Aswin menyesap rokokya dalam-dalam, masih terngiang dengan jelas suara laki-laki yang menjawab panggilannya. “Kenapa bisa sekesal ini? s**t…!” “Bang? Udah siap belum? Kita gladi bersih, abis itu baru penghayatan.” Eki mengingatkan agenda hari ini. “Dikit lagi Ki, tanggung,” dengan segera ia menghisap rokok terakhirnya. Ia sangat menghayati, memejamkan matanya, memberikan sugesti untuk melupakan sejenak siapa yang berfoto dengan calon istrinya. Malam tiba begitu saja, para penonton telah menukarkan tiketnya dan memasuki ruangan yang masih terang, nanti ketika materi telah mulai, akan diredupkan, supaya cahaya hanya pada sang bintang, yaitu Aswin Ganjar. Jumlah yang sama dengan kota-kota sebelumnya. Tidak berkurang, kata Bokir masih ada saja penonton yang meminta tiket tambahan, tapi

