Joe Dan Queen

3011 Kata
HARI Sabtu Ana datang lebih awal untuk melihat apakah Queen sudah menelepon Reyhan atau belum. Ternyata belum. Mereka menghabiskan sore itu adu nmulut tentang Reyhan dan lain-lain. Bahkan ibu Queen sampai tahu masalah mereka. "Queen apakah km sudah menelfon Reyhan untuk memberitahu bahwa surat itu bukan untuknya?" Ana bertanya. "Belum Ana" jawab Queen. "Kasihan Reyhan dia pasti berharap kau menyukainya" Ana sambil memengang kedua pundak Queen. "Aku tau itu Ana" sambil melepaskan tangan di kedua pundaknya "Aku tau apa yang harus aku lakukan Ana!" Sambung Queen. "Hingga sekarang kau tak memberitahu Reyhan bahwa itu surat bukan untuknya?" Ana tak mau kalah. "Hey! Biarkan aku yang mengurusnya Ana!" Jawab Queen kesal. "Kalian harus berhenti bertemu untuk sementara," Mom berkomentar setelah mendengar mereka berebut s**u kotak. "Kalian sedang gampang marah." Ana membiarkan Queen mendapatkan s**u kotak itu kemudian mengikuti Mrs. Chandler ke lorong. "Nasihati putri Anda itu," keluhnya. "Dia sangat menyebalkan sore ini." Queen tahu seharusnya ia tidak bersikap seperti itu, tapi ia marah karena Ana memaksanya terus. Akhirnya Queen bilang akan menelepon Reyhan. Tapi nanti, kalau ia sudah siap. Serelah Queen berjanji, Ana berhenti mempersalahkan Reyhan dan mengalihkan perhatian ke acara nanti malam. Dua sahabat itu bersiap-sIap dengan gembira. Meskipun acara malam ini hanya pertunjukan musik biasa di Atomic Café, mereka memutuskan untuk tampil gila-gilaan. Queen yang biasa memakai jins sobek-sobek malam itu menggantinya dengan stoking jaringjaring dan baby doll tipis warna hitam. la memadukannya dengan fiara gemerlap di atas rambut lurusnya yang berwarna merah keunguan. Ana mengusulkan agar Queen menggunakan sepatu hak tinggi. Tapi ia berkata, "Nggak mau. Terlalu feminin." Queen malah memilih sepatu Doc Martens hijau kesukaannya yang dihiasi fali warna pelangi. "Ini baru Cocok." Ana membawa koper penuh baju. Setelah mencoba beberapa pakaian dan aksesori akhirnya ia berkata, "Malam ini aku akan tampil supergaya." "Gaya" ala Ana adalah rok mini ketat, sepatu hak tinggi, dan sweter pas badan dari kasmir. Sweter dan rok mininya berwarna jingga tua, sangat cocok dengan kulitnya yang berwarna karamel. Mereka bersiap-siap hampir dua jam lamanya, sehingga nyaris terlambat lima belas menit ketika sampai di Atomic Café. Atomic Café terletak di gedung panjang yang rendah dekat jembatan layang. Gedung itu sendiri bekas tempat bermain boling, dicat hitam dan dihiasi lukisan planet-planet dan bintang-bintang warna kuning. merah muda, dan ungu terang. Tak seorang pun tahu siapa yang membuatnya. Lukisan dinding itu tiba-tiba saja ada, sama seperti yang terdapat di gedung-gedung sekitar Wheaton. Koran setempat membuat lelucon tentang ini dengan menamakan si pelukis misterius sebagai Art Attack. Ketika Queen membelokkan Jeep Wrangler kakaknya ke lapangan parkir, tempat itu sudah dipenuhi mobil, padahal baru pukul 20.15. Nick meminjamkan mobil kap terbuka itu padanya tadi sore. Mobil itu sendiri sudah berumur lima belas tahun, penuh karat, dan penyok-penyok. Tapi Queen sangat menyukainya. "Ah! Itu ada tempat kosong." kata Ana sambil menunjuk tempat di dekat jembatan layang. Andyn berdiri di tempat yang ia janjikan sebelumnya, yaitu di dekat papan reklame elektrik yang minggu itu penuh dengan nama-nama band. Seorang cowok tinggi, kurus, dan berambut pirang ala shaggy berdiri di sampingnya. "Itu pasti Brain Sutton, si Cowok Granola, gumam Ana ketika mereka memarkir Jeep dan cepat-cepat menuju kafe. la mengenakan kemeja linen polos, rompi wol longgar, celana panjang bertali, dan sandal Birkenstock. Sementara Andyn mengenakan terusan dengan blus linen polos sebagai dalaman dan sandal Birkenstock yang sesuai. Mereka kayak anak kembar," Ana berkomentar. Queen setuju tapi ia menyikut Ana dengan sikunya. "Kau harus baik padanya," bisik Queen. "Andyn sangat menyukai Brain." "Yah, nggak heran," jawab Ana. "Mereka kelihatan kayak Barbie dan Ken ala Woodstock." Tawa Queen meledak seperti dengusan, tapi ia segera menghentikannya. "Serius deh, Ana. Jangan jahat begitu ah!" "Maksudmu?" kata Ana. "Kayak aku ini beruang buas saja." "Kau lebih mirip hiu," sahut Queen. "Kasihan Reyhan, kau benar-benar jahat padanya kemarin." "Reyhan!?" Ana terenyak dan berhenti melangkah. "Aku nggak ngomong satu kata pun padanya." Queen memegang ujung hidungnya. "Tepat. Melihat padanya pun nggak." "Kok kau begitu sih? Ana mengangkat tangannya tinggi-tinggi tanda protes. "Aku berusaha menolong sahabatku, tapi dia malah mengataiku." Andyn mengawasi kedua sahabatnya adu mulut dari tangga depan Atomic Café. "Kalian mau masuk nggak," teriaknya," atau mau berdiri terus di sana dan bertengkar?" Siapa yang bertengkar?" jawab Ana sambil berjalan dengan gaya dibuat-buat ke arah Brain dan Andyn. "Kami hanya berbeda pendapat. Dan pendapatku benar, pendapat dia salah." Queen berlari melewati Ana untuk menghampin Brain dan berbisik dengan Suara keras, "Jangan dengarkan dia. Dia benar-benar sinting." Queen memutar jarinya di dekat kepala. "Maklum, mulai pikun.'" "Apa?" Ana melangkah ke depan Queen. "Tapi Miss Queen ini yang menang penghargaan Loony Toon. Brain yang tampaknya tipe cowok santai, tertawa melihat kelakuan aneh mereka. Andyn tampak bahagia. la melingkarkan tangannya di lengan Brain kemudian berkata, '"Brain, kenalkan dua sahabat karibku, Queen dan Ana." Brain menyalami mereka dan bicara pelan dalam logat Selatan yang lembut, "Senang berkenalan dengan kalian. Andyn pernah mengingatkanku tentang kalian, dan kayaknya dia benar." la mengerling pada Andyn. "Mereka memang sinting." Queen langsung menyukai cowok itu. la benar-benar cocok untuk Andyn. Queen melirik Ana yang mengangguk tanda setuju. Andyn dan Brain berjalan memasUki Atomic Café di depan Ana dan Queen. Mereka berhenti di depan kafe untuk membayar tiket masuk seharga lima dolar. Sambil menunggu Jojo Tukang pukul kafe yang berbadan tegap dan memiliki setengah saham termpat itu-untuk mencap tangannya, Queen memandang sekeliling. Hampir semua meja dipenuhi anak anak remaja dari Wheaton, Deerfield, dan Mt. AirY. Enam cowok duduk di meja dekat lantai dansa. Mereka mengobrol dan tertawa keras meningkahi suara musik. Andyn melihat mereka lebih dulu dan berkata, "Ya ampun, Kee-sha! Kau pasti nggak menyangka siapa yang ada di sini!" Ana mengintip dari belakang Andyn. "Bastian?" Andyn menunjuk dua cowok tegap pemain football Wheaton High. "Dia di sana, dengan R.J. dan Sam Lennox." Ana mengepalkan tinju dan mengentakkan satu kakinya. "Yes!" Ana bergoyang mengikuti suara musik sambil mendekat ke meja Bastian dengan menerobos keramaian. Queen yang mengikutinya berbisik, "Kupikir kau sudah melupakan Bastian karena dia mencampakkanmu." "Aku nggak bilang aku benar-benar sudah melupakan dia," protes Ana. "Dia selalu menyediakan meja untukku selama seminggu penuh di kelas CAD, tapi aku nggak memedulikannya. Jadi sekarang dia menyukaiku lagi." Kening Queen berkerut. "Kedengarannya kayak permainan saja." "Benar. Permainan cinta," kata Ana sambil mengentakkan kepala. '"Dan sekarang akU menang." Ana berjalan terus ke meja Bastian dan duduk di sana sambil sibuk menyapa. Queen bingung. la tidak ingin duduk di dekat Bastian dan Ana yang sedang berkompetisi dalam "permainan cinta". Queen melihat berkeliling: Andyn dan Brain sudah menemukan tempat di sudut yang gelap. Tubuh mereka saling merpat dengan kening bersentuhan, mengobrol mesra. Tiba-tiba Queen merasa jadi pengganggu jika ia bergabung dengan Andyn dan Brain. Dari pada duduk dengan kedua temannya itu, Queen memilih pergi ke bar makanan kecil dan menunggu pertunjukan musik dimulai. Tepat pukul 20.30 lampu sorot menyinari mikrofon di fengah panggung. Ketika JoJo naik ke panggung penonton bersorak-sorai riuh. "Kelihatannya malam ini penuh dengan band-band hebat," ia mengumumkan di mikrofon. "Dan penonton sangat ramai!" Sorak-sorai terdengar lagi dari penonton, terutama di meja Ana, Bastian, dan Lennox bersaudara. Ketika JoJo mengumumkan grup band yang akan tampil malam itu, sebuah figur berpakaian kulit duduk di Samping Queen. "Senang kau bisa datang." kata Joe dengan suara serak. Queen sangat terkejut. "Joe!" ia tersentak. "Aku nggak tahu kau ada di Sini. Maksudku, aku... aku tahu kau di sini," lanjut Queen tergagap, "tapi nggak di bar ini." Senyum perlahan merekah di bibir Joe. Seperti nya ia senang melihat Queen gugup. "Mungkin aku akan memainkan lagu In Your Eyes, lagu yang kita mainkan di kelas Mr. C. Bagaimana menurutmu?" Joe menatap Queen tajam dengan mata birunya. la tak pernah menatap Queen begitu lekat sebelumnya, dan itu bikin Queen semakin gugup. "Woah, keren banget," kata Queen sambil menyematkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya. "Aku suka harmoni yang kita masukkan ke bagian interlude. Charlie bisa menyanyikannya bersamamu?" "Kita lihat saja nanti," kata Joe sambil memesan sekaleng Red Bull dan sebotol air mineral. "Kalau dia nggak bisa, mungkin kau bisa menggantikannya." "Aku?" Adrenalin mengalir di tubuh Queen ketika ia membayangkan bermain di afas panggung dengan Joe dan Side Effects. la sudah lama memimpikan ini! "Aku mau!" kata Queen akhirnya. Joe menyentuh siku Queen. "Bagus. Sampai ketemu di panggung." Queen bertumpu santai di meja bar dan mengawasi Joe membawa minumannya ke belakang panggung. Ketika Joe sudah lenyap dari pandangan, Queen melompat-lompat kegirangan. la tidak sabar kepingin memberitahu teman-temannya. Queen menghabiskan sodanya dalam satu tegukan dan cepat-cepat kembali ke lantai dansa mencari Andyn dan Brain. la berlari ke barisan meja di dekat dinding tapi mereka sudah tak ada di sana. Queen berbalik dan cepat-cepat ke meja Ana di dekat panggung dari tepat ketika grup band baru yang hebat dari Cincinnati, The Phreeze, mulai bermain. Ana dan Bastian berpegangan tangan, lalu segera menuju lantai dansa. Queen melihat mereka mengangguk-angguk dan bergoyang mengikuti musik. Ana penari andal dan Bastian tahu itu. Ini bukan saat yang tepat untuk mengganggu mereka dengan kabar baik yang ingin ia ceritakan. Queen terduduk di kursi kosong terdekat. Siapa yang bisa ia beritahu tentang hal inie Wajah Reyhan tiba-tiba terbayang. la ingat bagaimana mata cokelat Reyhan menatapnya ketika ia bicara. Mata itu hangat, penuh pengertian, dan terbuka. Mungkin ia bisa meneleponnya! Queen berdiri. Kenapa nggak? la berutang maaf pada Reyhan dan mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahunya. Kabar baik dan kabar buruk sekaligus. Queen mengeluarkan HP dari tasnya dan pergi ke lapangan parkir untuk menelepon. Pertama-tama ia harus menelepon bagian informasi. la tidak tahu nama ibu Reyhan, tapi yang pasti Tak banyak orang bernama Lockhart di Wheaton. Petugas informasi memberinya nomor yang ia minta, dan ia memutar nomor tersebut. Suara cowok yang menjawab. "Kau meneleponku? "Reyhan? Ini aku, Queen," katanya, mencoba bicara mengalahkan suara musik yang terdengar sampai ke lapangan parkir. "Ya, aku tahu," jawab Reyhan. "Aku punya mesin pendeteksi nomor telepon. Siapa lagi yang bakal meneleponku dari HP?" Tiba-tiba Queen merasa nggak enak dan lupa tujuannya menelepon Reyhan. Tidak seharusnya ia memberi Reyhan harapan seperti ini. "Aku tahu kau masih di sana," kata Reyhan akhirnya. "Aku bisa mendengar napasmu." Perkataan Reyhan bikin Queen tertawa. Kemudian ia berkata, "Aku kepingin minta maaf atas kejadian kemarin sore." "Kenapa?" tanya Reyhan. "Aku senang kemarin." "Aku juga," Queen meyakinkannya. "Hanya saja, waktu kita kembali ke Harpo dan bertemu Ana, suasana jadi nggak enak dan aku lupa mengucapkan goodbye." "Karena itu kau menelepon?" tanya Reyhan. "Untuk mengucapkan goodbye?" Queen menggeleng sambil cekikikan. "Reyhan, kau ltu lucu banget. Sebenarnya alasanku meneleponmu adalah aku baru tahu bahwa aku akan bermain bersama Side Effects malam ini di Afomic Café, dan aku kepingin memberitahumu kabar baik ini." "Selamat ya!" Reyhan terdengar benar-benar senang. "Kau mau aku datang untuk memberimu semangat?" "Nggak!" teriak Queen, sedikit terlalu keras. "Oke, aku nggak akan datang." kata Reyhan segera. Queen tahu Reyhan nggak boleh datang ke Atomic Café karena teman-temannya nggak akan mengerti dan ia takut Ana akan bersikap kasar lagi. Lagi pula bisa berakibat buruk pada hubungannya dengan Joe kelak. Tapi ia nggak bisa memberitahu alasan-alasan itu kepada Reyhan. Queen berusaha mencari alasan. "Aku takut jadi gugup. kalau kau menonton," katanya sedikit berbohong. "Dulu ibuku punya perasaan seperti kau," Reyhan tertawa. "Tapi aku sudah berhenti berlari-lari di antara barisan kursi saat aku berumur enam tahun. Aku janji akan tetap duduk di kursiku sepanjang malam." Sesaat Queen berpikir akan sangat menyenangkan jika ada Reyhan di sini. Tapi ia belum yakin bagaimana perasaannya kepada Joe. "Jangan," katanya tegas. "Jangan dulu." "Mungkin aku harus nonton konser tunggalmu saja," kata Reyhan sambil menghela napas. "Bagaimana kalau kita piknik besok? Aku yang mengurus makan siangnya dan kau musiknya. "Wah, kayaknya asyik tuh," jawab Queen tanpa ragu-ragu. "Aku akan menjemputmu," kata Reyhan. "Dan kalau kau nggak keberatan, aku kepingin mengenal kan beberapa teman pReyhanu." "Lho, kupikir ini konser tunggal?" canda Queen. "Jangan khawatir," kata Reyhan. "Aku sangat percaya pada mereka. Kau juga." Perkataan Reyhan terdengar sangat misterius dan menarik. Queen ingin bertanya lebih banyak tapi suara JoJo terdengar dari pengeras suara. "Terima kasih, teman-teman. Itu tadi penampilan dari The Phreeze. Sekarang ayo kita bergoyang karena grup band berikut ini benar-benar bisa mengguncang kalian. Mari kita sambut grup band dari Wheaton High, siapa lagi kalau bukan... Side Effects!" Tepuk tangan penonton dari dalam klub sangat keras sehingga Queen tidak bisa mendengar Reyhan. la menutup telinganya dan berteriak ke corong telepon, "Maaf, Reyhan, aku harus pergi sekarang. Side Effects baru saja naik panggung." "Semoga sukses!" teriak Reyhan di telepon. Queen tidak mendengarnya. "Apa? "Semoga sukses!" kata Reyhan. "Aku senang nggak ikut nonton, karena mungkin sekali aku bakal berlari-lari sambil bersorak-sorak." Queen cepat-cepat memberi nomor telepon dan alamat rumahnya kepada Reyhan supaya ia bisa menjemputnya besok untuk berpiknik. Setelah itu Queen masuk kembali ke dalam Atomic Café. Joe sedang di depan mikrofon, memainkan melodi lagu grup band-nya, Big Trouble Ahead. la melihat Queen ketika cewek itu berdiri di tengah bagian belakang dan mengangguk. Queen melambai. Kemudian Joe menyanyikan lirik pembuka: "Suatu hari di musim panas aku dikejutkan, Wanita berbaju merah sedang menatapku. Darah mulai mengalir ke kepalaku, Seharusnya aku menghindari si wanita berbaju merah." Ketika Mac Holloway-si pemain drum-memukul drumnya dengan entakan keras, Andyn tiba-tiba muncul di samping Queen. "Aku lihat cara lephyr menatapmu," katanya, menggunakan kedua tangannya sebagai corong di telinga Queen. Seperti apa?" tanya Queen polos. "Kau tahulah," Andyn berusaha mengalahkan suaramusik. "Tatapan yang bermakna: Kaulah yang kutunggu-tunggu. Lagu ini untukmu." Queen tertawa. "Andyn, Joe melihatku masuk dan dia mengangguk ke arahku. Hanya itu." "He-eh," kata Andyn sok tahu. Kemudian Joe kembali ke depan mikrofon dan menyanyikan refrain Big Trouble Ahead. "Woo, teman, ada masalah di hadapanmu Lebih baik kau mundur saja, dia akan memengaruhimu. Dia akan mempermainkan hatimu, dan menmbuatmu kepingin mati, Jauhkan dirimu, jauhkan dirimu dari wanita berbaju merah." la menyambar mikrofon dan-sambil membungkuk ke depan-menyanyikan lagu ke arah Queen. Ketika Andyn melihat ini, ia menjerit senang dan menyikut rusuk Queen dengan sikunya berulang-ulang. "Hentikan," desis Queen dari ujung mulutnya. Di sekelilingnya orang-orang menoleh untuk melihat kepada siapa lagu itu ditujukan Joe. Queen berusaha tetap tenang, tapi ia tahu wajahnya memerah. Ketika lagu itu berakhir Queen bertepuk tangan penuh semangat. Andyn melompat-lompat sambil bersorak. Tak lama kemudian Ana bergabung dan ikut menyikut-nyikut Queen. "Aku lihat," godanya. "Miss, Joe suka pReyhanu!" Queen mendekap rusuknya yang sakit. Sepertinya ia nggak bakal tahan menahan "dukungan" dari teman-temannya itu. "Kalian tenang dong!" katanya. "Kita sudah kayak gerombolan penggemarnya berat Joe saja!" Mulut Ana ternganga. "Mungkin tingkah Andyn bisa dibilang sinting, tapi aku nggak. Aku selalu superkalem." la menjentikkan jari-jarinya. Tawa Queen meledak. "Nggak ada dari kita yang bisa bersikap tenang, Ana. Andyn cekikikan terus sepanjang malam gara-gara Brain, Dan aku yakin kau pun tergila-gila pada Bastian." Ana berkacak pinggang. siap membalas Queen, tapi suara Joe memotongnya. "Hai, Queen Chandler." Queen melihat ke atas panggung ketika Joe menunjuknya. Kemudian cowok itu bertanya, "Maukah kau naik ke sini dan bernyanyi bersama kami untuk lagu berikut?" Ketika sadar orang-orang menatap mereka, Ana dan Andyn memasang senyum palsu di wajah masing-masing sambil melambai. Queen meremas tangan mereka dan bergumam, "Doakan aku." Masih sambil tersenyum Ana balas bergumam, "Oke. Tapi kau nggak memerlukannya." Queen berlari menuju panggung. Selama beberapa detik bayangan Reyhan yang masih berumur enam tahun dan memakai topi berkelebat di benaknya. Itu membuat Queen tertawa sehingga otot perutnya yang tegang jadi lemas. Ketika ia sampai di tepi panggung Joe mengulurkan tangan dan menariknya. "Kau siap?" gumam Joe ketika Charlie menyodorkan gitar kedua Joe kepada Queen. "Harus," Queen tertawa sambil menggosok-gosokkan jemarinya di leher gitar sebagai pemanasan. la mengangguk kepada Joe yang segera mengumumkan lagu berikut kepada penonton. "Ini lagu lama dengan aransemen baru. Aku dan Queen berharap kalian suka." Warna lampu-lampu berubah, dan mereka berbagi satu mikrofon di bawah cahaya biru berbentuk lingkaran. Ketika Joe mulai memainkan gitar, semua rasa takut lenyap dari diri Queen seperti air yang mengalir keluar dari selokan. Di sinilah dunianya. Di atas panggung, bermain musik. Kemudian mereka mulai bernyanyi bersama. Queen memang pernah bernyanyi bersama Joe di kelas, tapi tak pernah berlatih dengan Joe untuk pertunjukan itu. Tapi hasilnya luar biasa, seolah dua suara itu berasal dari satu sumber. Secara naluriah Queen sepertinya mengerti kapan Joe akan berhenti untuk mengambil napas, kapan Joe akan mengambil nada tingg-ia memberi sentuhan harmonis pada permainan gitar Joe dengan sempurna. Mereka menyanyikan lirik terakhir berhoadap-hadapan, saling menatap mata masing-masing: "In your eyes, in your eyes, Oh, I want to be that complete, I want to touch the light, The heatI see in your eyes." Awalnya penonton terdiam. Kemudian mereka mulai bertepuk tangan-tepuk tangan yang membahana sampai memekakkan telinga. Mata Joe bersinar-sinar saat ia meraih tangan Queen dan mengangkatnya tinggi-tinggi di udara, seperti petinju yang menang di arena. Queen tersenyum sangat lebar sampai-sampai khawatir pipinya bakal sobek. Tepuk tangan masih terus terdengar. Queen menatap Joe dan berkata tanpa suara, "Trims." Joe tertawa keras. Kemudian mereka membungkuk lagi ke arah penonton. Malam itu adalah malam paling berkesan dalam hidup Queen. "Diminum Queen" Joe memberi air untuk melepas dahaga setelah bernyanyi tadi. "Terima kasih Joe" Ucap Queen. "Suara mu indah sekali tadi Queen, aku tak menyangka bahwa kita bisa menyanyikan lagu itu dengan sangat indah" ucap Joe pada Queen. "Terima kasih Joe, Aku sangat senang sekali bisa tampil dengan band kalian yang keren" setelah Queen meminum air yang diberi Joe. "Kami sangat senang juga Kau bisa bermain dengan band kami" jawab Joe "Apakah kau ingin bergabung dengan band kami Queen?" Sambung Joe. "Bukannya Queen menolak untuk bergabung dengan band Site Effects tapi aku bikir pikir dulu untuk ini" Queen tidak menolak atau menerima untuk ia bergabung ke dalam band Site Effects dengan halus kepada joe. "Baiklah, kau mungkin butuh waktu" Joe membalas dengan senyuman. "Joe, aku pulang duluan ya" Queen melihat jam pukul 11.00 malam " sampai ketemu lagi Joe" Queen berpamitan pada Joe. "Ayok! Ana, Andyn kita pulang" "Bastian, aku pulang dulu, sampai bertemu besok" Ana berpamitan pulang pada Bastian. "Brain, aku juga pulang, sampai ketemu besok" Andyn pada Brain. Sesampainya dirumah Queen tampak lelah ia memutuskan untuk tidur, tapi entah kenapa ia tak bisa tidur. "Ada apa denganku" gumamnya kesal. Ia meliahat jam dinding "sudah jam 12 malam kenapa tidak bisa tidur" ia bangkit dari sofa dan memutuskan untuk melanjutkan membuat lagunya, dan merecord untuk lomba The Battle Of Bands. Tanpa sadar ia sudah menyelesaikannya dan bergumam "saatnya tidur, aku sunggu lelah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN