Part 47

1542 Kata
Keesokan hari nya. Leo sudah berada di apartment nya bersama dengan teman nya yang lain sambil melaksanakan sarapan mereka mengobrol dan tentu saja tidak ber sekolah mereka. Karel yang sudah sejak kemarin ingin membicarakan masalah pertemuan dengan teman-teman itu mencoba untuk mencari waktu yang tepat. Tidak bisa kalau dirinya membicarakan hal itu di depan teman-teman nya lain, itu sama saja membongkar identitas nya yang harus nya di sembunyikan. "Eh Leo anterin gua pulang," ucap Karel. Sebenarnya itu hanya alasan saja agar bisa berbicara berdua dengan nya. "Lo kan bisa naik mobil sendiri," sahut Alfi sambil meneguk minum nya. "Males nyetir." "Lagian lo ngapain pulang?" tanya Vela yang masih menyendok kan makanan nya. "Mau ambil sesuatu, lupa bawa." "Lo mau berdua-duaan kali sama Leo," ejek Verell. "Heh sembarangan." Karel menimpuk Verell menggunakan sendok. "Aduh sakit banget."Verell mengusap kepala nya yang terkena pukulan sendok Karel. "Kurang sakit? sini gua tambahin lagi." Karel sudah kembali mengayunkan sendok nya ke kepala Verell tapi terhenti karena suara Leo. "Iya," ucap Leo. "Iya apa?" tanya Vela bingung karena Leo yang tiba-tiba mengatakan 'iya'. "Leo mau nganterin Karel pulang," sahut Allea yang mengerti dengan maksud ucapan Leo tadi. "Emang bener Allea tuh penerjemah Leo ya," ujar Verell yang setuju di angguki yang lain nya. *** Karel sudah berada di dalam mobil berdua dengan Leo untuk mengantarkan nya ke rumah, yang sebenarnya tidak. Karel hanya beralasan agar bisa berbicara berdua dengan Leo. "Kenapa?" tanya Leo. Karel menghela napas. Entah Leo yang terlalu peka atau dirinya yang mudah terbaca. "Bahas pertemuaan gua kemaren." Leo menoleh pada Karel yang sedang mengendarai mobil nya. Padahal tadi Karel beralasan minta diantarkan pulang oleh Leo karena malas menyetir, tapi untung saja tidak ada teman-teman nya di sini. "Revan udah ngaku sendiri dia yang lakuin, dia ngelakuin ini terpaksa karena di bawah ancaman," jelas Karel. "Dapet ancaman dari mana?" "Pesan, telfon, ngasih poto ibu nya yang lagi di rawat di rumah sakit. Dia di ancam dengan itu." Leo masih diam saja mendengarkan penuturan dari Karel. "Nomornya gak bisa di hubungin, dan gak bisa di lacak. Revan sampe sekarang dalam pantauan mereka, Revan udah jujur dan minta perlindungan terutama ibu nya yang di rumah sakit." Karel berharap Leo akan benar-benar melindungi Revan dan ibu nya. "D rumah sakit mana?" tanya Leo yang sudah membuka ponsel nya. "Gua belum tanya, ntar gua tanya dulu." Karel mengirimkan pesan pada Revan untuk menanyakan yang di tanyakan Leo tadi dengan satu tangan yang masih memegang setir mobil. "Gua kirim alamat." Karel yang sudah mendapatkan jawaban nya langsung mengirimkan pesan yang ia dapat kepada Leo. Leo hanya mengangguk saja. "Mereka kayanya banyak, dan yang mereka suruh-suruh itu orang-orang. Jangan-jangan yang selama ini kita tangkep juga gak ada hubungannya, dia cuma di suruh," ucap nya. Leo juga sebenarnya berpikir seperti itu, tapi Leo akan mencari tau terlebih dahulu. Leo sekarang sedang terfokus pada keselamatan Allea, bahkan terkadang Leo melupakan tugas lain nya. "Terus gimana? tugas penyamaran udah berhasil?" tanya Karel yang belum mendengar berita apapun dari tim penyamaran. "Belum," jawab Leo yang masih memainkan ponsel nya. "Ternyata gak semudah dan seseru di film," gumam Karel yang mampu di dengar oleh Leo, tapi tidak di hiraukan nya. Karel menjalankan mobilnya tanpa tujuan yang jelas, dan menoleh pada Leo. "Pulang sekarang?" "Beli makanan dulu." Karel mengangguk dan memutar mobil nya kearah supermarket yang tidak jauh dari tempat nya sekarang. "Kaya nya lo jagain Allea bukan cuma karena misi ini," ujar Karel sambil tertawa pelan. Leo hanya menoleh pada Karel sebentar lalu membuka mobil dan turun ketika mobilnya telah terparkir di depan supermarket itu. Karel hanya tertawa melihat tingkat Leo, "kaya nya emang bener." Karel sedikit berlari menyusul Leo yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam. "Woy tungguin." Karel membawa troli dan Leo memasukkan beberapa makanan ke dalam troli. "Mau beli ini aja?" tanya Karel pada Leo yang sudah tidak lagi memasukkan makanan ke dalam troli. "Bilang yang lain, mau apa." "Iya gua chat dulu." Karel membuka ponsel nya, mengirimkan pesan pada teman-teman nya. Menanyakan mereka ingin membeli apa karena dirinya dan Leo sedang berada di supermarket. "Nih mereka—" ucapan Karel terhenti karena tidak melihat Leo di hadapan nya. "Kemana lagi nih orang." Karel mendorong troli nya sambil menoleh disekelilingnya mencari teman nya itu. Karel terhenti ketika melihat seseorang yang mencurigakan bagi nya sedang bersembunyi sambil memerhatikan salah satu orang, yang Karel lihat seperti penjahat kelas teri. Karel terus memerhatikan nya, dan berpikir apa orang yang sedang bersembunyi itu sedang mengawasi nya atau sedang mengawasi penjahat kelas teri itu. Mata Karel juga menangkap sesosok di balik kaca mobil dengan kacamata hitam namun tidak begitu terlihat karena kaca mobil itu hanya terbuka sebatas hidung nya saja, dan mata nya tertutup kacamata. Bagaimana Karel bisa mengenalinya kalau seperti itu. "Ngapain?" Karel tersentak ketika mendengar ucapan Leo. "Gua curiga... " Leo menarik tangan Karel yang hendak menunjuk ke arah luar. Leo membawanya kembali masuk, tidak di dekat kaca depan yang bisa memerhatikan kegiatan di luar supermarket itu. "Kenapa sih? itu gua mau..." "Jangan sembarangan, lo bukan anak sekolahan biasa." peringat Leo pada Karel. "Iya tapi mereka mencurigakan, kita harus... " "Jangan gegabah," potong Leo. Karel menghela napas, "padahal bisa aja itu petunjuk kita," gumam Karel. "Gua udah suruh yang lain pantau, kita jangan ikut campur." Leo kembali menuju rak cemilan dan memasukkan beberapa bungkus ke dalam troli. Karel diam dan hanya mengangguk kan kepala nya menuruti ucapan Leo. Bagaimana pun dia itu masih baru, jadi menurut saja. Mereka berdua telah membeli berbagai makanan cemilan dan sekarang sedang menuju apartment Leo. "Terus awasin Revan," ucap Leo tanpa menoleh sedikit pun pada Karel karena dirinya pokus menyetir. Ya kali ini Leo yang membawa mobil nya. "Cuma gua?" tanya Karel menoleh pada Leo. Leo mengangguk. Biarlah Karel bisa belajar dari tugas kecil yang di berikan Leo pada nya. "Kalo gua tanpa sadar ngasih tau identitas gua gimana?" "Keluar." "Dari misi ini?" "Agent." "Hah? kalo sampe identitas gua ketauan gua harus keluar dari secret agent ini?" tanya Karel terkejut, dia tidak di beritahu ini sejak awal, ia tidak tau kalau sampai di keluarkan, ia pikir hanya mendapatkan hukuman saja. Leo mengangguk. "Kejam banget," ujar Karel. Karel harus sangat berhati-hati saat ini, ia tidak mau kalau sampai keluar dari pekerjaan ini. Masuk ke dalam pekerjaan ini sangat lah sulit, dan dia juga baru saja masuk bergabung. Ia tidak mau hanya karena mulut nya yang mulus akan mengatakan siapa identitas nya itu akan membuat dirinya dalam situasi yang tidak baik. Karel sudah membayangkan, kalau dirinya sampai ketahuan kalau dirinya seorang Secret agent, musuh mengetahui ini dan lagi dirinya sudah di buang dari kantor nya tanpa perlindungan. Sudah di pastikan Karel tidak akan selamat. Leo masuk ke dalam parkiran dan turun dari mobil nya. "Kalo udah sampe bilang kek." Karel menyusul Leo yang sudah terlebih dahulu keluar mobil. Leo mengeluarkan beberapa plastik besar berisi makanan mereka dan meletakkan nya di samping mobil lalu berjalan meninggalkan Karel dengan beberapa plastik besar itu. "Woy ini gua semua yang bawa masuk?!" teriak Karel yang tidak di hiraukan oleh Leo. Karel mendengus kesal sambil membawa belanjaan mereka tadi. Banyak dan berat. "Loh Karel mana? gak balik lagi?" tanya Alfi yang melihat Leo masuk ke dalam apartment nya seorang diri tanpa Karel. "Belakang." Leo berjalan menuju kamar nya. Tidak lama Karel datang membawa banyak nya belanjaan makanan nya tadi. Verell dan yang lain nya menertawakan Karel yang terlihat kesusahan membawa itu semua. "Bantuin, bukan diketawain!" kesal Karel. "Di babu in Leo ya." Verell dan Alfi datang membantu membawa belanjaan nya itu. Sebenarnya bukan itu tujuan mereka membantu Karel, tapi mereka tidak sabar untuk melihat makanan yang mereka pesan tadi. Verell duduk di bawah sofa sambil mengeluarkan berbagai makanan itu di meja. "Tadi abis ngambil apa?" tanya Allea pada Karel yang langsung merebahkan dirinya di sofa karena lelah membawa banyak belanjaan mereka itu. "Udah lah jangan tanya, gua capek." Alasan yang sepenuh nya tidak berbohong, karena dirinya memang lelah jadi tidak sempat untuk memikirkan jawaban alasan nya. Allea hanya mengangguk-anggukan kepala nya saja sambil membuka s**u kotak yang ia pesan tadi. "Gratis kan ini?" ucap Alfi. "Iya, Leo yang beliin." "Gitu dong Karel jadi temen tuh begitu," sindir Verell pada Karel. "Kenapa gua yang kena sih, emang gua pelit apa." "Iya," jawab mereka semua. Karel hanya mendengus saja. Padahal dirinya tidak pelit, hanya irit saja. Tapi mereka juga berlebihan, Karel tidak se pelit itu, Karel juga pernah membayarkan makanan mereka walaupun tidak sering. Lagipula ... "Gua kan gak se kaya Leo," ujar Karel. "Iyaa juga sih." "Makanya traktir kita terus biar kaya," sahut Verell sambil mengunyah kripik kentang. "Yang ada makin miskin, lo kan gak tau diri kalo di traktir." Verell melanjutkan makan nya sambil membuka makanan lain nya tanpa memperdulikan ucapan Karel pada nya. Verell tidak merasa, jadi biasa saja. "Eh iya sih bener, kalo traktir Verell tuh kita jadi rugi," sahut Vela yang membela Karel. "Lah lu kenapa jadi dukung dia," ucap Verell yang tidak terima karena sekarang ada dua orang yang memojokkan nya. Allea hanya tertawa melihat perdebatan teman-temannya itu. Tidak seperti biasanya Allea hanya diam saja dan menyahutinya, padahal biasanya yang paling berisik itu dirinya dan juga Verell. Mereka berdua itu kalau di satunya, guru pun menyerah. Tapi karena semua kejadian yang menimpa Allea kali ini membuat nya menjadi tidak seperti biasa nya, menjadi sedikit pendiam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN