Part 30

1511 Kata
Hari minggu, hari yang paling di tunggu-tunggu. Tanggal merah yang terlihat paling cantik di antara tanggal yang lain karena berwarna merah. Seperti saat ini mereka semua yang menginap di rumah Allea terlihat sudah bangun lebih awal karena mereka akan lari pagi bersama, sebenarnya mereka ingin berjalan-jalan tapi karena percakapan kemarin yang membahas tentang siapa target penembakan di sekolah mereka itu membuat mereka semua merasa takut untuk berpergian jauh. "Gua masih ngantuk banget," keluh Verell seraya mengusap kedua mata nya. "Hooamm ... sama," sahut Alfi sambil menggaruk kepala nya. "Udah ayo cepetan pake sepatu nya," perintah Allea yang sudah rapi menggunakan sepatu bersama Vela. "Gua gak ikut deh." "Yaudah lo disini aja sendiri, nanti kita semua balik kesini lo tinggal nama doang bukan salah gua." Allea menakuti Verell. Sebenarnya tidak sepenuhnya ucapan Allea bohong, karena siapa tau ketika mereka semua sedang berlari pagi bersama dan Verell di rumah nya si peneror akan kembali meneror nya atau melakukan hal yang lebih seram lagi, seperti kejadian penembakan di sekolah nya itu. "Dih lo nyumpahin gua." "Bukan nyumpahin sih. Tapi ngedoain hahaha." Vela, Allea dan Alfi tertawa bersama. "Lah Leo sama Karel aja mana tuh mereka gak ikut?" tanya Verell yang tidak melihat kedua teman nya itu. "Karel lagi ke kamar mandi, Leo lagi siap-siap katanya," jawab Vela sambil membenarkan ikatan rambut nya. Alfi memakai sepatu nya dengan malas karena dirinya semalam sibuk bermain game pou hingga tengah hari jadi sekarang masih mengantuk. "Gua minum dulu deh." Verell melangkah kan kaki nya menuju dapur. Karel dan Leo datang menghampiri yang lain nya. "Udah yuk," ucap Karel sambil menyingkirkan rambut nya kebelakang. "Mending pake dulu deh sepatu lo," ujar Vela melihat kearah Karel yang belum juga memakai sepatu. "Oiya lupa." Karel duduk dan mengambil sepatu nya. "Nanti rumah di kunci?" tanya Leo pada Allea. "Kaya percakapan keluarga baru gitu ya," sindir Verell yang sudah kembali dari dapur dan duduk di samping Karel untuk memakai sepatu nya. "Iya, bi Inah udah gua suruh gak usah kesini, nanti kita sarapan beli aja ya," ucap Allea yang mengabaikan sindiran Verell. "Iya." Leo memakai sepatu nya sambil melihat sekeliling rumah Allea, seperti biasa untuk berjaga-jaga mencari sesuatu yang mencurigakan. "Udah yuk." Karel berdiri sudah memakai sepatu nya, dan membenarkan pakaian nya. "Lo tuh mau olahraga apa mau poto model sih?" Verell menatap Karel dari atas hingga bawah yang memakai kaos putih polos dan celana pendek serta rambut yang di sisir kebelakang memerhatikan kening nya. Sangat berbeda dengan Verell yang hanya memakai kaos dan jaket serta celana pendek serta rambut yang menutupi kening nya. Tapi Karel yang berpakaian sangat sederhana itu malah yang membuat nya semakin memukau. "Ya gimana ya, gua mau pake baju apapun tetep cakep sih. Ini semua karena wajah tampan gua kayanya mah," jawab Karel sombong. "Sombong lo. Gua juga cakep kali ..." "Kalo gak ada lo," lanjut Verell yang di sambut gelak tawa yang lain nya. "Tapi kayanya lo terlihat biasa aja sih kalo ada Leo." Verell melihat Leo yang memakai celana jogger panjang berwarna hitam, dan baju panjang warna senada dengan celana nya yang terlihat pas di tubuh Leo. Dengan tubuh Leo yang terlihat lebih berbentuk di banding yang lain membuat pakaian yang di kenakan nya terlihat hanya sangat cocok pada tubuh Leo. "Tapi gua tetep gak kalah keren lah." Karel menyisir rambutnya kebelakang. "Najis." Verell melangkah terlebih dahulu meninggalkan yang lain nya. "Alfi heh jangan tidur lagi." Vela menarik rambut Alfi yang sedang duduk bersandar pada tembok sambil memejamkan mata nya. "Aduh, lo kaya emak tiri ya." Alfi mengusap rambut nya yang tadi di tarik oleh Vela. "Makanya jangan tidur lagi, ayo cepetan." Vela menarik Alfi untuk berdiri. Alfi mau tidak mau berdiri dengan malas. Allea mengunci pintu rumah nya, " udah semua kan?" "Udah nyonya," jawab Verell. "Yaudah kalian di depan gua belakang, buat jaga-jaga takut ada apa-apa," ucap Karel. Leo mendengus mendengar ucapan Karel. "Ayo." Leo menggandeng tangan Allea untuk berjalan di samping nya. "Tolong ya kita mau lari pagi nih bukan mau nyebrang," ujar Verell yang dengan sengaja lewat di tengah antara Leo dan Allea hingga pegangan keduanya terlepas. "Ayo lari." Allea lari terlebih dahulu di susul dengan Vela dan juga yang lain nya. Karel berada di belakang sesuai ucapan nya tadi, dia benar berada di belakang mereka semua. Lain hal nya dengan Leo yang tidak pernah berjauhan dari Allea, karena itu memang sudah tugas nya kan menjaga Allea. Mereka telah berlari selama empat puluh lima menit lama nya, membuat keringat mereka sudah mulai keluar membasahi pakaian dan menetes membasahi wajah mereka. "Istirahat dulu yuk di taman, capek." "Dari tadi kek." Verell dan Alfi berlari dengan cepat menuju taman yang berada di komplek perumahan Allea. Mereka hanya berlari sekitar komplek Allea saja tidak jauh-jauh. "Ah akhirnya rebahan." Verell merebahkan tubuh nya di rumput hijau di taman, disusul oleh Alfi yang mendudukkan b****g nya di rumput dengan napas yang terengah-engah. "Giliran istirahat aja lo cepet." Vela duduk tidak jauh dari mereka berdua dengan wajah yang kelelahan juga. "Liat dah si Karel sama Leo mereka lagi olahraga masih aja tebar pesona," sindir Verell sambil mengangkat tubuh nya hingga terduduk dan melihat kearah Karel, Leo dan Allea yang masih berlari pelan kearah mereka. "Tau tuh dari tadi cewek-cewek yang lagi olahraga juga pada liatin mereka berdua kan." "Lebih tepatnya Karel sih, soalnya Leo nempel ke Allea terus," ucap Vela yang ikut memerhatikan ketiga teman nya itu. "Suruh mereka beli minum deh, gua haus nih." Verell kembali merebahkan tubuh nya lagi. "Minum sekalian di rumah Allea aja lah," sahut Vela seraya mengencangkan tali sepatu nya. Leo dan Allea sudah tidak berlari dan hanya berjalan menuju taman dimana teman nya yang lain sudah beristirahat di taman itu. Sedangkan Karel masih berjalan di belakang Leo dan Allea dengan sesekali menyahuti sapaan dari beberapa wanita yang sedang berolahraga. "Capek?" Leo menoleh kepada Allea. "Iya lah, dari tadi lari belum istirahat ya capek." "Beli minum?" tanya Leo karena jarak mereka saat ini dekat dengan pintu keluar komplek Allea, di sebrang jalanan ada minimarket. "Nanti aja sekalian pulang." Karel berlari mendekati mereka berdua. Leo melirik Karel tidak suka karena Karel langsung merangkul bahunya dan Allea. Karel berdiri di tengah mereka berdua, "mau langsung pulang kan?" "Iya," jawab Allea. Leo melepaskan tangan Karel dari bahu nya. Tidak biasa Karel bersikap seperti ini, menyebalkan pikir Leo. "Ngapain sih tumben." Allea menyingkirkan tangan Karel dari bahu nya karena menyadari tatapan Leo yang tajam menatap mereka berdua. "Ya gak apa-apa." Karel masih berdiri diantara mereka berdua. Leo menghela napas kasar. Leo mengalihkan pandangan nya kesamping dan dapat Leo lihat dari ekor mata sebelah kiri ada seorang pria yang mencurigakan. Dia seperti sedang mengawasi mereka. Leo melirik kearah Karel yang masih mengajak Allea mengobrol dan tertawa. Leo pikir, mungkin Karel menyadari ada yang mengikuti dan mengawasi mereka makanya Karel bersikap seperti ini. Leo kembali menghela napas, bagaimana bisa Leo melewatkan ini. Bagaimana bisa Leo tidak menyadari keberadaan orang itu dan baru tau sekarang, itu pun karena menyadari sikap Karel yang sedikit berbeda, coba saja kalau Karel tidak bersikap aneh seperti ini mungkin Leo masih belum menyadari keberadaan orang yang mengawasi mereka itu. "Leo?" panggil Karel. Leo menoleh dan menatap Karel, "Mau lo atau gua yang beli bubur disana deket minimarket situ?" "Lo." "Yaudah jagain Allea, kalian langsung pulang aja jangan nungguin gua." Leo mengerutkan dahi nya melihat Karel. Harusnya kan dia yang berbicara seperti itu, bukan Karel. "Eh jangan, pulang bareng-bareng aja," tolak Allea. "Gak apa-apa kalian langsung pulang aja," desak Karel menyuruh mereka untuk segera pulang. "WOY LAMA BANGET JALAN,"teriak Verell menatap kearah mereka bertiga yang tinggal beberapa langkah lagi sampai di taman. "Kalo mau teriak bilang dong! gua kan kaget." Vela memukul bahu Verell kencang. "Aduh." Verell mengusap bahu nya yang di pukul oleh Vela tadi. "Kan kaya emak tiri si Vela," sahut Alfi. "Lama banget jalan," ucap Vela pada mereka bertiga yang sudah sampai di taman. "Sarapan bubur aja gimana?" tanya Allea. "Gua sih yang penting makan," jawab Verell. "Iya lo kan pemakan segala," ejek Vela. "Diem lo." "Yaudah gua yang beliin aja, kalian pulang duluan," ujar Karel. "Di bilang bareng-bareng aja." Allea menatap Karel yang masih kekeh untuk menyuruh mereka segera pulang ke rumah. Karel menatap Leo untuk meminta bantuan membujuk Allea dan yang lain untuk segera pulang ke rumah Allea segera. Leo yang tau akan pandangan Karel bertingkah seolah Leo tidak mengerti akan tatapan Karel pada nya, membuat Karel berdecak kesal. "Tau lo, pengen godain cewek-cewek yang lagi olahraga ya lo?" tuduh Verell. "Enak aja, enggak lah." "Hayo ngaku." Karel berdecak kesal. Karel hanya ingin mereka cepat kembali ke rumah Allea, karena dirinya mencurigai seorang pria yang sedari tadi mengawasi mereka, Karel merasa ada yang tidak beres. Karel takut kejadian seperti di sekolah itu terulang lagi, Karel hanya mencoba untuk melindungi teman-teman nya. Leo sedikit terkekeh melihat Karel yang kesal karena tidak ada yang mau menuruti ucapannya untuk segera pulang. Leo tau, bahkan sangat tau akan pikiran Karel saat ini, ya Karel mencurigai orang yang di curigai nya juga dan tidak ingin teman-teman nya terjadi sesuatu yang tidak baik nanti nya makanya Karel ingin mereka segera pulang ke rumah Allea. "Allea..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN