"Leo?" Karel terkejut melihat Leo yang berjalan santai berlawanan arah dengan nya. Leo juga ada di sini? di tempat ini yang tidak mungkin orang asing bisa masuk sembarangan? pikir Karel ketika melihat teman nya itu juga ada disitu.
Leo hanya menoleh kearah nya dan juga Mark yang menyapanya, "Wey Leo."
Leo mengangguk saja membalas sapaan Mark padanya. Leo tidak tidak terkejut sama sekali dengan keberadaan Karel yang bersama Mark, karena sejak awal Leo memang tau Karel akan bergabung bersama nya menjadi secret agent. Ya selama ini Nanas itu membahas tentang anak baru itu, Karel. Jadi Leo tidak akan terkejut kalau melihat Karel berkeliaran di tempat nya berkerja ini yang juga akan menjadi tempat berkerja nya Karel juga.
"Loh kok lo di sini?" tanya Karel yang masih terkejut melihat Leo di sini. Ia pikir hanya dirinya saja yang akan menjadi secret agent, tapi sepertinya Leo pun sama sepertinya. Walaupun sebenarnya pikiran nya itu sangat salah besar. Leo tidak sama seperti dirinya yang masih berlatih untuk menjadi secret agent, Leo beberapa langkah lebih jauh darinya.
"Iya," jawab Leo seadanya, memang apa lagi yang akan di jawab nya. Menjelaskan posisi nya di tempat ini hanya akan membuang waktu nya kan.
"Mau kemana Leo?" Tanya Mark tanpa memperdulikan keterkejutan Karel. Mark sama sekali tidak berniat untuk menjelaskan nya juga pada Karel, biarkan saja nanti Karel yang akan mengeri sendiri kalau teman nya itu yang telah mereka ceritakan sebelumnya itu.
"Ruang latihan."
"Yaudah yuk sekalian aja latihan bareng," ajak Mark yang menoleh kearah Karel yang masih terkejut dengan keberadaan Leo.
Karel akhirnya hanya bisa mengangguk saja, dan akan menanyakan nya nanti bagaimana caranya Leo bisa sampai di sini juga sama seperti dirinya.
"Tunggu, Leo. Lo ngapain di sini?" Tanya nya sambil mengikuti langkah Mark yang mengarah ketempat ruangan berlatih, tempat yang tidak asing bagi Karel pastinya, karena sebelum nya Karel pernah datang dan berlatih di ruangan itu. Dan mungkin itu akan menjadi ruangan yang akan sering dikunjunginya.
Seperti biasa, Leo malas untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan Karel pada nya.
Karel yang tau tidak akan mendapatkan jawaban dari Leo, karena Karel tau Leo itu memang sering tidak menjawab pertanyaan nya langsung menoleh pada Mark yang terlihat biasa saja bahkan terlihat seperti berteman dengan Leo. Otak Karel terus berputar hingga menghasilkan berbagai macam pertanyaan di otak nya.
Mark membuka pintu ruangan latihan dan mempersilahkan yang lain nya untuk memasuki ruangan itu, "masuk."
Karel mengikuti ucapan Mark dan melangkah kan kaki nya memasuki ruangan berlatih bersama dengan Leo yang sangat santai.
"Mau latihan apa sekarang?" tanya Mark pada Karel yang masih menatap Leo dengan wajah bingung nya.
Mark terkekeh, karena mengerti apa yang ada di pikiran Karel sekarang. Ia tau, pasti Karel tengah bingung bagaimana bisa teman nya itu berada di sini, tempat yang sangat tidak mungkin orang asing yang tidak berkepentingan datang kesini.
"Heh mau latihan apa?" Mark menyenggol lengan Karel yang langsung tersadar dari lamunan nya -tidak lebih tepat nya memerhatikan Leo yang sekarang sedang memilih beberapa pistol.
"Pistol," jawab Karel karena ia ingin sekalian bertanya pada Leo, apa yang dia lakukan sebenarnya.
"Yaudah ayo ke sana." Mark melangkah lebih dulu, diikuti nya di belakang sambil terus memerhatikan Leo yang sekarang sedang mencoba-coba berbagai pistol di genggaman nya.
"Nih pake pistol yang ini dulu." Mark memberikan salah satu pistol pada Karel.
"Iya." Karel berdiri di samping Leo.
Leo tetap pokus pada sasaran di depan nya itu, dan membidik nya dengan pistol nya. Leo tidak memperdulikan Karel yang masih menatap nya dengan kebingungan, Leo sangat tau kalau Karel tengah kebingungan karena dari wajah nya itu terpampang dengan sangat jelas kalau dirinya tengah dilanda kebingungan.
"Kalo mau jadi agent, harus pinter mengontrol ekspresi," ujar Leo tanpa melihat sedikitpun pada Karel yang tersentak karena perkataan nya itu.
"Hah?" Karel semakin tidak bisa mengontrol ekspresi nya yang terkejut.
Mark tertawa melihat Karel seperti itu. "Bener apa yang di bilang Leo tadi." Mark menepuk bahu Karel.
"Hah?" lagi-lagi Karel menampilkan wajah kebingungan sambil menatap Mark.
"Harus bisa mengontrol ekspresi, biar pas lagi berhadapan langsung sama musuh dan kita takut, mereka gak tau. Jangan sampe musuh tuh tau apa yang lagi kita rasain, karena mereka bisa jadiin kelemahan kita itu buat senjata mereka buat kita," jelas Mark mengingat kata-kata yang pernah di lontar kan pelatihnya dulu pada nya.
Karel mengangguk dan mencoba mengontrol ekspresi nya. Karel sekarang mengerti kenapa banyak orang yang berpapasan dengan nya selama di sini sering menampilkan ekspresi yang datar seolah tanpa emosi, tapi setelah di sapa atau sedang menyapa sangat lah ramah.
Dorr.
Karel tersentak karena suara pistol yang berada di tangan Leo. Dan Mark lagi-lagi terbahak melihat Karel.
"Lo harus sering denger suara tembakan kayanya biar gak gampang kaget gini, masa agent sama suara pistol aja kaget gitu." Mark memasukkan peluru ke dalam pistol yang ia pegang, nantinya akan di gunakan Karel untuk belajar menembak.
Karel menggaruk tengkuk nya canggung. Sebenarnya kalau saja Karel tidak sibuk memikirkan bagaimana Leo bisa di sini juga Karel tidak mudah terkejut seperti ini hanya karena suara pelatuk pistol.
"Nih lo tadi mau belajar nembak." Mark memberikan pistol yang sudah ia isi dengan peluru.
Karel mengambil pistol yang disodorkan Mark pada nya. "Iya."
"Harus pokus," ucap Mark memberi arahan pada Karel.
"Pake penutup kuping sama kacamata nya dulu nih." Mark kembali memberikan penutup telinga dan kacamata bening pada Karel, sebagai pemula benda itu penting di pakai, tidak seperti Leo yang sudah sangat biasa dengan ini semua.
Karel mengangguk dan memakai benda yang di berikan pada nya. "Udah."
"Pokus." Mark menepuk bahu Karel dan mundur beberapa langkah membiarkan Karel pokus untuk membidik sasaran di depan sana.
Dor
Tembakan pertama Karel melesat tidak mengenai sasaran dengan tepat. Leo menoleh pada Karel, memerhatikan bagaimana cara Karel menembak.
"Pokus Karel," ucap Mark.
Karel menghela napas dan kembali menembak kan sasaran. Tepat mengenai sasaran, tapi tidak tepat berada di tengah-tengah.
Leo meletakkan pistol nya dan melangkah mendekati Karel. Leo pikir mungkin ia harus turun tangan mengajarkan Karel bagaimana cara menembak dengan benar. Leo menghela napas pelan dan berdiri di belakang Karel.
"Yang bener." Leo membenarkan posisi tubuh Karel agar lebih tegap, dan sedikit mengangkat kedua lengan Karel yang memegang pistol.
Karel mengerutkan dahi nya ketika Leo membenarkan posisi tubuh nya dengan benar. Sepertinya Leo lebih dulu berada di sini daripada dirinya, pikir Karel.
Dor
Tembakan ketiga Karel sangat tepat mengenai tengah sasaran. Karel sedikit tersenyum bangga karena berhasil menembak dengan tepat, kemarin berlatih pun membutuhkan lima sampai enam kali tembakan untuk bisa menembak tepat berada di tengah sasaran. Karel sekarang mengerti kalau posisi tubuh tegap dan pokus tanpa ada rasa keraguan sedikit pun akan membuat tembakan tepat mengenai sasaran yang di tuju.
Karel menurunkan kedua tangan nya, melepas penutup telinga nya dan menatap Leo.
"Lo udah berapa lama berlatih di sini?"
"Lama," jawab Leo sambil berjalan meletakkan pistol yang telah ia gunakan tadi pada tempat nya.
"Berapa lama? Harus tunggu sampe dua puluh tahun kan buat bisa dapet misi," ujar Karel yang mengikuti Leo meletakkan pistol nya, setelah sebelumnya melepaskan kacamata bening nya.
Mark melangkah menjauhi mereka berdua dan mengangkat ponsel nya yang tengah bernyanyi dengan keras itu terdiam.
"Gua gak nyangka kalo lo juga ada di sini," ucap Karel menatap teman nya itu dengan tatapan yang tidak menyangka kalau Leo berada di sini juga bersama dengan dirinya, berlatih bersama untuk menjadi secret agent yang sama.
"Pantesan aja lo ternyata diem-diem jago bela diri." Karel mengikuti langkah Leo menuju pintu utama.
"Woy tunggu." Mark sedikit berlari mengejar kedua nya yang sudah mendekati pintu untuk keluar dari tempat latihan yang hanya ada beberapa orang di dalam nya sedang berlatih dengan alat-alat yang sudah tersedia di tempat ini.
Karel menoleh, menunggu Mark yang sedikit berlari kearah nya. Leo tetap saja jalan keluar ruangan tanpa menunggu kedua nya. Mereka juga tidak akan tersesat tanpa dirinya, pikir Leo.
Mark dan Karel menyusul Leo yang sudah beberapa langkah di depan mereka berdua. "Tungguin dong."
"Leo lo utang penjelasan sama gua," ucap Karel pada Leo yang langsung mendapatkan tatapan bingung dari Leo. Memang nya Leo harus menjelaskan apa pada Karel.
"Gua gak ikutan loh ya," sahut Mark.
"Kak Mark, tapi lo tau dong sejak kapan Leo di sini?" Karel menoleh pada Mark yang melirik Leo. Mark tidak mau sembarangan mengatakan nya, kalau Leo tidak mengijinkan Mark tidak akan mengatakan apapun pada Karel.
"Tanya sendiri aja, gua gak berhak jawab," ucap nya yang tidak tau mendapatkan ijin atau tidak dari Leo untuk mengungkap siapa Leo dan sejak kapan dia di sini, karena Leo hanya diam saja seolah tidak peduli, dan ya memang Leo tidak begitu peduli dengan pertanyaan yang tidak begitu penting bagi nya.
"Leo." Seorang perempuan menghampiri Leo dengan membawa berkas di tangan kanan nya.
Mark yang sudah mengenal wanita dari penyelidikan itu hanya menyapa nya dengan ramah, berbeda dengan Karel yang belum mengenal bahkan tidak mengetahui siapa wanita itu.
"Oh hai Mark," sapa nya membalas sapaan dari Mark.
"Ada apa?" tanya Leo menunggu apa yang akan di sampai kan wanita itu.
"Oh siapa dia?" tunjuk nya pada Karel.
"Perkenalkan saya Karel." Karel memperkenalkan diri nya sendiri dengan ramah. Karel jauh lebih ramah daripada Leo.
"Dia anak baru," ucap Mark.
"Oh dia si anak baru itu." Wanita itu mengangguk-anggukan kepala nya melihat Karel.
"Iya."
"Ada apa?" tanya Leo lagi karena sedari tadi wanita itu tidak menjawab pertanyaan nya.
"Oh ini aku menemukan sesuatu." Dia membuka berkas yang berada di tangan nya dan memperlihatkan hanya pada Leo.
Karel memerhatikan Leo yang tengah serius melihat kearah berkas yang di berikan wanita itu, dan wanita itu menjelaskan berbagai hal yang Karel tidak mengerti. Mark yang mengerti situasi ini segera mengajak Karel untuk kembali berkeliling sebelum waktu nya pulang.
"Ayo keliling lagi."
"Leo?"
"Biarin dia ada urusan." Mark melihat Leo dan wanita itu yang sudah berjalan menjauhi mereka berdua tanpa berpamitan. Terlihat sangat sibuk.
"Urusan? anak yang baru berlatih emang udah di kasih urusan gitu?"
"Nanti lo tanya sendiri sama Leo."