Ahmad tidak pernah asal mengancam. Begitu pria paruh baya itu berkata akan mengirimkan suruhannya, maka begitulah kenyataannya. Selang dua puluh menit setelah Ahmad menutup teleponnya secara sepihak, mobil Mercy hitam terparkir di garasi, tanpa permisi langsung masuk menghampiri Geya dengan perawakan datar yang jauh dari kata ramah. “Saya bisa pergi sendiri,” ucap Geya dengan pandangan lurus menatap Farhan—tangan kanan kepercayaan Ahmad yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun. Farhan menggeleng dengan tegas. “Bapak menyuruh saya untuk mengantarkan kamu ke panti asuhan,” jawabnya, membalas tatapan Geya tanpa ragu. Pria yang lebih tua tiga tahun dari Dharma itu tanpa pikir panjang langsung mengangkat tas jinjing milik Geya yang sengaja diletakkan perempuan itu di atas meja. “Ayo!” G

