Operasi CITO.
Mobil Dharma baru hendak keluar dari parkiran mobil kata telepon dari staff gawat darurat masuk ke dalam ponselnya.
Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang mengalami kekerasan. Kepalanya dipukul oleh benda tumpul oleh ayahnya sendiri dan dibiarkan berhari-hari. Korban baru dibawa ke rumah sakit oleh pelaku kala anak itu sudah kehilangan kesadaran total.
“Dari hati CT-scan terjadi pendarahan, Dok.” Seorang perawat memberikan lembaran hasil CT-scan pada Dharma yang baru tiba di ruangannya setelah buru-buru berlari dari parkiran.
Dengan cepat, Dharma membuka jam tangan. “Pasien sudah dibawa masuk ke dalam ruang operasi?”
“Sudah. Sedang ditangani oleh dokter anestesi.”
“Oke, bagus. Saya akan ganti pakaian dan segera ke sana.”
“Dokter ada telepon!” perawat itu mengangkat ponsel Dharma yang tergeletak begitu saja di atas meja.
“Dari siapa?” keningnya berkerut tak suka. Sedang darurat begini ada saja yang mau mengganggunya.
“Istri, Dok. Sudah tiga kali panggilannya tak terjawab.”
Dharma terdiam sejenak. Benar, dia baru ingat tentang janji makan malamnya dengan sang ayah. Geya pasti menelpon karena Dharma tak kunjung pulang.
“Ah, sudahlah biarkan saja!” putusnya kemudian sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu.
***
Operasi yang melelahkan. Dharma membutuhkan waktu 3 jam untuk menemukan luka pada otak penyebab pendarahan, menjahitnya, mengisap seluruh darah, hingga menutup kembali tempurung kepala yang terbuka.
Tubuhnya seakan-akan telah meresap aroma darah dan obat bius yang begitu kental di ruang operasi. Oleh karena itu, dirinya memutuskan untuk mandi di rumah sakit.
Dharma baru membuka kembali ponselnya setelah ia mengeringkan rambut, mendapati belasan telepon dan pesan yang masuk dari Geya. Biarkan saja. Tidak perlu dibalas, toh jam segini pasti makan malamnya sudah selesai.
“Halo?” Dharma mengangkat telepon yang baru saja masuk.
“Mas! Kamu di mana? Geya nggak ngasih tahu undanganku, ya?” suara Gamala bersama krasak-krusuk musik sebagai pendampingnya langsung ditangkap dengan baik oleh Dharma.
“Kasih tahu kok. Saya baru siap operasi.”
“Wah … pasti capek banget. Kamu jadinya nggak datang ya?” terdengar nada kecewa dalam ucapan Gamala.
Dharma memijat tengkuknya yang nyeri. “Hm ….”
“Padahal aku udah capek-capek ngundang kawan kita pas kuliah loh, Mas. Kamu tahu kan mereka itu sibuk banget? Aku sampai harus buat appointment segala. Kalau kamu nggak datang percuma dong. Kan tamu spesialnya kamu. Jadinya kamu kayak nggak menghargai usahaku gitu.”
Dharma menghela napas. “Iya … aku bakal datang,” putusnya dengan suara lelah.
Biarkanlah. Tubuhnya juga membutuhkan beberapa gelas alkohol untuk melupakan wajah anak yang dioperasinya tadi.
Penganiayaan anak dibawah umur oleh orang tuanya sendiri. Dharma sering sekali menjumpai kasus serupa di rumah sakit. Namun sialnya, kasus itu selalu membangkitkan rasa tidak nyaman dalam diri pria itu. Rasa menyesakkan yang baru akan hilang setelah ia menegak bergelas-gelas alkohol.
***
Mata Dharma sempat menyipit, berusaha beradaptasi dengan ruangan berisik penuh dengan lampu sorot warna-warni yang langsung membuat matanya sakit.
“Mas!”
Gamala yang pertama kali menghampiri Dharma, lantas menarik tangan pria itu menuju meja yang sudah dipesannya.
“Akhirnya kamu datang juga, Mas. Aku sempat sedih kamu nggak jadi datang.” Gamala berujar bahagia sambil mengelus lengan atas pria itu.
Dharma tak menjawab. Matanya yang masih beradaptasi menatap satu-persatu orang yang duduk di meja itu. Hanya ada 4 orang dan semuanya adalah perempuan.
“Kata kamu ada teman kuliah kita?” Dharma bertanya dengan heran. Seingatnya, dulu dia hanya berteman dengan kaum pria saja. Tapi kenapa wajah wanita-wanita asing ini ada di sini?
Gamala terkekeh. “Ini kawan-kawan kuliahku, Mas. Gimana sih!”
Dharma berdecak pelan. Sial. Dia telah masuk ke dalam perangkap Gamala.
“Tamu kamu nggak ada yang cowok?”
Gamala tersenyum lebar mendengar pertanyaan itu. “Nggak ada kok, Mas. Kamu nggak usah cemburu gitulah ….”
Dharma yang baru duduk beberapa detik itu kembali berdiri. “Kalau gitu aku pulang aja.”
Senyum Gamala langsung hilang. Dengan kecepatan kilat, tangan Gamala langsung menarik pria itu untuk kembali duduk. “Kok kamu gitu sih?!” serunya kesal.
Dharma menghela napas. Alasan dia kemari untuk menghilangkan stress degan berbincang dengan teman lamanya. Tapi jika di sini hanya ada wanita-wanita asing untuk apa? Yang ada dia makin stress.
“Nggak ada yang aku kenal, Mala.” Dharma berujar sabar. “Lagian juga obrolan kita nggak bakal nyambung.”
“Ya jangan langsung pulang gitu lah!” Gamala masih kesal. “Aku aja belum sempat kenalin kamu. Terus nanti kalau kamu pulang terus aku mabuk gimana? Kamu mau aku kenapa-kenapa, Mas?”
Dharma menyerah. Dengan wajah lesu, dia mengambil satu gelas wiski dan meminumnya hingga habis dalam sekali tegukan.
“Girls! Kenalin ini Dharma. Udah pada kenal, kan?” Gamala kembali dengan wajah bahagianya, memeluk pinggang Dharma dengan erat.
Salah satu dari 4 wanita itu mengangguk. “Itu Dharma yang dulu sempat pacaran sama kamu, kan?”
“Benar banget April!” seru Gamala bahagia.
Dalam kegelapan, Dharma memicingkan matanya tak suka. Bagaimana bisa Gamala mengakui status mereka dengan begitu gamblang?
April mengulurkan tangannya pada Dharma. “Kenalin, gue April. Kayaknya lo lebih tua deh, gue perlu manggilnya ‘mas’ juga nggak?”
“Janganlah!” Gamala yang menjawab dengan agresif. “Panggilan ‘mas’ Cuma boleh untuk gue. Kalian cari panggilan lain aja.”
Dharma berdehem. “Panggil nama aja, Pril.”
“Gue Ica.”
“Bianca.”
“Kalau gue Rara.”
Dharma mengangguk singkat, menyambut satu-persatu tangan yang mengarah padanya meski tak yakin Dharma akan mengingat wanita-wanita itu.
“Kalau mantan kok masih dekat gitu sih, La?” Ica memancing, melirik tangan Gamala yang masih setia melingkar pada pinggang Dharma dengan jahil.
“Hati-hati CLBK tuh!” seru Rara dengan heboh.
Dharma memicingkan mata tak suka. Apa wanita selalu seagresif ini?
“Nggak dong! Masa cuman karena mantan nggak boleh dekat lagi. Yakan, Mas?” Gamala menempelkan dagunya pada pundak Dharma.
“Hm.” Dharma menanggapi sekadarnya.
“Yakin lo tuh rasa udah hilang seribu persen?” Bianca menyahut tak percaya.
“Kalau gue sih yakin, ya. Secara kan ge sekarang juga udah ada pacar di US. Kalau Mas Dharma … gimana nih, Mas? Kamu udah move on dari aku belum?”
Dharma menatap Gamala beberapa saat. Sorot mata wanita itu menatapnya ramah, lain dengan hatinya yang Dharma yakin akan terbakar hebat jika Dharma berkata jujur tentang apa yang ada di dalam kepalanya sekarang.
“Nggak tahu saya, Mala,” jawab Dharma pada akhirnya, memilih opsi paling aman.
Gamala berdecak. “Mas Dharma mah suka gitu!”
Dharma kembali mengisi gelasnya, menegak gelas demi gelas dalam diam, sama sekali tak berniat menimpali perbincangan Gamala dan teman-temannya yang sama sekali tak menarik.
“Saya pulang dulu ya, Mala.” Setelah tak tahan lagi, Dharma akhirnya bangkit.
“Mas, ko—”
“Saya juga mabuk, nggak bisa antar kamu pulang,” potongnya dengan cepat. “Ini uang buat naik taxi. Saya pergi dulu, istri saya nungguin di rumah.”