Sepulangnya kantor, Hasbiya menunggu keadaan sepi. Ia memastikan semua karyawan telah pulang.
Arvino sendiri sedari tadi sudah menunggu diruang kerja. Sulit sekali untuk pulang, menunggu karyawan sepi.
"Tuan, sepertinya semua sudah pulang." Ucap Hasbiya masuk keruangan Arvi.
"Ah.. akhirnya." Desah Arvi.
"Ayo." Arvi menarik tangan Hasbiya. Tentu saja itu membuat Hasbiya gugup.
Astaga kenapa Hasbiya sulit mengatur nafas jika bersentuhan langsung dengan Arvi. Tubuhnya sulit untuk berdiri tegap.
Beruntungnya dengan sigap Arvino cepat meraih pinggang Hasbiya, ia merasa tubuh wanita ini tidak seimbang.
"Hasbiya, kau tidak apa-apa." Tanya Arvi melihat secucur keringat didahi Hasbiya.
Dengan cepat Hasbiya menggeleng. Takut Arvino curiga, ia mencoba mengatur nafasnya. Lalu bersikap biasa saja.
"Yakin." Tanya Arvino sekali lagi mendekatkan wajahnya pada Hasbiya.
Membuat Hasbiya mengerjapkan matanya. Arvino sendiri menahan kekehan melihat tingkah aneh Hasbiya. Sepertinya dia mendapat hiburan baru dari Hasbiya.
Kini mereka dalam perjalanan pulang ke rumah Arvi. Mungkin ini pertama kalinya Arvi berani melakukan kesalahan besar pada Lintang.
Tak butuh lama kedua orang tersebut sampai dirumah mewah Arvino bernuansa putih. Hasbiya terperangah melihat rumah sebesar ini, menurutnya ini seperti istana.
Ia terpanah dengan apa yang dilihatnya. Sampai-sampai dia berdiam diri saat Arvi mulai membuka pintu rumahnya.
"Hasbiya." Panggil Arvi.
"Hasbiya." Tegur Arvi menggeleng.
Arvino menghampiri Hasbiya yang termangu menatap rumah yang akan ditempati.
"Hasbiya.." Pekik Arvino keras.
Hasbiya teranjat mendengar pekikan yang berada didaun telinganya. "Tuan." Sontak Hasbiya.
Arvi terbahak, ia tak bisa menahan ketawanya lagi melihat ekspresi wajah wanita itu.
"Makanya jangan melamun." Umpat Arvi.
"Ayo masuk."
"Tuan, rumah sebesar ini berapa orang yang tinggal." Gumam polos Hasbiya.
"Lima orang. Tambah kamu jadi enam." Jawab Arvino.
"Hanya segitu." Ucapmya sambil berjalan memasuki rumah itu.
"Iya. Lalu maunya berapa." Ujar Arvino mengkerut wajahnya.
"Kalau rumah sebesar ini, sekampung saya." Hasbiya masih terlena pada rumah Arvino.
Arvino mendarat tubuhnya di sofa ruang tamu, dan membuka sepatunya lalu melempar sembarang tempat.
Hasbiya terbelalak melihat kelakuan suaminya. Ternyata bukan saja dikantor, dirumahnya juga seenaknya. Langsung saja dengan cepat dia memungut sepatu suaminya.
"Eh.. eh.. mau apa kamu." Lonjak kaget Arvino.
"Mau beresin sepatu, tuan." Ujarnya sambil memegang sepatu Arvi.
"Jangan.. aku bawa kamu kesini bukan untuk jadi pembantu."
"Tapi, tuan in--"
"Enggak ada tapi-tapian. Letakkan lagi sepatu itu disana." Sergah Arvino seraya telunjuknya menunjuk arah sepatunya untuk di turunkan.
Hasbiya cembrut, ia hanya berusaha melakukan apa yang biasa dilakukannya dengan mas Danu dulu.
"Bi.. bibi Siti." Panggil Arvi.
Seorang wanita paruh bayah keluar dari rumah tersebut. "Iya, tuan mau teh atau kopi."
"Tolong beresin semua ini. O..ya kamar atas untuk Hasbiya sudah beres." Ucap tegasnya bersender disofa.
"Sudah, Tuan. Non Lintang sudah tau, tuan." Tanya Bi Siti.
Bi Siti adalah kepercayaan dirumah ini. Arvino sudah menganggapnya seperti keluarganya. Arvino selalu terbuka hal apa pun pada bi Siti. Termasuk tentang Hasbiya.
"Belum. Besok pagi dia pulang. Saya akan beritahunya." Jawab Arvino.
"Hasbiya, ini Bi Siti. Dia sudah lama bekerja dengan keluarga saya. Dan supir tadi pagi Pak Agus, tukang kebun namanya ujang. Mereka semua tinggal disini bersama kita." Jelas Arvino.
Hasbiya tersenyum lebar pada bi Siti. "Saya Hasbiya." Ucapmya sambil mengulurkan tangannya.
"Enggak perlu formal." Arvi menepis tangan Hasbiya membuat wanita itu cembrut.
"Ya udah sana ke kamar kamu." Usir Arvi pada Hasbiya.
"Bi, urus perempuan ini." Kata Arvi pada Bi Siti.
Arvino pergi meninggalkan Hasbiya dengan muka masam wanita itu. Arvino tak perduli dengan kelakuan Hasbiya, ia memilih pergi ke kamarnya.
"Ayo, non. Bibi antar ke kamar." Ajak Bi Siti menaiki anak tangga.
"Bi, udah rumahnya besar ya. Bibi enggak takut gitu kalau tuan Arvi pergi." Oceh Hasbiya.
"Enggak, non."
"Bi, panggil nama aja. Lagi pula bibi lebih tua dari saya."
"Enggak berani Saya, non. Nanti tuan marah." Jawab Bibi membuka pintu kamar Hasbiya.
"Wah.. ini kamarnya, Bi. Besar bangeeeet." Antusias Hasbiya.
Bi Siti sampai terkekeh melihat tingkah konyol Hasbiya barusan. Jelas saja, Hasbiya benar-benar konyol. Dia melonjak kegirangan diranjangnya.
Malam hari Hasbiya sudah dikamarnya hanya menggunakan daster. Mungkin ini pertama kali ia membuka jilbabnya depan Arvino.
Rambut tergerai indah, harum vanilla pada rambut Hasbiya. Ia memang sangat cantik.
CEKLEK..
Arvino masuk kamar tersebut. Ia menelan liurnya melihat kecantikan Hasbiya yang sempurna, lelaki mana pun sulit menahannya. Apa dirinya mampu menahan untuk tetap berdiam diri.
Tatapannya tak lepas pada kecantikan Hasbiya. Ia benar-benar terpanah.
Hasbiya menoleh pada Arvi yang berada di ambang pintu kamarnya. "Tuan, kenapa berdiri disana." Tegur Hasbiya.
"Agh.. Tidak." Arvi menggeleng cepat. Ia berusaha menetralkan agar tak terpana pada Hasbiya.
Astaga kenapa wanita ini benar-benar cantik, ternyata hijab Hasbiya menyembunyikan kecantikannya selama ini.
Arvino pun masuk perlahan ke kamarnya, ia berharap bisa menahan dirinya.
"Hasbiya, aku tidur duluan besok harus metting pagi." Ucapnya lalu tidur diranjang itu.
Arvino berusaha berbohong, saat ini ia hanya merasa takut pada nafsunya sendiri.
Sedangkan Hasbiya masih mondar-mandir memberes barangnya. Ia sesekali melihat betapa tampannya suaminya.
"Masya Allah." Ucap kagumnya pada Arvi yang sudah tertidur lelap.
Hasbiya berpikir jika Arvi benar-benar tertidur. Ia membelai rambut dengan lembut. Dirinya sendiri tak tau kenapa merasa aneh.
"Tuan, tampan sekali. Tapi aneh kenapa tuan mau menikahi aku seorang janda."
Huft.. Hasbiya merasa ada suatu tidak beres dengan pernikahannya sendiri. Tapi apa dia tak tahu.
Tentu Hasbiya, jika saja ia mengetahui tentang rencana Arvi menikahinya untuk apa. Tentunya dia akan menolak keras pada Arvi.
"Ada apa." Arvi membuka matanya membuat Hasbiya terperanjat hingga terjatuh.
"Astagfirullah." Ucap Hasbiya dengan mata terbelalak.
'Ya Allah Kenapa tiba-tiba terbangun. Untung saja aku tidak jantungan.' batin Hasbiya.
Arvino terbahak melihat Hasbiya terperanjat. Ia duduk dengan tawanya.
"Bukannyaa nolongin, malah ketawa. Enggak ada yang lucu, tuan." Ketus Hasbiya.
"Makanya jangan ngomong sendiri. Aku tau kok ketampananku tidak ada tandingnya."
Oh Tidak..
Hasbiya menggigit bibir bawahnya karena malu atas perbuatannya sendiri. Wajah merona, ia menutupi dengan kedua tangannya.
"Hasbiya.. Hasbiya.. kamu tuh suka kebangetan." Ucap Arvi menggeleng.
"Tuan, sendiri kagetin saya. Nyebelin." Sergah Hasbiya.
"Aku mau keruangan kerja." Bangkit Arvi lalu membantu Hasbiya.
"Enggak jadi tidur."
"Enggak."
"Mau kopi." Tawar Hasbiya.
"Boleh. O ya.. berhenti memanggil aku sebutan tuan." Ucap Arvi berlalu pergi.
Hasbiya memasang jilbabnya lalu pergi ke dapur, ia membuat kopi untuk Arvino.
"Non, butuh suatu." Tanya Bi Siti.
"Enggak, Saya mau bikinin kopi."
"Untuk tuan Arvi." Tanya Bibi.
"Iya." Sahut Hasbiya.
"Ini kopinya dan gulanya. Jangan terlalu manis, tuan enggak suka." Ujar Bi Siti.
"Sepertinya tuan Arvi enggak salah pilih kali ini. Non Hasbiya berbeda dengan non Lintang."
Hasbiya mengeryit bingung dengan ucapan Bi Siti. Kenapa membedakan dirinya dengan Lintang.
"Siapa Lintang."
"Besok non Hasbiya akan tau."
***