Episode 7 Perjalanan Di Mulai

1494 Kata
POV Nazhera Stasiun Senen jam 07.00 WIB. Nazhera dengan tas besarnya mengantri bersama dengan penumpang lainnya. Ia memakai celana panjang, kaos panjang, kaca mata hitam, dan rambut yang di kuncir kuda sehingga menampilkan leher jenjangnya. Ia melangkah ke peron yang ramai dengan penumpang saling menunggu kereta tujuan. Suasana penuh dengan kegembiraan, ketegangan dan kesibukan, orang-orang bersiap untuk naik kereta. Ini adalah momen mengangkan untuk Nazhera yang baru pertama kali naik kereta sendirian. Seiring dengan bunyi peluit, kereta tiba di peron dan pintu gerbong terbuka lebar. Para penumpang berebutan naik dan turun, saling bertabrakan karena tidak ada pengatur arah kemana masuk dan kemana keluar. Nazhera hanya berdiri menunggu suasana sedikit sepi. “Selamat pagi dan selamat datang penumpang yang terhormat! Kami ingin memberitahukan bahwa Kereta Api Serayu dengan tujuan Stasiun Surabaya akan segera berangkat. Mohon perhatian seluruh penumpang untuk segera menuju peron dan mempersiapkan tiket serta barang bawaan yang diperlukan,” suara costomer cervis stasiun terdengar khas dan merdu menyambut para penumpang yang baru datang dan naik ke gerbong masing-masing. Nazhera melihat tiketnya, memastikan nama kereta yang akan ia tumpangi tidak salah. Sebelumnya ia sudah mengabarkan admin Yukaitukadieu.id kalau ia akan naik kereta eksekutif dan bertemu di stasiun Surabaya. Ia sebenarnya sedih harus berpisah dengan teman-teman yang baru ia akan kenal. Ia sudah membayangkan akan mendapatkan banyak teman baru dalam trip pertamanya ini. Namun bayangan itu harus ia tahan karna syarat dari sang ayah yang harus menaiki kereta yang berbeda dengan yang lain. Dengan helaan napas yang cukup panjang, Nazhera menyimpan keril besarnya di pojokan kereta, di paling belakang gerbong yang ia tempati. Terlihat juga ada beberapa keril yang sama besarnya dengan miliknya. “Ada yang mau ke gunung juga kayanya,” lirihnya. Lalu ia melihat sekitar gerbong yang ia naiki, berharap ada orang dengan tujuan yang sama dengannya. Namun, karena pengalaman yang minim tentang penampilan ke gunung membuatnya sulit memprediksi penumpang dengan tujuan ke gunung. Ia duduk tepat disebelah jendela, lalu ia membuka gawai dan memasang headset dan mulai mencari playlist music yang sesuai dengan suasana hatinya. “Kereta Api Serayu akan berangkat tepat waktu dari Stasiun Senen menuju Stasiun tujuan Anda. Perjalanan ini akan membawa Anda melintasi pemandangan indah dan memberikan pengalaman yang menyenangkan. Selama perjalanan, kami akan menyediakan fasilitas yang nyaman dan pelayanan yang terbaik untuk kenyamanan Anda,” suara costomer servis kereta terdengar lagi. Menandakan kereta benar-benar akan pergi meninggalkan Jakarta. Hati Nazhera bergetar, sudah tidak sabar menanti petualangannya di Argopura. Ia pun tersenyum membayangkan hal itu. “Kami ingatkan kepada seluruh penumpang untuk selalu menjaga kebersihan dan ketertiban di dalam kereta. Gunakanlah tempat duduk yang telah ditentukan dan pastikan barang bawaan Anda disimpan dengan aman,” costomer servis kereta mengingatkan. “Misi mba, ini masih kosong ya kursinya?” seorang laki-laki menyapa Nazhera yang sedang menikmati senandung ringannya. Ia langsung menoleh ke sumber suara, dan memberikan senyum ramah. “Oh, mas bisa di lihat di tiketnya mas, kalau nomor kursinya sesuai berate itu kursi mas-nya.” Nazhera menjawab ramah. “Oh iya, saya lupa,” laki-laki tersebut mengodok saku celananya mencari tiket yang dimilikinya, “iya, bener disini nih,” lirihnya. Lalu duduk dan menyimpan tas dipangkuannya. Terdengar helaan napas lelah dari laki-laki tersebut. “Cape banget ya mas, berat banget napasnya.” Nazhera coba berbasa-basi. “Iya mba, saya lupa pesan tiket eksekutif, biasanya tiket ekonomi, makanya agak buru-buru ngejar gerbong ini, untung teman-teman saya sudah sampai duluan di sini,” jelasnya. “Oh begitu, syukurlah tidak ketinggalan kereta.” Nazhera kembali menyenderkan punggungnya pada kursi kereta, dan melihat keluar jendela. Masih dengan suasna stasiun yang sekarang menjadi sepi karena banyak penumpang yang telah pergi dan menaiki kereta tujuan masing-masing. Ia kembali memutar lagu yang tadi sempat terjeda. Perlahahan kereta mulai memutarkan rodanya. Ia melihat pemandangan yang masih didominasi dengan suasana perkotaan. Gudung-gedung pencakar langit, perkampungan padat penduduk dan suasana kemacetan khas ibu kota. “Mba, saya boleh pakai steker listriknya? Kebetulan saya harus charge banyak baterai,” pinta laki-laki di sampingnya dengan ramah. “Boleh mas, tapi nanti kalau gawai saya habis baterainya, giliran ya saya pakai stekernya,” balas Nazhera masih dengan sikap yang ramah dan sedikit canggung. “Siap mba.” Pemandangan berganti, kereta sekarang memasuki daerah pedesaan yang subur. Pemandangan hijau perkebunan, sawah yang luas, dan gunung-gunung di kejauhan menjadi bagian dari panorama yang indah. Nazhera melihat petani sedang bekerja di ladang, beberapa hewan ternak digembalakan di padang rumput, dan anak-anak bermain di sekitar sungai. Indah sekali. Nazhera tak berhenti tersenyum melihat suasana yang baru saja ia lihat seumur hidupnya. “Mba mau kemana? Sendiri aja?” laki-laki di sampingnya kembali menyapa setelah beberapa lama ia mengurus baterai yang banyak dan belum terisi daya. Ia juga terlihat bolak-balik ke kursi belakang, mungkin menemui teman-temannya dan melakukan hal yang sama, charge baterai. “Iya sendiri, engga sendiri juga sih, ekh gak tau berapa orang yang ada di gerbong ini.” Nazhera menjawab gelagapan. Belum siap dengan obrolan yang akan mereka mulai. “Mas sendiri mau kemana? Kayanya ribet banget bawa banyak baterai kaya gini,” katanya sambil melihat beberapa kabel yang tersambung ke tas di ujung kaki teman barunya. “Gak enak gue di panggil mas-mas, kenalin mbak, gue Aswin,” laki-laki tersebut menyodorkan tangannya mengajak kenalan Nazhera. Gayung bersambut, Nazhera pun mengulurkan tangannya. “Nazhera,” balasnya, masih dengan senyum ramahnya. “Jadi lo mau kemana? Sendiri aja?” “Gue mau naik gunung, ini adalah pertama kali buat gue, sebenarnya gue gak sendiri, gue ikut trip bareng-bareng gitu di i********:, tapi gue juga belum sempet ketemu sama adminnya, jadi gak tahu nih dibilang sendiri atau engga, mereka di gerbong ekonomi katanya,” ujar Nazhera cukup panjang pada laki-laki yang kini ia tahu namanya, Aswin. “Lo sendiri mau kemana? Tadi belum jawab,” tanya Nazhera lagi. “Gue mau ke Surabaya, gue sih gak sendiri, yang lain ada di belakang, udah pada tepar, keenakan tidur di gerbong eksekutif,” jelas Aswin. “Biasanya gue sama temen-temen pakai tiket ekonomi, ini pertamakalinya gue dan temen-temen gue pake eksekutif, ternyata enak juga.” Aswin menambahkan panjang lebar. “Oh gitu ya, tapi ini juga perjalanan kereta pertama gue, gue biasanya pakai pesawat. Ini pengalaman pertama, udah gitu sendiri pula, ada rasa takut dan senang gitu gue rasain.” Nazhera menjawab tak kalah panjangnya. “Lo youtuber ya?” tanya Nazhera sok tahu. “Ya chanel kecil, buat balikin ongkos naik gunung lumayanlah, hobi naik gunung, terus diabadikan dalam video, di upload dan dibayar hehe,” jawab Aswin dengan sedikit tertawa. “Apa nama chanelnya biar gue subscribe.” Nazhera mengeluarkan gawainya, lalu menggulir layarnya menuju aplikasi yang dimaksud. Selala perjalanan mereka menikmati obrolan, tentang musik, pekerjaan, sekolah, dan lainnya. Keduanya langsung akrab begitu saja, padahal baru saja bertemu. Berbagi headset dan mengisi perjalanan dengan lagu-lagu favorit mereka. Dengan makanan ringan yang mereka bawa. Selama perjalanan, kereta melewati beberapa stasiun kecil di sepanjang jalur, di mana beberapa penumpang naik atau turun. Dalam gerbong, ada makanan dan minuman yang dijual. Aroma harum memenuhi gerbong, mulai dari aroma kopi hingga mie instan favorit semua orang. Aswin beberapa kali mendatangi teman-temannya, memastikan mereka juga mendapatkan fasilitas yang sama. “Terima kasih telah memilih Kereta Api Serayu sebagai sarana perjalanan Anda hari ini. Kami berharap Anda menikmati perjalanan yang nyaman dan menyenangkan selama perjalanan. Sampai berjumpa kembali,” tepat dengan berakhirnya suara customer servis berbunyi, kereta tiba di Stasiun Surabaya. Suasana kegembiraan terasa di antara para penumpang yang akan turun dari kereta. “Lo udah hubungin admin trip yang bakalan bawa lo? Mau gue temenin?” tanya Aswin sebelum mereka benar-benar berpisah. “Udah sih, tapi belum balas. Gue mau makan dulu aja sambil nunggu balasan mereka, lo mau ikut? Ayo aja.” ajak Nazhera. Entah kemana Eki dan Sandi, sejak turun dari kereta mereka justru terpisah, padahal di gerbong yang sama. “Ya udah yu makan dulu, gue juga nungguin temen-temen gue.” Aswin mengiyakan ajakan Nazhera. Tiptop Admin Yukaitukadieu.id : mbak, kita ada di depan minimarket tepat dekat stasiun ya, kalau bisa mba ke sini aja. Gampang kok, dari pintu keluar, langsung keliatan minimarketnya. Nazhera : Baik. Nazhera membalas singkat. “Mereka udah keluar stasiun katanya, temen-temen lo gimana? Udah ada kabar?” tanya Nazhera. “Gue mah santai, gue anterin lo aja dulu, kali aja nanti gue juga bisa ikut trip sama lo.” “Emang bisa ya kaya gitu? Lo gak akan dicariin teman-teman lo?” “Enggak, yu cabut,” sambil memasang keril besarnya, Aswin juga menyulut satu batang rokok dimulutnya, lalu mengikuti langkah Nazhera dari belakang. Nazhera mengedarkan pandangannya, tidak terlihat banyak orang yang sepertinya akan mendaki gunung. Hanya terlihat dua orang yang sedang duduk santai dengan rokok dimulutnya dan dua keril yang besar. Dari jauh mereka melambaikan tangannya. “Kok mereka udah tahu sama aku,” lirihnya dalam hati, perasaan aneh dan tidak enak datang di hatinya, “Kita kan belum pernah ketemu, kenapa mereka tersenyum dan melambaikan tangan?” Memangnya siapa mereka berdua ini? Apakah kenal dengan Nazhera? Jangan-jangan memang Eki dan Sandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN