Chapter 13: Bujukan yang berhasil........
Hazel terlampau Senang hari ini, bisa membuat tiga orang sekaligus kapok berurusan dengannya adalah hal yang paling membahagiakan. Dia harap nantinya enggak usah lah berhubungan dengan Kevin, Yohan, ataupun Hanin.
Untung aja tadi enggak ada adegan baku hantam jir. Sepertinya Yohan keburu malu. Lelaki akan dicap banci ketika berani memukul perempuan, dan sepertinya Yohan enggak gelut dengan Hazel karena hal itu.
Karena Hazel sedang bahagia hari ini, jadwal ngajar yang harusnya libur malah enggak. Tepatnya Hazel yang meminta supaya datang ke rumah Deon dengan alasan ngeganti hari kemarin yang dia enggak masuk.
Tak lupa Hazel juga memberikan Deon permen apelibel elclairs yang isinya ada coklatnya itu.
Jelas hal itu disambut baik oleh Deon. "YA AMPUN PERMEN KESUKAAN DEON!" serunya Senang.
Hazel juga Senang sih bisa membuat Deon Senang. Serius, capenya dirasa hilang ketika melihat senyuman lebar Deon.
IMUTNYA!
Tuh kan Hazel lupa mau ngajarin apa, malah sibuk ngegibah temennya Dongyo yang masuk got gara-gara main jelangkung di Sekolah.
"Plis lah kok ngakak sih," Hazel ketawa ngakak dong ngedengernya. Udah mah dia tuh receh, suka ngegibah sama ngejulid juga. Persis kek Deon, makannya mereka gampang klop.
"Ekhem."
'Oh man holy s**t,' batin Hazel ketika mendengar suara deheman Sean. Kaget dia tuh, walaupun udah akrab sama anaknya, tapi sama bapaknya masih aja awkward.
"Bukannya belajar malah ngobrol ckckck," Sean yang baru pulang ngantor lantas menyilangkan tangannya didepan d**a. Lelaki itu lalu menatap Hazel dengan tajam, "kamu juga, inget ya saya ngebayar kamu mahal bukan buat ngegosip. Kamu enggak mau kan makan gaji buta, nona Hazel?"
Hazel menelan ludahnya, ia merinding karena suara deepnya Sean. "I-iya pak."
"Yaudah sana, lanjutin acara belajarnya, jangan malah ngobrol."
"O-oke pak."
Anjir Sean serem juga, merasa disamperin maung Hazel tuh.
Padahal mah pas sampe kamar Sean malah ketawa-ketawa sendiri. "Haduh lucu banget sih kamu Zel, sayang aja muka takutnya ga sempet saya video."
Sebenernya Sean enggak bermaksud galak sih. Cuman pas masuk rumah dan ngeliat Hazel dan Deon makin akrab aja, dia ngerasa harus membuat suasa diantara anaknya dan guru privat itu jadi enggak nyaman.
Nyaman ngebuat baper, jangan sampe Deon makin baper sama Hazel dan jadi saingan Sean. Jangan sampe.
Makannya setelah mandi Sean langsung ke ruang tengah—tempat Hazel mengajarkan Deon matematika. Lelaki itu duduk disamping Deon, biar ga keliatan sih modusnya.
Ga keliatan sih emang, tapi Sean bikin Hazel risih lagi dengan penampilannnya. Oh ayo lah, dia kegerahan apa gimana? APA MAKSUDNYA SIH ITU NGEBUKA KANCING PIYAMA SAMPE d**a?!
Belum lagi Sean mainin rambutnya terus, seolah nyuruh Hazel buat natap dia.
Pas terciduk aja Sean malah bilang, "Ga usah liat-liat saya, saya tau saya ganteng tapi sekarang tugas kamu adalah ngajar Deon."
ANJIR MAUNYA APA SIH INI PAK TUA?! Padahal Hazel ngerasa Sean yang narik perhatian, eh malah dia yang bikin Hazel ngerasa terciduk.
'Astagfirullah, sabar-sabar,' Hazel ngelus dadanya.
Sean diem-diem salfok. Apalagi pas dia sadar baju yang Hazel pakai ini membuat lekuk tubuh gadis itu terlihat. 'Besar juga ya.' APANYA YANG BESAR?!
Pas lagi asik-asiknya merhatiin tubuh Hazel, tiba-tiba aja malah mati lampu. "AAAAAAAA!"
Hazel teriak bareng kedua orang yang ada diruang tengah ini karena tiba-tiba keadaan menjadi gelap gulita.
Tiba-tiba saja Hazel merasa ada yang memeluknya. Hazel jadi enggak bisa napas kan? Mau liat siapa yang meluknya aja susah karena ponselnya lagi dicas dan jauh dari tempat Hazel duduk.
Tai.
Untung aja mati lampunya enggak lama. Hazel bisa bernapas lega, sebelum ia sadar siapa yang memeluknya.
"Anjir!" Hazel otomatis kaget dong pas dia sadar yang meluknya bukan Deon, tapi bapaknya.
Tapi meskipun udah ngomong gitu, Sean enggak langsung ngelepasin pelukannya. Ah iya, Hazel baru sadar tubuh Sean bergetar hebat sekarang.
"P-Deon?" Hazel memandang Deon bingung. "i-ini bapakmu kenapa?"
"Maaf teh, Daddy takut gelap."
LAHH, LAHHH TERUS INI GIMANA?!
Sebenarnya fakta bahwa Sean taku gelap membuat Hazel agak tercengang dan mikir, 'Masa iya badan segede gaban takut sama gelap?'
Tapi pas liat badan Sean bener-bener gemetar bahkan ketika lampu sudah menyala, Hazel sedikit percaya kalo Sean emang phobia gelap.
Mungkin ada suatu kejadian yang membuat Sean phobia gelap sampai dia seperti ini. Hazel hanya bisa berhipotensis seperti itu.
"Em Pak, udah nyala lampunya," ucap Hazel pelan.
Badan Sean perlahan berhenti bergetar dan melepaskan pelukannya. Hazel lantas bernapas lega. Tapi, loh ini kenapa pipi Sean basah?
"Bapak ga apa-apa?" Hazel mengusap air di sekitaran pipi Sean, menatap lelaki yang lebih tua darinya dengan khawatir.
"Ah," Sean bingung harus berkata apa, jujur dirinya enggak pernah bisa baik-baik saja sehabis keadaan gelap gulita. Padahal rasa takunta udah lama enggak muncul, tapi kalo udah mati lampu sampai dia enggak bisa melihat apa-apa begini ya beda ceritanya.
Sean juga enggak tau kenapa dirinya bisa memeluk Hazel bukan Deon yang ada di sampingnya. Mungkin Deon keburu berdiri atau Sean yang menyingkirkan Deon dengan tangannya.
"Daddy, ini minum dulu," Deon menyodorkan segelas air putih untuk Sean agar ayahnya kembali tenang. Sean menerima gelas itu lalu meninumnya. "Makasih Deon."
"Sama-sama Dad."
Aduh ngegemesin banget sih interaksi bapak dan anak ini, Hazel sebisa mungkin menahan diri buat enggak teriak.
"Teh Hazel, maafin Daddy yaa," kata Deon pada Hazel. "kalo gelap emang Daddy suka peluk-peluk orang, Deon sering jadi korban sih makannya tadi Deon berdiri. Eh tapi Daddy malah meluk teteh."
Hazel menganggukan kepalanya, meskipun yah jantungnya ini masih berdegup kencang karena Sean. Mana lagi tadi Sean sempet menenggelamkan kepalanya diceruk leher Hazel.
"Ah iya ga apa-apa, namanya juga refleks," kata Hazel mencoba memaklumi. Toh ga mungkin dia menuntut Sean atas kerusakan jantungnya, ntar yang ada dipecat. Hazel masih butuh duit.
"Maafkan saya Bu Guru," kata Sean lalu menghela napasnya, dia manatap Hazel dengan tatapan memelas. "sekali lagi maaf."
"I-iya enggak apa-apa," aduh ini kenapa Sean tampak menggemaskan begini? Hazel kan jadi lemah, ga bisa marah juga. "em, karena udah malam saya pulang dulu ya."
"JANGANNNN!" teriak Deon, sekarang anak itu meluk Hazel. "teteh nginep disini ajaaaa. Plisss."
"Aduh Deon ga bisa, besok teteh kuli—"
"Bukannya besok kamu libur?" potong Sean. "soalnya Chaeryl juga libur."
Hazel menelan ludahnya, iya sih besok Hazel libur. Tapi kan MASA IYA HAZEL NGINEP DISINI?! NTAR ADA YANG MIKIR MACEM-MACEM GIMANA?!
"Tuh kan Teteh libur, nginep yaa nginepp?" pinta Deon. "Deon soalnya mau nonton film sama teteh, mau tidur terus kepalanya diusapin sama teteh, mau dibuatin sarapan sama teteh."
"Kok sama teteh?" tanya Hazel bingung.
"Soalnya Deon enggak pernah ngedapatin itu dari mama, Deon malah enggak tau mama yang mana."
Hazel terdiam sebentar, nampak menimang-nimang. Dia inget Chaeryl bilang sehabis melahirkan Deon, Sean dan Istrinya bercerai. Dan yah sekarang dia merasa prihatin dengan Deon.
Deon mungkin sedari kecil enggak pernah merasakan kasih sayang ibunya.
TAPI KENAPA HARUS HAZEL YANG JADI PENGGANTI FUNGSI MAMANYA DEON? Meskipun cuman semalam sih.
"Tetehhh," Deon merengek lagi, bikin Hazel enggak tega. "teteh nginep yaaa?"
Akhirnya Hazel mengangguk. "Oke."