertawakan kebodohan nya, tapi tertawa karena melihat Allea yang tertawa. "Nih udah gak terlalu panas, cobain." Allea mengambil satu kue yang di buatnya tadi dan menyodorkan nya pada Leo. "Cepetan nih." Allea menyodorkan langsung di depan mulut Leo. Leo membuka mulut nya. Allea memasukkan kue itu kedalam mulut Leo yang Leo gigit setengah dan mengunyah nya. "Gimana? enak kan?" Leo mengangguk. Leo tidak berbohong, memang sungguhan kue yang di buat Allea ini enak. "Kan resep gua mah gak salah." Allea memasukkan potongan kue yang sudah di gigit Leo tadi ke dalam mulut nya dan mengunyah nya. Leo tersentak melihat nya. "Kenapa?" tanya Allea yang menyadari kalau Leo menatap nya dengan terkejut. "Bekas gua." "Ya gak apa-apa," balas Allea santai sambil memasukkan kue-kue satu persatu kedalam toples. "Di loyang yang itu kue ya lo tari di piring ya." "Iya." Leo memindahkan kue itu dari loyang ke piring yang diambil nya tadi. "Wah seperti melihat keluarga bahagia ya." Verell masuk ke dalam dapur melihat Allea dan Leo yang sedang memindahkan kue dari loyang, membuat jiwa jahil Verell muncul. "Apa sih lo," sinis Allea. "Sensi amat." "Karel udah dateng tuh," ucap Vela yang juga masuk kedalam dapur. "Bawa makanan kan?" tanya Allea memastikan kalau Karel tidak melupakan pesanan nya itu. "Iya bawa." "Yaudah ayo makan malem, gua masukin kue dulu." "Sini gua bantuin." Vela membantu Allea untuk memasukkan kue kedalam toples. "Gua bantuin juga sini." Verell mendekat dan memakan kue nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN