“Taaannnn!” teriak Uci di lorong rumah sakit. Ia memang sengaja ingin bertemu mama dulu makanya memutuskan untuk datang langsung ke rumah sakit. Dokter Nina sempat tersentak ketika seseorang berteriak dari arah sampingnya. Mungkin kerabat dari pasien rumah sakit ini, begitu pikirnya. Baru ia berniat menegur orang itu untuk menjaga kelakuannya di rumah sakit ternyata orang itu adalah putri bungsu dari rekannya. Menyalin raut bahagia Uci, Dokter Nina langsung menyerbu Uci yang mendekat padanya dengan tarikan di kedua pipinya. “Manten baru ngapain ke sini? Cek kandungan?” “Ish apaan sih, Tan?” Bocah ini, yang beberapa tahun lalu bersikap seolah ia siap untuk mati kapan saja tengah tersenyum dengan wajah sampai kedua daun telinganya memerah. Dia sudah berhasil ternyata, berdamai dengan kea

