002:

882 Kata
Edward duduk di perpustakaan membaca naskahnya. Ruangan sejuk nan sepi membuatnya tenang. Membiarkan dirinya terhanyut, matanya menyusuri kertas dalam kesunyian. 'Pangeran Boneka'—— Drama singkat yang ditulis kakak kelasnya tahun lalu. Menceritakan tentang boneka pangeran yang jatuh cinta dengan seorang putri. Ia selalu bersama sang putri tetapi ia tidak bisa menyatakan perasaannya. Seiring sang putri menginjak usia dewasa, boneka tersebut lalu diabaikannya di dalam gudang. Merasa sedih namun tidak bisa menangis. Ia pada akhirnya menerima bahwa dirinya hanyalah boneka hampa yang dibuat untuk sang putri bahagia. Mengejutkannya, cerita ini berakhir bahagia dengan boneka pangeran tersebut berubah menjadi manusia. Cinta sang pangeran sungguh besar untuk tetap mencintainya setelah dilukai. Ia kemudian menikah dengan sang putri dan hidup bahagia dalam dongeng. Edward memainkan pemeran utamanya dalam drama ini. Ia bisa berempati kepada pemeran utamanya akan perasaannya. Ia pikir sang boneka adalah sosok yang manis dan setia. "Yah.. kakak kelas yang menulis cerita ini sangatlah unik" BRUKK!!! Edward tersentak kaget. Menoleh ke arah sumber suara, ia menyadari rupanya tidak sendirian di dalam. Kepalanya melongok ke samping. Pandangan terfokus pada perpustakaan lantai 2 yang gelap gulita. Ia mengangkat alisnya kebingungan. Seharusnya, dialah orang pertama yang datang ke tempat ini. Suara apakah tadi yang ia dengar? Mulanya Edward mengabaikan suara tersebut. Namun rasa penasarannya semakin menguat seketika ia mendengar suara buku terjatuh lagi. Ia memutuskan pergi mengeceknya sebentar. Menaiki tangga perpustakaan, ia menghidupkan satu-satunya lampu yang bekerja di lantai 2. Di bawah cahaya lampu jingga yang remang, tampaklah sosok remaja sebaya yang duduk di kursi pojok ruangan. Lelaki tersebut membuat Edward berhenti melangkah lebih jauh. Ia belum pernah melihatnya berada disini. "Halo, hari yang indah bukan?" "... Siapa kau?" Edward mengamatinya. Tidak satupun hal darinya bisa ia tangkap menonjol. Ia berbaur dengan meja kayu disampingnya dan dinding salem berhias rak buku sangat sempurna. "..Halo, hari yang indah bukan?" "...... Maaf? Siapa kau? Kenapa kau ada di-" "Halo, hari yang indah bukan?" Edward mengedipkan matanya. Berjalan mendekat, ia mencoba memegang tangan lelaki tersebut. Jari jemarinya terasa dingin menyentuh kulitnya. Melihatnya dari dekat, ia menemukan senyuman lembut terlukis di wajahnya. Ia tidak berhalusinasi karena kurang tidur. Sosok di depannya adalah seorang murid di sekolah ini. Tetapi ia tidak bisa memahaminya. Alasan mengapa ia disini dan mengapa ia terus mengulangi kata-kata yang sama-- ia tidak mengerti mengapa ia menjatuhkan bukunya dan memungutnya kembali. "Halo, hari yang indah bukan?" BZZZTT... BZZZTT... Edward berjalan mundur begitu ponselnya bergetar. Terus menatap lelaki di depannya, tangannya meraih ponsel di sakunya. Nafasnya berhenti sesaat ia membaca pesan dari grup kelasnya. Secepat kilat. Ia berlari turun dengan panik menuju lapangan. [Hei, teman-teman! Ada berita panas!! Jack bertengkar dengan Angie di lapangan!!] [Gila itu- Katanya gara-gara lindungi anak OSIS, Angie nya ditampar Jack!! Ayo pergi lihat yuk!] ******* Angie POV "Apa yang kau lakukan?! Lo yang memulainya duluan!!" "Oi- Tidak pernah lihat cermin ya?" "Apaan sih?!! Mau main jadi pahlawan?! Lo pikir lo siapa? Aku ini anak direktur perusahaan terbesar di kota ini!!" Amarahku meluap-luap. Aku mengepalkan tanganku. Mulutku berteriak sampai tenggorokanku sakit. Aku tahu aku benar! Dia duluan yang mengotori pakaianku!! Tetapi tidak ada yang membelaku- Mereka semua memihak cewek bermata empat itu?!! Aku sangat-sangat membencinya! Ini bukanlah yang pertama kalinya dia membuat masalah denganku. Terakhir kali ia diundang ke klub drama, ia memecahkan lampu panggung. Namun tidak ada yang terlihat mempedulikannya. Dia adalah ular licik! Belum cukup ia mempermainkan ketua klub drama- ia bahkan mempermainkan hati anak perusahaan X! Aku jelas-jelas lebih baik daripadanya!! "Apa kau bahkan tahu apa yang telah ia lakukan?! Berani-beraninya kau menamparku?!!" Aku tidak tahu mengapa perempuan bermata empat di depan itu sangat suka cari muka. Sebelum ia datang, hidupku tidak pernah seperti ini. Mengapa aku menjadi seperti ini? Semua ini salahnya! Dia selalu membuatku terlihat salah setiap kali aku membuka mulutku. Baik aku jujur atau berbohong, itu tidak akan mengubah apapun. Mengapa harus ada dia disini?! "Jack jangan ikut campur- Jalang ini keterlaluan sekali! Cantik aja nggak seberapa tapi udah berlagak!!" "Angie, arogansi mu akan merusak dirimu" Apa ini salahku? Tidak! Aku tidak salah! Aku selalu benar! Tidak dari satu titik pun aku pernah salah. "Tutup mulutmu cewek s****n! Kau pembuat masalah!! Dasar jalang jalan-" "Apa katamu?" Jack menatapku tajam. Ia mendekatiku, mencengkram kerahku. Tangannya ia kepal sekuat tenaga seakan-akan ia bisa meninjuku setiap saat. Tapi itu tidak menghentikan ku. Dia tidak akan berani memukuli ku. Aku tahu Jack sedang dimanipulasi oleh cewek jalang itu. Jikalau dia tahu watak aslinya si sok alim itu, dia pasti tidak akan memihaknya. "Heh! Melindungi si br****ek itu? Lo kalau berani pukul gue persilah-" PLAKK!!! Suara tamparan terdengar keras. Satu lapangan hari itu terdiam. Telingaku berdenging. Pipiku terasa sakit. Aku terlalu kaget dan marah untuk bereaksi. Pupil mataku melirik pada lelaki yang ada di depanku sebelum terjatuh pada wanita di belakangnya. "Jangan kira gue main-main dengan lo" Aku telah mencapai titik kesabaranku. Aku terlalu murka untuk memaafkan apa yang mereka lakukan padaku. Ini tidak bisa kuterima. Cukup adalah cukup. Aku sudah muak dipermalukan seperti ini. "Sadar diri sedi-" PUHh!! "Jadi tamu gue kalau mau berlagak jadi pahlawan. Tapi jangan harap ampun dari gue. Camkan itu" Jack mengerutkan dahinya. Mengelap ludahku yang m*****i bajunya, aku menyeringai sinis dan berbalik pergi. Aku mempertaruhkan segalanya. Aku tidak boleh kalah dari cewek sok alim itu. Harga diriku, reputasi ku, aku akan mengambil semua yang kupunya kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN