Carol memandang datar laki laki yang telah menyentuhnya. Ia hembuskan nafas lirih kemudian bangkit untuk memunguti pakaiannya dan pakaian laki laki itu akibat percintaan ganas mereka.
Carol selalu bertanya apa penyebab laki laki itu yang tak lain David Fernandes memilih dirinya sebagai istri. Jika David mengatakan ia mencintai dirinya Carol sangatlah tidak percaya. Sudah dua tahun mereka menjalani rumah tangga namun, ia merasa semua hanya omong kosong belaka.
Mungkin semua orang akan mengatakan ia wanita paling beruntung karena bisa menikah dengan laki laki keturunan Fernandes, tapi tidak dengan dirinya. Ia merasa tejerat dalam sangkar emas.
Carol selalu merasa sakit hati ketika tiap bulan ia harus melakukan check kesehatan rutin. Awalnya ia merasa tersanjung karena perhatian David, tapi setelah ia mengetahui alasan di balik Chek up tutupnya ia merasa tertohok.
"Aku hanya tidak ingin memiliki istri yang penyakitan, aku sudah berbaik hati mau menikah denganmu dan menyentuh tubuhmu. Jadi kau harus terima apapun yang aku lakukan terhadap tubuhmu. Karena tubuhku terlalu berharga untuk bersentuhan dengan orang sepertimu."
Setiap Carol selesai bercinta ia selalu memandang kosong langit langit. Ia selalu berfikir apa yang harus ia lakukan. Kembali ke keluarganya suatu hal yang mustahil, mengingat ia kabur dari keluarganya yang berakhir dengan kecelakaan yang menimpa dirinya dan pernikahan paksa yang menjeratnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Suara serak itu mengalihkan fikiranya sejenak. Di sana terpampang jelas tubuh seksi David yang terlentang tanpa benang sekalipun, jangan lupakan tatapan datar dan tajam andalanya yang membuat siapapun akan ketakutan dan bertekuk lutut, tapi hal itu tidak berlaku bagi seorang Carroline Althoza.
Carol terlalu kebal dengan tatapan itu, hanya ada rasa jengah karena sikap pongah David.
"Aku mau ke kamar mandi," ucapnya dengan bergegas menuju kamar mandi.
Carol dengan cepat melangkah, ia sadar ia belum menggunakan pakaian alias nekad. Ia harus segera pergi sebelum ia diterkam kembali oleh David. Namun, terlambat. Sebelum pintu tertutup sempurna sosok itu sudah berdiri menjulang di depanya dan menutup pintu dengan keras hingga membuat dirinya tercekat.
"Sepertinya mandi berdua lebih nikmat Baby," David berucap dengan suara yang sudah serak bahkan dengan asetnya yang sudah tegak menjulang.
Carol merinding mendengar suara itu, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sungguh ia benci dengan situasi seperti ini. Tubuhnya selalu menerima sentuhan David tapi hatinya selalu menangis. Ia selalu berusaha menerima semua takdir yang telah menimpanya.
*******
Carol terbangun seperti biasa, sendiri. Ia ingat setelah mereka menghabiskan malam bersama ia tertidur tanpa memikirkan David sama sekali. Sungguh ia merasa tidak sanggup menghadapi nafsu binatangnya.
Carol merasa terkejut ia pandangi sekali lagi tubuhnya. Ia memakai pakaian? apakah David yang memakaikannya. Ia ingat ia tertidur tanpa sempat memakai kembali pakaianya.
Carol mencoba bangkit, ia merasa perutnya bergejolak. Entah mengapa ia merasa akhir akhir ini tubuhnya terasa berbeda. Satu pemikiran muncul di otaknya. Apakah ia hamil? tapi itu tidak mungkin, mengingat ia selalu minum pil pencegah kehamilan. Ia masih belum siap mengandung, melihat hubungan mereka yang hanya seperti saling memenuhi kebutuhan masing masing. David yang memanfaatkan tubuhnya dan membutuhkan statusnya sebagai Istri, sedangkan ia yang memanfaatkan pernikahan ini untuk pelarian dari kejaran keluarga pihak ibunya.
David berulang kali mempertanyakan tentang kehamilan, tapi ia selalu bungkam. Enggan menanggapi. Sungguh ia belum yakin tentang pernikahan ini.
Huek Huek Huek
Carol melihat wajahnya yang pucat, segera ia basuh wajahnya dan memantapkan hati untuk pergi ke dokter kandungan. Entah mengapa ia merasa yakin ia mengandung.
******
"Nyonya, kita sudah sampai."
Suara supir itu menyadarkan Carol dari lamunan ya.
"Pak, bisa Bapak merahasiakan kedatangan saya ke rumah sakit ini?"
"Tapi nyonya."
"Saya hanya tidak ingin membuat David khawatir, tolong bapak mengerti," Carol berucap dengan tegas.
Supir itu yang tak lain pak Dharma terlihat berfikir, beberapa detik kemudian ia anggukan kepalanya pertanda ia siap merahasiakanya.
"Nyonya nanti pulang jam berapa biar bapak jemput?"
"Hmm kurang tau pak, nanti saya kabari bapak."
"Baik nyonya."
Carol segera keluar dari mobil. Ia pandangi bangunan megah itu. "RS. Kasih Bunda" dengan langkah pasti ia memasuki tempat itu, sebelumnya ia sudah mengkonfirmasi dokter Dewi, Dokter tempat ia konsultasi.
"Silahkan masuk Nyonya. Nyonya sudah di tunggu dokter Dewi di dalam." seorang perawat menyambutnya dengan ramah.
Carol hanya tersenyum, kemudian memasuki ruang rawat itu tanpa menghidupkan sekeliling.
"Bagaimana Carol." sapa Dewi ramah.
Mereka berdua sudah seperti teman bukan lagi seperti dokter dan pasien.
"Gue bingung wi, gue kok ngalamin gejala kayak orang hamil ya. Padahal gue selalu rajin minum obat dari lo." terang Carol.
"Hmmm presentasi obat pencegah kehamilan itu seperti 97% tingkat keberhasilannya. Tapi lo harus ingat masih ada 3% kemungkinan gagalnya. Lo coba tes pakek ini." Cewek mengeluarkan Test pack dari lacinya.
Carol melihat tespeck itu dengan pandangan rumit. Ia bukanlah gadis polos yang tidak faham apa kegunaan alat itu. Segera ia raih dan memasuki kamar mandi di pojok ruangan.
Beberapa menit kemudian Carol termengu melihat hasil dari alat itu. Dua garis merah, yang artinya ia hamil. segera ia meninggalkan ruangan itu dan menemui Dewi.
"Wi," ucapnya lirih dengan mengangsurkaan alat itu.
Dewi terdiam melihat alat itu, segera ia perintahkan Carol untuk berbaring.
"Hmmm lo lihat gambar itu Car." tunjuk dewi ke arah monitor yang menampilkan bulatan kecil, sebesar biji kacang mente.
"Wi, itu anak gue." Carol terbata.
"Iya Car, lo hamil dan usia kandungan lo hampir empat bulan. Kenapa lo ceroboh banget baru tahu setelah kandungan lo sebesar ini. Untung janin lo kuat." omel Dewi melihat kecerobohan temanya.
Carol hanya terdiam, ia bingung harus seperti apa. Di satu sisi ia merasa bahagia namun, ia juga bingung bagaiman tanggapan David nanti.
"Car, lo gak usah takut. Gue yakin David bakal seneng denger lo hamil. Meskipun David cuek gue yakin David cinta ama lo." hibur Dewi.
Carol hanya tersenyum kecut mendengar penuturan itu. Hah Cinta? omong kosong.
"Gue pergi dulu." ucap Carol meninggalkan Dewi yang memandangnya sendu.
*******
Carol terdiam melihat hasil USG di tanganya. Pandangannya mengarah pada sekelilingnya. banyak anak anak berlarian, senyum kecil muncul di bibirnya. Andaikan ia menikah karena cinta mungkin ia akan menjadi orang yang paling bahagia.
"Eh kak Carol, kok di sini. Sendirian lagi."
Carol tersadar dat lamunanaya. Di sampingnya berdiri perempuan dengan rambut se punggung berwarna hitam legam dengan keriting di bawahnya.
"Oh iya Jen, kakak lagi pengen cari suasana baru."tanggap Carol.
"Jeni duduk di sini ya kak."
"Duduk aja Jen."
Mereka berdua sama sam terdiam. Carol merasa tidak nyaman, ia memang tidak dekat dengan Jeni yang tak lain adik sepupu David. Entah apa tujuan Jeni mendatanginya.
"Jen, kakak pulang dulu ya." pamit Carol.
"Ehh kak, bisa temenin Jeni gak?"Jeni berucap dengan mata berkaca kaca.
Carol memandang Jeni dengan alis yang mengkerut.
"Jeni kenapa?"
"Jeni harus ketemu sama seseorang kak, dan orang itu ayah dari bayi yang Jeni kandung." jelas Jeni.
Carol kaget mendengarnya. Ia sadar bahwa Jeni belum menikah bagaimana bisa Jeni bisa hamil duluan. Ia paham pergaulan zaman sekarang, tapi mengapa bisa sampai kebablasan.
"Jen__"
"Pasti kakak gak bisa ya. Jeni faham kok kak. Kak pasti malu punya adek yang hamil di luar nikah. Jujur kak, Jeni juga gak mau kayak gini. Semua terjadi tanpa mampu Jeni hindari. Jeni di jebak hiks."
Carol memandang Jeni kasihan, entah dorongan apa yang membuat ia menyetujui permintaan adik sepupunya itu.
******
"Jeni yakin di sini tempat ketemuanya?" tanya Carol meyakinkan.
"Iya kak, kakak gak percaya sama Jeni." Jeni menatapnya.
Carol bingung harus bagaimana, di satu sisi ia tidak tega dengan Jeni namun, entah mengapa ia merasa ada akan ada sesuatu yang terjadi, entah apa itu. Yang pasti ia merasa kejadian itu adalah hal yang buruk.
Di depan Carol tertulis angka 602, ia berdiri di depan pintu kamar hotel dengan tangan menggenggam tasnya erat. Sedangkan Jeni menggoyangkan tanganya berharap Carol segera membuka pintu kamar itu.
"Ayo kak."
Mereka memasuki kamar itu bersama. Carol melihat sekeliling melihat keadaan kamar yang sepi hanya terdengar suara gemericik di kamar mandi, pertanda ada sesorang di dalamnya.
"Cowokmu mana Jen?" tanya Carol.
"Emm dia kayaknya mandi deh kak, tapi dia udah tahu kalo Jeni bakal kesini." jelas Jeni.
"Ohh." Carol merasa janggal dengan keadaannya.
"Kak, minum dulu, Jeni mau ke balkon sebentar. Kakak tunggu aja di sini. Nanti Jeni bakal kesini kok."
Carol menyapa Jeni dengan curiga, ia alihkan pandangannya ke gelas yang berisi air putih tersebut Tenggorokannya terasa kering. Di sisi lain ia takut untuk meminum air putih itu karena ia belum terlaku mengenal bagaimana sifat Jeni. Tapi di sisi lain ia sangat ke hausan. Membulatkan keputusannya ia anggukan kepala dan menegak segelas air itu tanpa berpikir lagi.
"Aku kesana ya kak." pamit Jeni.
Setelah kepergian Jeni entah mengapa Carol merasa kepalanya pusing, dan tak lama kemudian semuanya gelap.
*******
Carol merasa terusik dengan suara teriakan yang amat sangat ia kenali. Ringisan keluar dari bibirnya, ia merasa sangat pening.
"Kau."
Teriakan itu menyadarkan Carol dari pusing yang ia rasakan. Di depanya terdapat David yang menatap ia dengan murka. Matanya mencari sumber yang menyebabkan David marah, hingga ia tercengang melihat keadaannya. Ia hanya memakai Underwear.
Carol tergagap ia mulai mengingat apa yang terjadi padanya. Namun, sebelum ia sempat berfikir kejadian yang tidak ia sangka terjadi di depanya.
Dor
Di sampingnya laki laki yang entah siapa namanya tergeletak dengan badan tanpa busana sama sekali dengan luka menganga di kepalanya. Ia mulai mencerna keadaan, ia bangun dengan tubuh hampir telanjang dengan laki laki lain yang entah siapa.
"Beraninya kau berkhianat." David menatap tajam dan mendesis.
Carol ketakutan, sungguh selama ia hidup bersama David belum pernah ia melihat kemurkaan yang mampu membuat ia terbakar ketakutan hanya dengan suara dan tatapanya. David hanya akan bersikap sombong, culas, dan merendahkannya paling parah tidak pernah menganggap keberadaanya. Namun, ia tak pernah sekalipun membentak ataupun berbuat kasar padanya.
David memandang Carol dengan murka tanpa sepatah katapun ia seret tubuh itu dengan menarik rambutnya. Carol berteriak merasa kesakitan. Tubuhnya hanya ia bungkus dengan selimut. Sedangkan, David tanpa perasaan menyeretnya hingga kepintu. Untung suasana hotel cukup sepi, sehingga tidak akan menciptakan skandal.
Carol merasa kepalanya akan patah, karena kuatnya tarikan pada rambutnya. Tubuhnya di banting di dalam kursi mobil. Ia ketakutan, David seperti monster.
David mencengkram erat kemudian, harga dirinya seakan terinjak mengetahui sang istri berkhianat.
Brak
tanpa perasaan David membanting tubuh Carol di dalam gudang Mansionnya. David memandang jijik ke arah Carol yang menangis sesenggukan.
"David, tolong percaya padaku. Aku tidak pernah mengkhianatimu." wanita itu mengiba dengan suara lirih.
David memandang wanita di depanya yang tak lain istrinya sendiri dengan pandangan rumit. Giginya bergemelutuk menahan luapan emosi yang luar biasa di d**a.
"Ya tuhan kak Carol, aku tidak pernah menyangka kau berani mengkhianati kakak sepupuku, hanya demi laki laki b******k itu." Jeni menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Mendengar ucapan Jeni, Carol menatapnya dengan shock, sedangkan David bertambah murka.
"David, ku mohon percayalah padaku." Carol menatap David dengan wajah sendunya.
David membuang muka enggan menatap wanita di depanya.
"Kak, mungkin kakak bisa istirahat sebentar. Biarkan pengkihanat ini merenungi kesalahanya." bujuk Jeni.
David enggan menjawab namun, ia segera meninggalkan gudang tempat Carol tergeletak dengan kedua tangan terikat.
"Pakaikan ia baju, aku jijik melihat tubuhnya yang murahan." David berucap dengan nada datar setelah itu pergi tanpa menengok kembali.
Carol membeku mendengar pernyataan dari David. Ia sadar selama menikah David sama sekali tidak mencintainya. Harapan mendapatkan kepercayaan David mulai meredup di matanya setelah pernyataan itu. Netra kelabunya memandang kosong.
Prok Prok Prok
Tepukan itu mengalihkan perhatianya, ia pandangi Jeni yang menyeringai dengan datar.
"Bagaimana kakak ipar, hebatkan permainanku." Jeni berkacak pinggang memandang Carol remeh.
Carol terdiam mencerna perkataan Jeni sehingga, satu kesimpulan yang ia dapatkan. Ia dijebak, dan dalang dari semuanya tak lain Jeni sepupu dari suaminya sendiri.
"Kenapa?" Carol bertanya dengan nada lirih.
"Ha ha ha kau terlalu bodoh dan naif Carol, kau tahu jika David mempunyai pewaris maka seluruh harta kekayaan Fernandez akan jatuh ketangan anaknya. Dan hal itu sangatlah aku benci, karena seluruh harta Fernandez hanya akan dimiliki anak yang ku kandung. Jika kamu mati bersama dengan anakmu itu maka semua akan menjadi milikku. Mengingat tradisi keluarga kita yang hanya menikah satu kali seumur hidup," Jeni berucap dengan mengelus perutnya yang masih datar.
Carol terdiam, ia ingat sebelum kejadian ini ia pergi bersama Jeni untuk menemui laki laki yang telah menghamilinya . Bahkan ia belum sempat memberitahu David. Secercah harapan muncul di hatinya. Mungkin jika ia mengatakan tentang kehamilanya David akan mempercayainya setidaknya memaafkannya demi anak mereka.
Brak
David mendobrakk pintu mengakibatkan mereka terlonjak. Jeni dengan segera mengubah tatapannya menjadi sendu, seakan bersimpati atas musibah yang dialami sepupunya.
"Beraninya kau hamil dengan b******n itu." David melempar surat dengan stampel rumah sakit.
Carol membolakan matanya mendengar ucapan David. Bagaimana bisa ia mengatakan ia mengandung anak laki laki yang sama sekali tidak ia kenal itu.
"David__"
"Cukup, ini sangat menjijikan," David berucap dengan melempar beberapa fotonya dengan laki laki itu.
Carol gemetar, ia tidak menyangka Jeni sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang. Ia bingung bagaimana ada foto menjijikan seperti itu, sedangkan foto itu persis dengan wajahnya.
"David, ini semua bohong. Percayalah padaku. Dan ini, ini anak kita hiks."
"Kau bilang ini anak kita, sedangkan kau tidak hanya berhubungan denganku saja. Sungguh menjijikan. Manusia sampah sepertimu tidak pantas hidup." David menodongkan pistol tepat di depan Carol.
Carol terdiam ia menatap sendu David. Hatinya remuk melihat pistol itu teracung di depan matanya tanpa adanya keraguan sama sekali. Tanpa sadar netra kelabu itu mengeluarkan liquid bening.
"Tuhan, jika ada kesempatan kedua lebih baik jika aku tidak mengenal atau menjauh dari David. Laki laki yang memaksa menikahiku dan berakhir membunuhku serta anaknya sendiri tanpa belas kasihan."
DOR
Bersamaan dengan suara itu Carol merasa gelap dan terjatuh dengan kepala yang sudah tidak utuh. Tanganya memeluk erat perut ratanya seakan ingin melindungi harta satu satunya yang ia miliki namun, semua hanya sia sia.
*******
"Nona, apakah anda mendengar saya. Jika anda mendengar suara saya tolong buka mata anda Nona."
"Engggh apakah aku di surga?" pertanyaan itu lolos dari bibir merah itu.
Laki laki yang bertanya tentang keadaan wanita itu mengernyit bingung. Apa yang terjadi dengan wanita itu.
"Maaf Nona, anda berada di rumah sakit." jelasnya.
Perlahan netra kelabu itu terbuka, memandang sosok menjulang dengan pakaian putihnya dengan wajah mengkerut.
"Max, kenapa kau di sini? apakah kau juga meninggal sepertiku?" pertanyaan polos itu muncul dengan sendirinya.
Laki laki itu mengernyit mendengar penuturan wanita bernetra kelabu itu. Di hatinya sibuk bertanya bagaimana wanita itu mengetahui namanya.
"Ekhm maaf Nona, saya belum meninggal begitupula anda Nona. Mungkin efek benturan saat kecelakaan itu terlalu keras hingga membuat anda sedikit kebingungan. Sekali lagi saya tekankan anda selamat dari kecelakaan itu. Dan ya nama saya Max, kalo boleh tahu bagaiman anda mengetahui nama saya?"
Wanita bernetra kelabu itu melotot kaget, ia melihat pakaian yang di kenakan. Pakaian dengan motif kotak kotak kecil berwarna biru muda, khas rumah sakit. Otaknya mulai mencerna keadaan, sedangkan tanganya meraba kepalanya. Ia masih bisa merasakan panasnya timah itu menghancurkan kepalanya, dan ia pun yakin jika kepalanya hancur. Tapi mengapa kepalanya masih utuh dan hanya ada perban tipis yang menutupi luka di pelipisnya, sedangkan ia ingat lukanya di tengah kepala, bukan di pelipis. Dan ia ingat jelas peristiwa seperti ini, persis seperti dua tahun sebelum ia dibunuh dengan kejinya oleh David dan hari ini termasuk pertemuan pertamanya dengan David dan di susul pernikahan paksa itu.
"Oh tuhan, apakah aku terlahir kembali."
1.
Carol memandang datar laki laki yang telah menyentuhnya. Ia hembuskan nafas lirih kemudian bangkit untuk memunguti pakaiannya dan pakaian laki laki itu akibat percintaan ganas mereka.
Carol selalu bertanya apa penyebab laki laki itu yang tak lain David Fernandes memilih dirinya sebagai istri. Jika David mengatakan ia mencintai dirinya Carol sangatlah tidak percaya. Sudah dua tahun mereka menjalani rumah tangga namun, ia merasa semua hanya omong kosong belaka.
Mungkin semua orang akan mengatakan ia wanita paling beruntung karena bisa menikah dengan laki laki keturunan Fernandes, tapi tidak dengan dirinya. Ia merasa tejerat dalam sangkar emas.
Carol selalu merasa sakit hati ketika tiap bulan ia harus melakukan check kesehatan rutin. Awalnya ia merasa tersanjung karena perhatian David, tapi setelah ia mengetahui alasan di balik Chek up tutupnya ia merasa tertohok.
"Aku hanya tidak ingin memiliki istri yang penyakitan, aku sudah berbaik hati mau menikah denganmu dan menyentuh tubuhmu. Jadi kau harus terima apapun yang aku lakukan terhadap tubuhmu. Karena tubuhku terlalu berharga untuk bersentuhan dengan orang sepertimu."
Setiap Carol selesai bercinta ia selalu memandang kosong langit langit. Ia selalu berfikir apa yang harus ia lakukan. Kembali ke keluarganya suatu hal yang mustahil, mengingat ia kabur dari keluarganya yang berakhir dengan kecelakaan yang menimpa dirinya dan pernikahan paksa yang menjeratnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Suara serak itu mengalihkan fikiranya sejenak. Di sana terpampang jelas tubuh seksi David yang terlentang tanpa benang sekalipun, jangan lupakan tatapan datar dan tajam andalanya yang membuat siapapun akan ketakutan dan bertekuk lutut, tapi hal itu tidak berlaku bagi seorang Carroline Althoza.
Carol terlalu kebal dengan tatapan itu, hanya ada rasa jengah karena sikap pongah David.
"Aku mau ke kamar mandi," ucapnya dengan bergegas menuju kamar mandi.
Carol dengan cepat melangkah, ia sadar ia belum menggunakan pakaian alias nekad. Ia harus segera pergi sebelum ia diterkam kembali oleh David. Namun, terlambat. Sebelum pintu tertutup sempurna sosok itu sudah berdiri menjulang di depanya dan menutup pintu dengan keras hingga membuat dirinya tercekat.
"Sepertinya mandi berdua lebih nikmat Baby," David berucap dengan suara yang sudah serak bahkan dengan asetnya yang sudah tegak menjulang.
Carol merinding mendengar suara itu, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sungguh ia benci dengan situasi seperti ini. Tubuhnya selalu menerima sentuhan David tapi hatinya selalu menangis. Ia selalu berusaha menerima semua takdir yang telah menimpanya.
*******
Carol terbangun seperti biasa, sendiri. Ia ingat setelah mereka menghabiskan malam bersama ia tertidur tanpa memikirkan David sama sekali. Sungguh ia merasa tidak sanggup menghadapi nafsu binatangnya.
Carol merasa terkejut ia pandangi sekali lagi tubuhnya. Ia memakai pakaian? apakah David yang memakaikannya. Ia ingat ia tertidur tanpa sempat memakai kembali pakaianya.
Carol mencoba bangkit, ia merasa perutnya bergejolak. Entah mengapa ia merasa akhir akhir ini tubuhnya terasa berbeda. Satu pemikiran muncul di otaknya. Apakah ia hamil? tapi itu tidak mungkin, mengingat ia selalu minum pil pencegah kehamilan. Ia masih belum siap mengandung, melihat hubungan mereka yang hanya seperti saling memenuhi kebutuhan masing masing. David yang memanfaatkan tubuhnya dan membutuhkan statusnya sebagai Istri, sedangkan ia yang memanfaatkan pernikahan ini untuk pelarian dari kejaran keluarga pihak ibunya.
David berulang kali mempertanyakan tentang kehamilan, tapi ia selalu bungkam. Enggan menanggapi. Sungguh ia belum yakin tentang pernikahan ini.
Huek Huek Huek
Carol melihat wajahnya yang pucat, segera ia basuh wajahnya dan memantapkan hati untuk pergi ke dokter kandungan. Entah mengapa ia merasa yakin ia mengandung.
******
"Nyonya, kita sudah sampai."
Suara supir itu menyadarkan Carol dari lamunan ya.
"Pak, bisa Bapak merahasiakan kedatangan saya ke rumah sakit ini?"
"Tapi nyonya."
"Saya hanya tidak ingin membuat David khawatir, tolong bapak mengerti," Carol berucap dengan tegas.
Supir itu yang tak lain pak Dharma terlihat berfikir, beberapa detik kemudian ia anggukan kepalanya pertanda ia siap merahasiakanya.
"Nyonya nanti pulang jam berapa biar bapak jemput?"
"Hmm kurang tau pak, nanti saya kabari bapak."
"Baik nyonya."
Carol segera keluar dari mobil. Ia pandangi bangunan megah itu. "RS. Kasih Bunda" dengan langkah pasti ia memasuki tempat itu, sebelumnya ia sudah mengkonfirmasi dokter Dewi, Dokter tempat ia konsultasi.
"Silahkan masuk Nyonya. Nyonya sudah di tunggu dokter Dewi di dalam." seorang perawat menyambutnya dengan ramah.
Carol hanya tersenyum, kemudian memasuki ruang rawat itu tanpa menghidupkan sekeliling.
"Bagaimana Carol." sapa Dewi ramah.
Mereka berdua sudah seperti teman bukan lagi seperti dokter dan pasien.
"Gue bingung wi, gue kok ngalamin gejala kayak orang hamil ya. Padahal gue selalu rajin minum obat dari lo." terang Carol.
"Hmmm presentasi obat pencegah kehamilan itu seperti 97% tingkat keberhasilannya. Tapi lo harus ingat masih ada 3% kemungkinan gagalnya. Lo coba tes pakek ini." Cewek mengeluarkan Test pack dari lacinya.
Carol melihat tespeck itu dengan pandangan rumit. Ia bukanlah gadis polos yang tidak faham apa kegunaan alat itu. Segera ia raih dan memasuki kamar mandi di pojok ruangan.
Beberapa menit kemudian Carol termengu melihat hasil dari alat itu. Dua garis merah, yang artinya ia hamil. segera ia meninggalkan ruangan itu dan menemui Dewi.
"Wi," ucapnya lirih dengan mengangsurkaan alat itu.
Dewi terdiam melihat alat itu, segera ia perintahkan Carol untuk berbaring.
"Hmmm lo lihat gambar itu Car." tunjuk dewi ke arah monitor yang menampilkan bulatan kecil, sebesar biji kacang mente.
"Wi, itu anak gue." Carol terbata.
"Iya Car, lo hamil dan usia kandungan lo hampir empat bulan. Kenapa lo ceroboh banget baru tahu setelah kandungan lo sebesar ini. Untung janin lo kuat." omel Dewi melihat kecerobohan temanya.
Carol hanya terdiam, ia bingung harus seperti apa. Di satu sisi ia merasa bahagia namun, ia juga bingung bagaiman tanggapan David nanti.
"Car, lo gak usah takut. Gue yakin David bakal seneng denger lo hamil. Meskipun David cuek gue yakin David cinta ama lo." hibur Dewi.
Carol hanya tersenyum kecut mendengar penuturan itu. Hah Cinta? omong kosong.
"Gue pergi dulu." ucap Carol meninggalkan Dewi yang memandangnya sendu.
*******
Carol terdiam melihat hasil USG di tanganya. Pandangannya mengarah pada sekelilingnya. banyak anak anak berlarian, senyum kecil muncul di bibirnya. Andaikan ia menikah karena cinta mungkin ia akan menjadi orang yang paling bahagia.
"Eh kak Carol, kok di sini. Sendirian lagi."
Carol tersadar dat lamunanaya. Di sampingnya berdiri perempuan dengan rambut se punggung berwarna hitam legam dengan keriting di bawahnya.
"Oh iya Jen, kakak lagi pengen cari suasana baru."tanggap Carol.
"Jeni duduk di sini ya kak."
"Duduk aja Jen."
Mereka berdua sama sam terdiam. Carol merasa tidak nyaman, ia memang tidak dekat dengan Jeni yang tak lain adik sepupu David. Entah apa tujuan Jeni mendatanginya.
"Jen, kakak pulang dulu ya." pamit Carol.
"Ehh kak, bisa temenin Jeni gak?"Jeni berucap dengan mata berkaca kaca.
Carol memandang Jeni dengan alis yang mengkerut.
"Jeni kenapa?"
"Jeni harus ketemu sama seseorang kak, dan orang itu ayah dari bayi yang Jeni kandung." jelas Jeni.
Carol kaget mendengarnya. Ia sadar bahwa Jeni belum menikah bagaimana bisa Jeni bisa hamil duluan. Ia paham pergaulan zaman sekarang, tapi mengapa bisa sampai kebablasan.
"Jen__"
"Pasti kakak gak bisa ya. Jeni faham kok kak. Kak pasti malu punya adek yang hamil di luar nikah. Jujur kak, Jeni juga gak mau kayak gini. Semua terjadi tanpa mampu Jeni hindari. Jeni di jebak hiks."
Carol memandang Jeni kasihan, entah dorongan apa yang membuat ia menyetujui permintaan adik sepupunya itu.
******
"Jeni yakin di sini tempat ketemuanya?" tanya Carol meyakinkan.
"Iya kak, kakak gak percaya sama Jeni." Jeni menatapnya.
Carol bingung harus bagaimana, di satu sisi ia tidak tega dengan Jeni namun, entah mengapa ia merasa ada akan ada sesuatu yang terjadi, entah apa itu. Yang pasti ia merasa kejadian itu adalah hal yang buruk.
Di depan Carol tertulis angka 602, ia berdiri di depan pintu kamar hotel dengan tangan menggenggam tasnya erat. Sedangkan Jeni menggoyangkan tanganya berharap Carol segera membuka pintu kamar itu.
"Ayo kak."
Mereka memasuki kamar itu bersama. Carol melihat sekeliling melihat keadaan kamar yang sepi hanya terdengar suara gemericik di kamar mandi, pertanda ada sesorang di dalamnya.
"Cowokmu mana Jen?" tanya Carol.
"Emm dia kayaknya mandi deh kak, tapi dia udah tahu kalo Jeni bakal kesini." jelas Jeni.
"Ohh." Carol merasa janggal dengan keadaannya.
"Kak, minum dulu, Jeni mau ke balkon sebentar. Kakak tunggu aja di sini. Nanti Jeni bakal kesini kok."
Carol menyapa Jeni dengan curiga, ia alihkan pandangannya ke gelas yang berisi air putih tersebut Tenggorokannya terasa kering. Di sisi lain ia takut untuk meminum air putih itu karena ia belum terlaku mengenal bagaimana sifat Jeni. Tapi di sisi lain ia sangat ke hausan. Membulatkan keputusannya ia anggukan kepala dan menegak segelas air itu tanpa berpikir lagi.
"Aku kesana ya kak." pamit Jeni.
Setelah kepergian Jeni entah mengapa Carol merasa kepalanya pusing, dan tak lama kemudian semuanya gelap.