"Karel," panggil Leo pada Karel yang tengah bermalas-malasan memakai seragam nya.
"Iya sabar," balas Karel sambil memakai sepatu nya.
"Nanti telfon ya kalo ada apa-apa," ucap Leo pada Allea yang tengah memegang tali tas nya.
Allea hanya mengangguk menjawab ucapan Leo.
"Padahal gua juga mau jagain Vela." Karel berdiri menghampiri Leo dan juga Allea.
Leo hanya diam saja dan berjalan meninggalkan Karel yang terus saja mengoceh karena kesal tidak di perbolehkan untuk membolos hari ini bersama dengan Allea. Leo membukakan pintu mobil untuk Allea dan masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Karel yang masih berjalan menghampiri mobil Leo.
Leo menekan klakson untuk memerintahkan Karel agar lebih cepat masuk ke dalam mobil. "Woy sabar dong." Karel masuk ke dalam mobil Leo.
Karel diam saja sambil memainkan ponsel nya masih dengan perasaan kesal nya. Allea yang jah lebih pendiam dari biasa nya, ia hanya diam sambil melihat ke jalanan luar, melihat mobil dan motor yang berlalu lalang.
Leo mengendarai mobil nya menuju rumah sakit di mana Vela dirawat di sana. "Nanti di makan roti sama s**u nya," ucap Leo pada Allea yang sedari tadi hanya diam.
"Iya."
"Kayanya kita bakal terlambat masuk sekolah," ujar Karel sambil melihat jam yang terpampang di ponsel nya. Sepertinya ini akan menjadi kesempatan bagus untuk membolos bersama dengan Allea kan.
"Harus tetep masuk."
"Ck tau aja lagi gua mau bolos," decak Karel sambil kembali menyandarkan tubuh nya di kursi mobil. Karel sangat malas untuk berangkat sekolah sekarang, jiwa untuk belajar di sekolah nya sekarang sedang berkurang, dan semangat untuk memecahkan kasus ini yang sedang melonjak naik. Karel ingin pergi ke kantor dan memecahkan kasus ini saja sekarang bukan belajar si sekolah. Ya walaupun Karel bukan tipe anak yang malas belajar seperti Verell dan Alfi, ah jangan lupakan Allea juga malas belajar.
Leo membelokkan mobil nya ketika sudah sampai di rumah sakit yang ingin di tujuannya. Leo memarkirkan mobil nya.
"Allea," panggil Leo yang tidak mendapatkan respon dari Allea.
"Allea," panggil nya lagi sambil menyentuh tangan Allea.
Allea tersentak dan menoleh pada Leo, "kenapa?"
"Udah sampe."
"Oh udah sampe, yaudah gua turun dulu."
Leo menahan lengan Allea. "Kenapa?" tanya Allea sambil menatap Leo.
"Ayo gua anterin." Leo merasa sangat khawatir dengan keadaan Allea saat ini, walaupun ini sudah sampai di rumah sakit yang merawat Vela dan di dalam juga ada beberapa orang yang ia suruh untuk mengawasi Vela secara diam-diam tentu nya, dan juga Allea hanya akan berjalan sampai ruangan dimana Vela di rawat, tapi tetap saja Leo merasa khawatir dengan Allea. Leo terlalu mengkhawatir kan Allea memang.
"Ekhem... tapi kita udah telat nih," dehem Karel mengalihkan perhatian mereka berdua sambil melihat ponselnya yang sudah menunjuk kan kalau mereka pasti akan terlambat nanti, karena sekarang pada jam segini bel sudah berbunyi.
"Gak apa-apa Leo, lagian juga udah sampe di rumah sakit nya. Udah sana berangkat sekolah nanti terlambat."
Leo terdiam sesaat, "kalo ada apa-apa telfon."
"Iya Leo, kalo ada apa-apa lo orang pertama yang gua hubungin kok," balas Allea sambil keluar dari mobil Leo.
"Sana berangkat udah terlambat kalian." Allea melambaikan tangan nya pada Leo dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit dengan tatapan Leo yang tidak lepas dari nya.
"Kapan nih kita berangkat nya," ucap Karel yang mengalihkan pandangan Leo.
Leo hanya berdehem dan kembali menjalankan mobilnya untuk ke sekolah mereka. Karena mereka sudah telat sekitar tiga puluh puluh menit lama nya, dan itu sebenarnya tidak ada apa-apa nya di bandingkan anak yang hobi terlambat, bahkan sampai satu dua jam terlambat ke sekolah. Seperti kakak nya dulu, kak Alvera yang kadang datang ke sekolah ketika istirahat berlangsung. Betapa ajaibnya kakak nya yang satu itu.
Ternyata sekarang lihat, tidak semudah itu juga masuk ke dalam sekolah ketika telat, harus melewati gerbang yang sudah di tutup, lalu bagaimana cara kakak nya dulu keluar masuk sekolah ini dengan leluasa? Ingat kan pada Leo untuk menanyakan hal ini pada kakak nya nanti.
Leo harus menyogok dengan beberapa lembar uang pada satpam yang berjaga di depan agar di bukakan pintu gerbang hingga mobil nya dapat masuk ke sekolah. Dan ternyata tidak sulit juga keluar masuk ke sekolahan ini, asalkan ada uang.
"Gitu ya cara main nya orang kaya," sindir Karel sambil keluar mobil Leo.
Leo hanya diam saja, lagipula Leo malas berdebat dan mendengarkan omelan karena dirinya terlambat, jadi lebih baik dengan uang saja supaya lebih cepat.
"Gua harus cari uang yang banyak lah biar gampang ngapa-ngapain kalo banyak uang." Karel terkekeh sendiri dengan pikiran nya.
Leo hanya diam saja. Jangan menilai kalau Leo sering menggunakan kekuasaan uang untuk kepentingan sendiri seperti tadi. Leo hanya menggunakan nya kalau Leo malas membuang waktu nya lebih banyak lagi, jadi lebih baik dengan uang saja seperti tadi. Memang terkadang orang lebih mudah di atur kalau dengan uang.
***
"Gila demi apa lo Leo?" tanya Verell terkejut mendengar cerita Karel yang mengatakan kalau mereka terlambat dan Leo memberikan uang pada satpam yang berjaga di depan.
"Emang gitu ya orang kaya," sahut Alfi sambil mengunyah makanan nya.
"Padahal gak perlu di kasih uang juga pasti di kasih masuk sih."
"Lama," balas Leo setelah selesai menenggak minuman nya.
"Wih beneran orang kaya gini nih," ucap Verell.
Leo hanya diam saja tidak ikut kembali membahas masalah ia memberikan uang pada satpam di depan agar membuka kan gerbang untuk nya. Leo lebih sibuk mengirimkan pesan pada Allea untuk menanyakan apa Allea sudah memakan roti dan s**u yang telah di bawa nya tadi, apa sekarang sudah makan siang, apa di sana baik-baik saja, apa Allea membutuhkan sesuatu, apa keadaan nya baik-baik saja.
Sebenarnya pertanyaan yang terakhir itu lebih cocok untuk di tanyakan pada Vela yang memang sedang sakit dan di rawat di rumah sakit itu, bukan nya melontarkan pertanyaan itu pada Allea. Tapi terserah saja pada sang pengirim pesan itu –Leo.
"LEO," panggil Verell sambil berteriak karena sejak tadi memanggil Leo hanya diam saja. Leo bukan nya tuli, hanya saja Leo malas menyahuti nya saja.
Leo menoleh pada Verell sambil menampilkan tatapan seperti bertanya 'ada apa?'
"Seriusan Bi Inah meninggal di bunuh?" tanya Alfi yang sangat terkejut mendengar kabar dari Karel barusan.
Leo hanya mengangguk. Lagipula untuk apa harus kembali meng iya kan kalau mereka juga sudah tau dar Karel yang juga melihat kejadian kemarin.
"Terus Allea gimana? sekarang dia dimana?"
"Di rumah sakit nemenin Vela."
"Bi Inah terus udah di urus?"
"Udah tuh sama Leo." Tunjuk Karel pada Leo yang sedari tadi hanya diam.
"Terus Allea dimana? masih di rumah itu?"
"Semalem sih tidur di apart Leo dulu."
"Berduaan?" Alfi menatap Karel menunggu jawaban dari pertanyaan nya.
"Enggak, sama gua juga."
"Kalian nginep gak ajak-ajak kita," sahut Verell.
"Ini kan kita bukan nginep main seneng-seneng."
"Iya sih."
"Kapan-kapan lah ajak kita nginep juga ya?" pinta Verell pada Leo.
Lagi-lagi Leo hanya mengangguk saja untuk menjawab mereka.
"Gua masih gak abis pikir Bi Inah, kok bisa?"
"Ya mana gua tau," jawab Karel.
"Lo harusnya cari tau dong," ujar Verell pada Karel.
"Emang gua polisi, biarin polisi aja lah yang cari tau."
"Iya sih ya, kalo kita cari tau tuh tugas polisi ngapain ya," sahut Alfi.
"Kemaren-kemaren Vela, sekarang bi Inah, nanti siapa lagi ya?" Verell mengambil makanan milik Alfi.
"Awal-awal tuh Allea," sahut Alfi sambil memukul tangan Verell yang mengambil makanan nya.
"Kita harus saling ngejagain," ucap Karel.
"Kalo selanjutnya gua gimana?" tanya Alfi takut, karena ia tidak bisa membayangkan kalau dia berada di posisi terancam mengerikan seperti itu. Alfi lebih baik pasrah dan pingsan saja. Bahkan kalau pun ada zombie, mungkin Alfi akan menjadi orang pertama yang menyerahkan diri pada zombie agar di gigit. Alfi tidak mau nanti dirinya akan mati ketakutan, lebih baik ia di gigit lebih awal daripada harus berjuang melawan zombie itu dan tetap saja berakhir mati karena ketakutan. Alfi memang sepasrah itu.
"Ya mau gimana lagi," sahut Verell dengan santai seakan itu hanya lelucon saja. Tapi Verell memang menganggap ucapan Alfi itu hanya lelucon saja.
"Eh gua ke sana dulu mau kumpul orang pinter dulu," ucap Karel sambil menunjuk salah satu teman nya yang berada di kelas yang berbeda.
"Gaya banget," sahut Alfi.
"Yaudah sana sana," usir Verell.
Leo hanya diam saja melirik kearah teman-teman yang di tunjuk Karel itu. Leo sudah tau teman-teman yang Karel maksud itu teman yang waktu itu mereka curigai terlibat dengan kejadian Vela terkait pemotongan rekaman cctv di sekolah.
"Gua ke sana dulu," pamitnya pada Leo seakan menunjukkan pada Leo kalau dirinya akan berkumpul dengan orang-orang yang mereka curigai kemarin.
Karel memberikan tatapan seakan menunjukkan kalau dirinya akan mengulik lebih lanjut tentang kecurigaan nya itu. Apalagi sekarang Bagas mengajak mereka berkumpul, kebetulan sekali kan. Karel menduga kalau Bagas juga mencari tau tentang pembunuhan Vela di sekolah kemarin, dia memang terkadang suka turun tangan kalau ada terjadi sesuatu di sekolah. Ini kesempatan bagus kan bagi Karel karena orang lain juga ikut membantu mengusut kasus ini, Karel jadi merasa terbantu. Siapa tau dengan berkumpulnya mereka ini bisa membuka siapa yang telah melakukan nya.
Leo mengangguk kan kepala nya pada Karel memberikan kepercayaan pada Karel untuk mengulik nya lebih lanjut. Leo harus mulai memberikan nya kepercayaan nya pada teman satu tim nya kan walaupun Karel masih baru.
"Sok gaya banget si Karel ya, kumpul orang pinter," ucap Verell.
"Lah tapi mereka emang di kenal jadi orang pinter kan," sahut Alfi.
"Dukun."