“Mas, memangnya kita mau pergi ya?” Geya memberanikan diri untuk bertanya dalam keheningan mobil yang dengan mulus membelah jalan raya.
“Kita mau pergi ke mana, Mas?” Pertanyaan sebelumnya tak terjawab dan Geya kembali bertanya kala mobil mereka melewati tikungan perumahan tempat tinggalnya.
“Oh … kita mau belanja, ya? Tapi seingatku stok di rumah masih ada deh. Tapi kalau mau belanja lagi sekarang nggak apa sih.”
Geya seperti bermonolog seorang dari lantaran Dharma sama sekali tak bersuara. Pria itu persis seperti robot yang hanya diperintahkan untuk mengemudi mobil.
Mobil SUV hitam itu terus melaju, melewati tiga pusat perbelanjaan semakin membuat Geya kebingungan. Tebakannya salah. Dharma tidak akan membawanya belanja bulanan.
“Kita mau ke rumah Papa ya, Mas?” tembaknya langsung begitu menyadari mereka menuju kawasan Pondok Indah.
“Hm.”
“Papa sakit lagi? Kemarin aku nawarin daun teh tapi Papa nolak. Katanya udah sembuh.”
Dharma lagi-lagi tak menanggapi hingga akhirnya Geya lelah sendiri dan memilih untuk menutup mulutnya selama sisa perjalanan mereka.
Kendaraan roda empat itu akhirnya tiba di sebuah rumah tingkat dua bercat abu-abu dengan pagar tinggi. Dharma ternyata masih memiliki remote control yang dapat membuat pagar mewah itu terbuka otomatis tanpa menunggu sekuriti membukakannya.
Mobil mereka terparkir manis di samping Bentley klasik—salah satu koleksi mobil milik Ahmad—tak berselang lama, pintu mobil Geya terbuka dengan kasar.
“Turun. Ikuti saja permainan saya.”
Geya tak sempat menjawab lantaran kaki lebar Dharma telah terlebih dahulu meninggalkannya yang masih bingung tentang "permainan” yang dimakud oleh Dharma.
“Bapak Mana?” tanya Dharma pada seorang pembantu rumah tangga yang kebetulan sedang membersihkan meja di ruang tamu.
Pembantu itu mengerjap kaget. Namun di detik berikutnya, dia langsung berdiri, pamit untuk memanggil sang empunya rumah.
“Kenapa?”
Geya menatap heran Dharma yang mendaratkan tubuhnya pada sofa. “Nggak di ruang keluarga aja, Mas? Lebih tertutup kalau mau membahas sesuatu yang bersifat privasi,” sarannya.
Lagi pula, selama ini Dharma dan Ahmad berbicara di ruang keluarga.
“Nggak perlu. Kita cuma sebentar di sini.”
“Lihatlah anak kurang ajar ini!”
Percakapan mereka terputus kala mendengar ucapan sinis yang menggema menuju segala sudut ruangan.
Ahmad berjalan menuruni tangga dengan tatapan tajam yang tentu saja tertuju pada anak semata wayangnya.
“Pa.” Dharma menunduk sekilas bersamaan dengan tangannya yang menarik Geya tiba-tiba, memaksa tubuh ramping itu untuk duduk di sampingnya.
“Kamu sekarang berlagak jadi tamu di rumah ini, hah?” Ahmad bertanya dengan sinis. Meski begitu, dia turut bergabung, mendaratkan tubuhnya pada sofa tunggal yang menghadap langsung pada Dharma dan Geya.
“Aku kesini mau meminta maaf karena tidak bisa ikut makan malam.” Dharma langsung membahas point penting yang membawanya kemari.
Ahmad mendengus. “Setelah menikah kamu masih suka bersenang-senang di luar rupanya. Mungkin didikanku dulu kurang keras.”
Tatapan Dharma menggelap. Sekilas terlintas di benaknya saat Ahmad memukul kepalanya setiap kali Dharma melakukan kesalahan.
“Aku ada operasi darurat. Pasien balita dengan trauma berat. Aku nggak bisa ngasih kasus ini begitu saja kepada dokter yang minim pengalaman,” koreksi Dharma dengan tegas.
Mata Ahmad yang terhalang oleh kacamata baca melirik Geya. “Apa Dharma berbohong?”
“Ah … tidak,” jawab Geya gugup. Matanya melirik Dharma sejenak, berusaha mencari tahu apakah Dharma berbohong. Namun nihil, tatapan pria itu selalu sangat sulit untuk dibaca
“Jam berapa Dharma pulang?”
“Selang lima belas menit setelah Papa pulang Mas Dharma pulang kok, Pa.”
“Kalau Papa memang nggak percaya sama omonganku silakan tanyakan pada asisten Papa. Dia tahu semua yang aku lakukan.” Suara berat Dharma kembali mendominasi percakapan.
Kening Ahmad berkerut tak suka. “Apa maksudmu bawa-bawa asistenku? Kamu kira dirimu sepenting itu untuk selalu diawasi?”
Dharma tersenyum miring. “Nyatanya memang begitu kan? Memangnya Papa kira aku nggak tahu selama ini ada yang memotretku secara diam-diam?”
Napas Ahmad memberat mendengar jawaban penuh celaan dari anaknya sendiri.
“Aku mau nggak ada satu orang pun yang menguntitku lagi.” Dharma bersuara dengan tegas, pandangannya menatap lurus pada sang Ayah.
“Enak saja! Kamu pikir kamu siapa?”
“Ini hidupku! Aku mauk selalu diawasi begini. Papa pikir aku ini hewan peliharaan? Berhenti mengurusi hidupku!” seru Dharma berapi-api.
Geya menggigit bibirnya dengan gelisah. Perdebatan ini tidak akan berakhir damai begitu saja, Geya tahu itu. Fakta baru bahwa Dharma selama ini dimata-matai berhasil membuat Geya terkejut setengah mati.
Dengan lembut, dia mengelus lengan Dharma, berusaha sebisa mungkin membuat suaminya tenang.
“Kamu pikir selama aku hidup kamu bisa bebas begitu saja, Dharma? Kamu adalah ancaman. Anak tidak tahu diri yang selalu berbuat onar di luar sana. Nama baikku akan tercoreng jika aku tidak mengawasimu.”
Gila. Geya membatin. Ternyata kekejaman Dharma tidak ada apa-apanya dengan pria paruh baya ini.
“Lagi-lagi nama baik. Sekarang aku paham kenapa Mama bisa gila. Dia terkurung di dalam sangkar dengan monster licik di dalamnya,” tandas Dharma.
Setelahnya, pria itu berdiri. Ia menggamit lengan Geya dan tanpa bicara, kakinya melangkah begitu saja keluar dari rumah mewah yang disebutnya sangkar.
Tidak ada suara atau lebih tepatnya, Geya tak berani membuat suara. Sesekali, dia memberanikan diri untuk melirik Dharma yang tampak sangat marah. Rahangnya mengeras, cengkramannya pada stir mobil mengerat, dan telinganya memerah.
Geya menelan ludah. Berusaha menahan paniknya lantaran mobil melaju diatas rata-rata, beberapa kali menyalip mobil besar dan motor yang juga sama ugal-ugalannya.
“M-mas … tolong pelan-pelan,” lirih Geya dengan suara bergetar sementara matanya tertutup tajam, takut sebentar lagi Dharma akan membentaknya karena mengusik ketenangan pria itu.
Namun selang beberapa detik, yang didapatinya adalah hal lain. Geya sempat mendengar Dharma membuang napas kasar lalu setelahnya, dapat dirasakan kecepatan mobil perlahan melambat, sampai-sampai Geya tak lagi mendengar suara mesin yang berpacu.
Dengan napas tertahan, Geya memberanikan diri membuka mata. Matanya digerakkan seminim mungkin, melirik Dharma di sampingnya yang masih tampak marah.
“Kamu mau makan di mana?”
“H-hah?” jantung Geya sontak berpacu, menatap Dharma dengan mulut menganga. Dia pikir Dharma tak akan berbicara sama sekali.
“Saya lapar. Kamu mau makan di mana?”