3.KERICUHAN

1080 Kata
Hari ini adalah pertama Hasbiya masuk kerja. Wanita itu telah rapih dengan kemeja peach dan bawahan rok panjang putih, tidak lupa hijab peach yang senada menutupi rambut panjangnya. "Pagi, Tuan." Sapa Hasbiya pada Arvi yang baru saja sampai dikantor. Sebelumnya Hasbiya telah diajari oleh Anisa tentang semua tugasnya dan dimana mejanya terletak. "Pagi." Jawab Arvi dingin. Hasbiya mengkerut, ia bisa melihat tak biasanya Arvi bersikap dingin seperti itu. Dirinya tahu jika pria itu selalu ramah padanya. Wanita itu pun membuntuti Arvi hingga sampai keruangan pria tersebut. "Tuan, butuh teh. Biar saya ambilkan." Tawar Hasbiya. "Apa posisi kamu, Hasbiya." Tanya Arvi dengan tatapan tajamnya. "Sekretaris, tuan." Jawab polos Hasbiya. "Lalu." "Lalu Apa, tuan." Hasbiya menggaruk kepalanya yang tertutup hijab. "Kenapa kamu bekerja seperti cleaning Servis." Hasbiya melotot pria dihadapannya. "Ah.. Tuan, Saya melihat keadaan tuan sedang emosi, makanya saya tawarkan teh." Desah Hasbiya kesal. "Kembalilah ke mejamu." Pinta Arvi memijit dahinya seakan otaknya ingin pecah. Kepala Arvi memang terasa ingin pecah, lantaran ulah istrinya Lintang yang selalu saja menguji kesabarannya. Ia mengingat setiap kata pedas yang keluar dari mulut Lintang untuknya. "Arvi." Pekik Lintang. "Ada apa lagi, Lintang." Sahut Arvi yang membenahi kemejanya. "Lihat ini, Kenapa uang bulanan aku berkurang seratus ribu." Oceh Lintang. "Hanya seratus ribu, kamu ribut seperti ini. Itu pasti potongan bank. Aku selalu mengirimi uang seperti biasa." "Dasar laki-laki enggak berguna." Cerca Lintang lalu membanting pintu kamarnya. BRAK.. Arvi mengingat tentang apa yang membuatnya kesal pagi ini. Lintang.. tentu hanya wanita itu yang membuat Arvi merungut. Arvi melangkah keluar, mungkin mencari angin. Tanpa melihat Hasbiya, ia langsung pergi melewati wanita itu. Sekarang sudah menunjukan pukul 12.00 pm. Jam para karyawan istirahat makan siang. "Hasbiya." Panggil Anisa melihat Hasbiya keluar lobby. "Eh, mba Anisa." "Panggil Anis aja." "Mau kemana." Tanya Anisa. "Mau sholat dulu, baru makan." Jawab Hasbiya menuju mushola. "Oh.. kalau gitu makan bareng aja. Aku tunggu di kantin ya." Seru Anisa. "Mba anis, enggak sholat." "Enggak, lagi dapat aku. Heh." Anisa menyengir pada Hasbiya. Hasbiya pergi ke mushola kantor tersebut. Sedangkan Anisa menunggu Hasbiya di kantin kantor. "Anisa." Panggil Arvi yang baru datang menghampiri Anisa. "Arvi, duduk. Suntuk amat." Seru Anisa pada Arvi. "Gw ganggu ya." Kata Arvi. Anisa menggeleng tegas Arvi. "Ada apa." Tanya Anisa Lagi. "Lintang lagi." Tebak Anisa. "Sepertinya lo udah hapal." "Yaiyalah, hanya Lintang yang bisa buat lo kayak gini." Ujar Anisa. "Gw enggak maksud ikut campur, apalagi kalau Anisa tau gw yang beri lo saran." "Sekali-kali Lintang harus dikerasin, ntar kebiasaan dia ngerendahin lo terus." Nasehat Anisa. "Mba Anis, maaf ya lama nunggunya." Tiba-tiba suara Hasbiya beralun lembut menghampiri mereka. "Ngapain kamu kesini." Kontan Arvi. "Lah, Tuan. Inikan kantin. Siapa aja boleh disini." Jawab Hasbiya menduduki salah satu kursi yang dihadapan Anisa dengan sebuah kotak nasi. Anisa tak percaya jika Hasbiya berani menjawab Arvi seperti itu. Setau dirinya belum ada pernah yang berani menjawab Arvi bos besar seperusahaan tempatnya bekerja. "Loh Hasbiya kamu bekal." Anisa tersenyum melihat Hasbiya membuka kotak nasinya. "Iya mba, saya masak tadi subuh, kan mubazir kalau enggak di makan." Ujar Hasbiya. "Ini buat aku aja. Aku lapar, kamu pesan aja sama ibu kantin. Nanti biar aku yang bayar." Arvi merampas begitu saja makanan Hasbiya. "Lah Tuan, itukan punta saya." Gusar Hasbiya. "Kamu kan bisa pesan." "Ih.. Tuan, kenapa enggak bilang aja kalau minta dibekalkan." Gerutu Hasbiya kesal. "Kalau begitu mulai besok kamu bawakan saya bekal." Anisa terkekeh melihat kelakuan kedua orang itu. Apalagi Arvi memakan isi kotak nasi Hasbiya dengan lahap. 'Apa Lintang enggak pernah buatkan sarapan dengan Arvi sampai dia rela minta Hasbiya ngelakukan hal itu yang seharusnya tugas lintang.' Anisa membatin. Wanita itu tahu jika Lintang mencintai Arvi tapi ia merasa ada salah dalam rumah tangga sahabatnya. Jika ia mengikut campur, tentunya Lintang akan marah besar padanya. *** Sebulan berlalu, kini Hasbiya semakin biasa dengan sikap Arvi yang suka semaunya. Walau begitu Arvi selalu sopan padanya. Tak lupa Hasbiya selalu membawakan bekal yang sangat lezat untuk Arvi. Pria itu menjadi terbiasa dengan masakan sekretarisnya. Hasbiya termangu ketika duduk di meja tempat ia bekerja. 'Sudah sebulan, Pak Theo pasti cari aku. Uang aku juga belum terkumpul.' pikir Hasbiya. "Hasbiya." Pekik Anisa membuatnya terkejut. "Ah.. Ada apa.. Ada apa." Kejut Hasbiya. "Melamun ya. Pagi-pagi udah melamun." Goda Anisa. "Ih.. Anis, kamu kagetkan aja. Aku mikirkan tengkulak didesa aku." Wajah Hasbiya cemberut memikirkan itu. Selama bulan kedua orang ini menjadi sangat akrab, Anisa juga merasa nyaman berteman dengan Hasbiya dibanding karyawan lain. "Lah.. Memangnya dia akan samperin kamu kesini." "Mungkin aja, Nis." Ucap Hasbiya dengan getir. Tiba-tiba seorang Satpam menghampiri Hasbiya dengan kecemasan diwajahnya. "Mba Hasbiya, itu diluar ada yang cariin. Tampannya serem, marah-marah lagi orangnya." Ujar Satpam itu. "Siapa, Pak." Sambung Anisa. "Enggak tau, mba Anis. Ada sekitar empat orang mereka." Jawab satpam tersebut. Hasbiya dengan cepat keluar menemui orang-orang tersebut. Disusul Anisa yang panik pada Hasbiya. "Juragan Theo." Seru Hasbiya terperanjat. Firasatnya benar jika tengkulak ini akan menyusulnya. "Apa kabar, Hasbiya. Sudah siap untuk menikah denganku." Kata Theo dengan tatapan yang buasnya. "Juragan tolong berikan saya waktu." Ucap Hasbiya dengan iba."Tidak bisa." "Hasbiya, siapa pria tua ini." Bisik Anisa baru datang menghampirinya. "Dia Juragan Theo." "Jadi dia.." Hasbiya mengangguk, terdapat kesedihan diwajah Hasbiya. Ah.. untungnya Arvi belum datang, kericuhan terjadi akibat ulah Juragan Theo. Semua karyawan melihat Hasbiya yang ingin dibawah paksa. Namun Anisa terus saja menarik tangan Hasbiya dengan kuat. "Tolong, jangan sentuh Saya." Pekik Hasbiya. "Hey.. lepaskan Hasbiya." Teriak Anisa. "Juragan, tolong berikan saya waktu, saya akan melunasi semua hutang Juragan." Mohon Hasbiya dengan tangisnya. Oh.. sungguh Hasbiya tidak ingin menikahi pria tua ini. "Eh.. Ada apa ini. Kenapa kalian buat keributan disini." Sungut Arvi menatap mereka yang hendak menyeret Hasbiya. "Tuan." Lirih Hasbiya. "Hasbiya, ada apa." Tanya Arvi pada Hasbiya. "Tuan, dia calon istriku. Dan aku segera akan menikahinya." Seru Theo dengan senyum puas. Arvi mengeryit, sejenak pria itu menatap Hasbiya dengan penuh tanya. "Benarkah itu, Hasbiya." Arvi berpikir kenapa Hasbiya mau menikah dengan pria tua ini. Padahal sebulan yang Hasbiya menolaknya. "Tidak, Tuan. Dia tengkulak kampung saya." "Tengkulak." "Sejenis rentenir, Pak." Sambung Anisa. "Oh.. jadi dia berhutang dengan anda. Berapa hutangnya, Saya akan membayarnya." Ucap Arvi dengan tegas seraya memasuki tangannya disaku. "Seratus juga beserta bunganya." Jawab Pak Theo dengan sinis. "Tapi, Tuan...." "Diam Hasbiya." Bentak Arvi. "Anis, urus." Arvi memberikan selembar cek kosong. Tubuh Hasbiya masih bergemetar, ia merasa takut karena hampir saja harus menikah dengan pria tua. "Hasbiya, bersyukurlah kamu selamat." Ujar Anisa. "Alhamdulillah, untungnya ada tuan Arvi yang baik hati." Seru Hasbiya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN