“Sudah nostalgianya, Dhar?” Suara Dendi membuyarkan lamunan Dharma akan kejadian dua tahun yang lalu. “Saya memang salah. Tidak ada pembelaan. Jujur, saya tidak bisa berkata apa-apa selain minta maaf,” ujar Dharma dengan wajah tertekuk, menatap Dendi dengan wajah menyesal. “Apa anak saya masih sama berartinya bagimu seperti dua tahun lalu, Dhar?” Dharma mengangguk lirih. “Geya selalu berarti bagi saya, Yah.” “Tapi kenapa ….” Dendi menghela napas, memilih untuk tak melanjutkan kalimatnya. “Ayah ….” Dharma menatap Dendi yang berdiri dari kursinya. “Sampaikan maafmu pada Geya. Kecewanya saya sebagai seorang ayah tidak jauh lebih besar daripada kecewanya dia sebagai seorang istri.” *** Deru kipas yang disetel dengan kecepatan maksimal menjadi satu-satunya pengisi di antara keduanya.

