Rencana Damian yang tiba-tiba, membuat Tomi tak habis pikir, lelaki itu cepat sekali berubah pikiran membuatnya geleng kepala.
“Tiga hari, mereka akan kemana selama tiga hari itu? Tidak mungkin untuk keluar kota, mereka hanya akan lelah di perjalanan,” pikirnya.
“Lalu, mereka akan kemana?” ucapnya meracau.
Suara pintu di ketuk dari luar, mengagetkan Tomi yang sedari tadi sibuk sendirian.
“Masuk,” ucapnya dan kembali menatap ponselnya.
Photo wisuda antara dirinya dan Manda terpampang sebagai wallpaper di sana.
“Makan siang bareng, yuk,” ucap Manda dari balik pintu.
Tomi mendongak tak menyangka.
“Lu ngajak gua?” ucapnya tidak langsung mengiyakan.
“Iyalah, emang di sini selain lu siapa lagi, Tom?” Amanda terkekeh dan Tomi terpukau di buatnya.
“Bukan gitu, tapi lo yakin mau makan sama gua? Damian gimana?”
Amanda memutar bola mata dengan malas.
“Dia lagi gila kerja setelah naik jabatan. Katanya dia akan menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum benar-benar liburan, jatah off berapa hari tambah cuti cuman sehari lah. Jadi ya, walau sehari dia berusaha keras agar Bapak Tomi tidak kewalahan selama kami berduaan.”
Tomi memalingkan wajah. Tiba-tiba udara begitu sesak membelenggunya.
“Diem deh, lama-lama gua muntah kalau dengerin lo ngomong terus.”
“Yee, sialan lo. Ya udah kalau nggak mau makan bareng awas aja kalau ntar lo ngajakin.”
Amanda berlalu dengan tampang bête. Tomi tidak bisa mengabaikannya dan segera menyusul.
Ya, ada saatnya mereka begitu saling menghormati dan ada saatnya mereka saling dalam mode nyaman. Saling bercanda sesuka hati.
“Manda!” panggil Tomi. Lelaki itu mengejar tapi ternyata sahabatnya itu telah berjalan jauh keluar dari kantor.
Manda telah tiba di Café di ujung jalan, wanita itu telah memesan makanan dan tidak memperdulikan Tomi yang terus memanggilnya dari tadi.
“Gila, lu budek juga ternyata.” Tomi menarik kursi dan duduk di hadapannya.
“Mba, pesen seperti biasa, ya,” ucap lelaki itu santai.
Cafe itu adalah tempat favorit mereka, selain dekat. Menu yang di hidangkan merupakan makanan favorit keduanya.
“Baik, Mas.”
Manda sibuk memainkan ponselnya dan mengacuhkan keberadaan lelaki itu. Ya, dia membalas Tomi dengan cara yang sama.
“Oke deh, sorry. Gua bawah kabar penting nih buat lo, mau denger, nggak?” Tom membujuk.
“Apa?” Manda menatapnya sesaat lalu kembali fokus ke ponselnya.
“Gua denger nyokab lo lagi mencari tahu asal-asul siapa Damian sebenarnya, lo udah tahu belom?”
Pembicaraan itu mencuri perhatian Amanda.
“Jangan ngarang! Tahu dari mana?”
“Dari seseorang yang dapat di percaya, sebaiknya lo berhati-hati atau nggak jujur saja sama tante Soya.”
Manda menggeleng tidak setuju.
“Semalam sih Mama memang bersikap aneh, tapi saat kami menemuinya tadi pagi semuanya baik-baik saja. Gua nggak mau berpikir ke sana, Tom. Gue dan Damian merasa bahagia, kedua orangtua gue juga menghormati Damian layaknya keluarga. Tidak ada yang bisa menceritakan siapa Damian selain anak-anak kantor ke byokab gue. Jadi, semuanya akan aman-aman saja."
“Ya, gua kan cuman ngingetin. Lagi pula lo dan Damian bentar lagi liburan.”
“Thank you, Tom. Lo sudah baik banget sampai memanjakan kami dengan cuti tambahan ini."
Manda begitu tulus mengungkapkannya.
"Iye, bawel. Asal lo kenyang cinta aja, awas aja kalau lo pulang-pulang mewek."
Manda tersenyum. Walau Tomi jutek dia tetap peduli.
**
Waktu yang di nanti akhirnya tiba, Manda mengemas pakaiannya dan bersiap menunggu Damian.
"Dam, kamu udah ngomong sama ibu dan ayah?"
"Soal?" Damian baru saja keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya.
"Soal liburan kita kan? Katanya mau berlibur."
"Hahahha," tawa Damian terurai. Dia baru saja mengeringkan rambutnya yang basah.
"Liburan kita di rumah saja, emang mau kemana lagi?"
Amanda tertegun mendengarnya. Harapannya berubah semu.
"Tapi, bukannya kemarin kamu bilangnya sama Tomi."
"Iya, nggak ada yang salah kan. Liburannya di rumah saja. Libur kerja. Emang kamu mikirnya kemana?"
Manda mendadak bete, berharap terlalu jauh pada suami yang kurang peka.
"Hari ini kita akan mencari kontrakan, kita harus mandiri."
Wajah Amanda berubah pucat.
"Tapi, Mama nggak akan setuju. Kenapa tiba-tiba mau ngontrak, dan rumah kontrakan yang kamu maksud seperti apa, Dam?"
"Bawel, ya. Mending ikut aja. Ibu dan Ayah nggak masalah kalau kita kontrak, justru itu lebih baik karena kita nggak merepotkan orang tua. Ayo ikut denganku. Aku melihat beberapa iklan di jalan, aku sedang menentukan pilihan antara mengontrak atau menyicil rumah."
Menjadi sederhana membuat Amanda sering kelimpungan. Damian tidak memberi waktu untuk berpikir dan memutuskan sendiri saat itu juga.
"Kenapa?" tanya lelaki itu.
"Nggak."
"Kamu nggak setuju? Lokasinya deket dengan kantor lo, perumahan cukup mahal sih menurut aku. Tapi, untuk tuan putri aku rasa tidak mengapa."
Damian menyerahkan flayer yang dia dapatkan.
"Ini, foto dan harga yang akan kita pilih."
Manda menggapainya dan melihat tampilan rumah itu dari depan. Menarik, walau tidak semewah rumah miliknya.
"Bagaimana?"
"Bagus, lalu ibu dan ayah bagaimana?" tanya Manda
"Mereka akan ikut dengan kita saat kreditnya selesai, nggak lucu kan kalau kita bggak mampu bayar terus di usir orangtua ikut sama kita. Jadi, nanti aku akan mengajak mereka saat rumahnya lunas."
Amanda meringis mendengarnya. Jangka waktu yang tertera di brosur begitu lama. Dia tak pernah menyangka suatu saat akan menghadapi masalah ini.
"Ayo, aku sudah membuat janji dengan orang perumahannya."
Amanda mengangguk dan mengikuti keputusan Damian. Mereka berpamitan pada Bu Restanti lalu keluar.
Sepanjang perjalanan, Damian dan Amanda sama-sama diam. Tidak ada pembicaraan yang berarti.
Lokasi yang dituju benar-benar dekat dengan kantor tempat mereka bekerja.
"Kita sudah sampai, ayo turun, Sayang."
Rumah hunian dengan dua kamar tidur, minimalis dengan ruang tamu dan dapur.
Amanda melihat rumah itu dari luar.
"Jangan lihat bentuknya, ini bukti keseriusan aku untuk membahagiakan kamu."
Amanda terharu dan memeluk suaminya. Amanda tahu betul kemampuan keuangan Damian, butuh keberanian untuk mengambil cicilan dengan angka besar seperti ini.
"Aku akan mengurus pembayarannya, kamu boleh masuk duluan."
Amanda mengangguk. Dia pun memasuki ruangan itu sendiri. Wanita itu terkejut saat melihat foto pernikahan mereka terpampang di ruang tengah.
"Surprise!!"
Damian dan kedua orangtuanya mengejutkan dari belakang. Mereka tersenyum melihat Amanda yang terharu. Rumah itu telah di isi dengan perabot, dari sofa dan meja, semuanya lengkap.
"Selamat datang di rumah kita, rumah yang aku siapkan sebelum menikah denganmu," ucap Damian.
Manda lagi-lagi terpukau di buatnya.
"Tadi, bukannya kamu bilang."
Damian menggeleng.
"Maaf, itu hanya kebohongan agar bisa memberimu kejutan."
Bu Restanti dan Pak Grandi sangat bangga pada putranya.